Sebenernya males buat ngeposin ini, tapi….
Senin kemarin saya ke kampus, walaupun sebenarnya tidak ada kuliah. Dan sangat kebetulan saya bertemu dengan teman yang sudah cukup lama nggak pernah kelihatan. Namanya A**** atau saya sebut A aja kali.
A : Fi eh Rukia…
Saya : Tumben muncul, kemana aja mas?
A : Kamu yang ga pernah muncul gitu
Pokoknya selama beberapa saat yang terjadi hanyalah percakapan biasa alias basa-basi karena sudah lama nggak ketemu, tapi…
A : Saya kok sering lihat kamu bareng sama R*** dan N*** ya?
Saya : Lah mereka kan sahabat saya, gimana to
A : kamu berteman sama orang kafir yang tidak percaya sama Allah. Pantesan. Kamu ikut-ikutan mereka tidak percaya Allah?
Saya : Astagfirullah, bicara yang bener mas. Sampe mati juga saya akan tetap percaya Allah dan islam.
A : Terus, kenapa berteman sama mereka?
Saya : nggak ada hubungannya saya berteman dengan mereka sama nggak percaya Allah. Lagian apa salahnya?
A : ya adalah hubungannya, lihat aja sekarang kamu nggak pernah mau jadi anggota rohis, dan nggak mau membela Allah dan islam.
Saya : Membela Allah dan islam? Dengan cara benci sama mereka? Wah saya nggak bisa mas, karena mereka nggak pernah ngapa-ngapain Allah dan islam.
A : itu kan sudah kamu perlihatkan kalau kamu ikut-ikutan kafir seperti mereka, kamu lebih membela mereka daripada islam.
Saya : Mas, saya punya cara sendiri bagaimana saya harus membela Allah dan juga islam. Saya lebih suka memperlihatkan bagaimana islam sebagai agama yang toleran kepada yang lain. Lagian Allah juga menyuruh kita hidup damai dan saling menghargai dengan sesama. Kalau ngikutin ucapan mas, berart saya harus benci juga sama semua tetangga saya yang notabene non muslim, dan apa mas tahu orang muslim di blok rumah saya cuma 2 keluarga dan nggak ada yang lain.
A : kamu takut? Kamu harusnya percaya Allah akan selalu sama kamu
Saya : takut? Sama siapa? Allah? Emang saya takut sama Allah. Kalo sama tetangga saya sih enggak, wong mereka nggak makan orang kok. Tapi yang saya mau tekankan bahwa kita seharusnya membuat islam sebagai agama yang cinta damai, menghargai orang lain, bukannya makin memperlihatkan islam sebagai agama keras dan memaksa. Kalau masalah mereka tidak percaya Allah atau kafir itu adalah urusan pribadinya dengan Allah, selama kita sudah memberitahu mereka dan kalau mereka nggak mau dengar ya udah. Bukannya di Allah pernah berfirman bahwa kalau kita nggak akan bisa meluruskan orang-orang kafir jika Allah sudah menutup hidayah bagi mereka.
A : kamu bahkan nggak hafal ayat itu, kamu baca Al-Quran kan?
Saya : Tiap hari selalu baca, tapi memang saya tidak hafal isi Al-Quran dengan baik. Tapi setidaknya saya tahu inti dari sebuah ayat di Al-Quran. Sudah mas, sudah malem saya mau pulang dulu. Assalammualaikum
A : Rukia… Kamu ini AGNOSTIK sekali…
Saya : terserah mas aja mo bilang saya apa, yang penting bagi saya selama mereka menghormati islam saya akan menghormati mereka. Perdebatan kayak gini nggak bakal ada akhirnya karena kita memang punya pandangan berbeda tentang cara membela Allah dan islam. *ngeloyor pergi*
Selama mo ke parkiran saya mikir saya agnostik??? Ngomong-ngomong agnostik tu apaan ya? ah besok aja cari di google.
Saya dapat jawaban dari SINI. Tapi kalau saya pikir agnostik itu ragu-ragu tentang adanya Tuhan. Tapi saya percaya Tuhan itu ada, yang mengatur segalanya karena saya selalu merasa kalau Allah dekat dan selalu bersama saya. Trus kalau kejadiannya seperti diatas apa bener saya agnostik? *bingung*


Efek ikutan jadi rohis kayak gitu ya?
Disini ga perlu jadi rohis untuk mulai membenci tetangga sendiri, sejak kecil2 sudah diajari isitilah kafir dan membenci teman-teman sendiri.
Heran, apa bagusnya sih ajaran kebencian itu. Ada ya di Qur’an?
Wah nyebelin tuh orang kayak begitu. Tapi kamu belum agnostik sepertinya. It takes quite a long way to really get there. Nyantai dulu ajah. Banyak yang masih perlu dipelajari.
@ Guh
wah, saya nggak tahu ya biz nggak pernah ikutan rohis sih. IMO itu kayaknya hanya sebagian manusia yang terlibat dalam rohis itu yang merasa punya ilmu agama lebih dari yang lain atau mungkin malah merasa sempurna. Mungkin ada juga yang tidak berpikiran seperti teman saya itu, tapi nggak berani menyampaikan pendapatnya. Ga tau kenapa, takut dicincang masal kali
Kayaknya nggak ada di Al-Quran tuh mas
tidak saya temukan
@ gentole
Iya mas nyebelin banget. Dulunya saya salut karena ilmu agama dia lebih baik dari saya. Tapi sekarang, nggak banget deh!
setujuuuu……..
Saya nggak merasa kok
Yang saya pahami, Mbak itu jelas bukan agnostik. Tidak ada agnostik yang menyatakan akan “percaya sampai mati”, sebab seorang agnostik, singkatnya, tidak tahu mana yang benar. Ada agnostik yang sifatnya sementara (“sedang mencari”), ada yang permanen (“manusia tidak akan menemukan jawabannya”).
Nah, yang membuat saya merinding adalah dua;
1. Kok bisa-bisanya bergaul dengan orang yang tidak sama agamanya jadi perbuatan yang questionable? Berarti ‘kan menyatakan bahwa untuk menjadi Muslim yang baik, mesti menghindari orang yang bukan Islam.
2. Kenapa “agnostik” (yang jelas Beliau tidak paham benar maknanya) dijadikan makian? Jargon “agnostik” di situ tidak dipakai pada konteksnya, sehingga besar kemungkinan di kepala Beliau, “agnostik” itu maksudnya “pokoknya jeleklah”.
Ego saya sebagai agnostik terluka — bayangkan apa jadinya kalau ada orang mencuri lalu diejek; “Kenapa mencuri? Dasar Islam!”
* * *
BTW, mbok itu temannya dibimbing — kayaknya Mbak lebih Islam dari dia, deh.
Kenapa nama saya kamu bintang-bintangin? Tulis aja ARMAN
Ternyata kamu lulusan SLTPK Santo Yoseph ya, pantes aja
nggak pernah diajarin islam dengan benar sih
@ K. geddoe
Iya tu sembarangan ngomong nggak tau artinya. cape de
@ Arman
nama kamu dibintang-bintangin supaya nggak ada yang tersinggung maksudnya, tapi kamu yang datang dan memperkenalkan diri
secara tidak sopanya udaIya emang saya lulusan santo yoseph mang napa, masalah buat anda? saya nggak peduli
mo tau lebih lengkap?
SD : SDN 11 Pedungan (bykan orang hindunya sampe saya hafal sama Gayatri Mantram)
SMP : SLTPK Santo Yoseph (Sekolah Katolik, Saya hafal banyak lagu pujian gereja, pernah nyaris kena baptis untung Allah baek sama saya dan menyelamatkan saya dari ketidaktahuan saya)
SMA : SMUN 1 Kuta Utara (sama kyk SD)
Kuliah : Anda tahu kan dmn
PUASSSS…..
Nggak apa-apa buat saya, mo sekolah disekolah kristen kek, hindu kek, budha kek, yang penting hati saya cuma buat Allah SWT.
Orang itu selalu melihat punggung orang lain lain tapi nggak pernah mau ngeliat punggung sendiri (nggak pake kaca lo). Emang islam yang diajarin ke anda islam yang bagaimana sih? Tersesat ya?
Lha…?
@ Arman
Halo Mas Arman, saya agnostik yang taat, dan dengan ini menolak Mbak Rukia dimasukkan ke dalam “agama” saya.
*baru baca*
Percakapan yang bikin masygul…
Lain kali kalo bisa jangan diladeni deh. Malah makin jadi nabi. Langsung saja ngeloyor mode on…
@ Arman
Halo Mas Arman, saya zionist yang kristen, dan dengan ini menyatakan bangga
jadi temennyamasuk blogrollnya Mbak Rukia.Heh?
temanmu yang fundamentalis, geddoe agnostik, si jensen zionis, saya liberal (tauk ah… anggep aja gitu)
, makin lengkaplah penderitaanmu, nak…
@Arman
Situ beneran yang diomongin?
Aduh mas, ya mbok ya nyadar, mbak Rukia ini melindungi identitas narasumber. Siapa tahu aib anda ini menghantui di saat anda nyari kerja entar, siapa tahu calon employer anda menolak anda karena mbaca posting ini.
Bukan agnostik kok
Saya sendiri ndak pernah tahu tentang agnostik, karena society yang terbesar dalam muslim sendiri menurut saya adalah yang sekuler dan yang renaissance…
Dan mungkin saya adalah termasuk yang renaissance itu, dimulai dari beberapa bulan silam setelah selama bertahun-tahun masuk ke dalam society sekuler.
Islam mengajarkan pada kita untuk menghormati orang yang beragama lain… cuma untuk hal-hal umum saja, bukan dalam masalah keyakinan. Dan tampaknya sikap yang ditunjukkan teman Rukia-chan di atas kurang baik, dan dia sepertinya belum benar2 mengerti gimana sikap Islam seharusnya pada umat beragama lain
Mengenai Rukia-chan sendiri saya salut. Seorang Muslim manapun meskipun dia tidak mendapatkan pendidikan Islam secara formal, apabila dia emang punya kemauan kuat untuk belajar, niscaya Allah azza wa jalla akan membantu untuk ber-Islam dengan baik
Dan saya rasa saya tidak banyak mendapatkan pelajaran berharga dari mata pelajaran Agama Islam baik di bangku sekolah maupun di bangku kuliah ini, saya justru mendapatkan ilmu yang bermanfaat saat ngaji bersama teman-teman di ma’had maupun secara online lewat kajian-kajian audio.
Ganbattene! Barakallahu fiyki (Semoga Allah memberkahimu)
–
The sea is huge. One day you’ll surely meet nakama who will protect you. There’s no such thing as being born into this world to be alone.
Buat Mas Arman
Ah, ini dilindungi namanya malah nggak mau…
Hohoho…
Saya ingin tahu Mas, diajarin Islam dengan benar itu apakah berarti menutup pergaulan dengan mereka yang non-muslim?
Apakah dengan tidak menjadi anggota rohis itu berarti bukan muslim yang baik?
Hebat…
Dengan melihat pergaulan seseorang, bisa langsung tahu kepercayaan orang. Sakti sekali…
***
Btw, saya heran, apa menjadi seorang muslim itu berarti harus membedakan teman berdasarkan agama? Rasanya kok kita menjadi eksklusif sekali…
Saya salut sama mbak Rukia yang bisa bertahan saat lingkungan sekitarnya banyak yang non-muslim. Lingkungan seperti ini, yang justru membuat kita semakin toleran memandang orang lain…
ikut2an memperkenalkan diri ke mas arman, ah…
nama saya joe, mas. saya ngaku islam tapi masih dipertuhankan sama adik2 kelas saya di kampus. bahkan salah satunya juga diklaim sebagai nabi bagi mereka. dan saya menikmatinya
dialog yang biasa terjadi di kampus dari jumat ke jumat:
kalo sudah kayak gini, saya ini agnostik atau malah murtad sekalian? bolehlah mas arman ta’sarankan supaya baca2 bukunya mustofa bisri terutama 3 buku terakhir yang saya beli: ‘membuka pintu langit’, ‘lukisan kaligrafi’, sama ‘mencari bening mata air’
@ rukia
mas armannya disuruh mbaca komen saya, dong
Mas Armannya kok nda muncul-muncul, ya.
@ All yang lagi nyariin Arman
Kelihatannya dia sudah bener2 lenyap dari bumi
*
*maksute opo to
Saya cari-cari dia di kampus nggak pernah kelihatan batang hidungnya, jadi ya gimana caranya nyuruh dia datang ke sini
Oh orangnya dateng toh. Waduh…
Ah, dimaafkan saja brother & sister…
Apalah sulitnya memafkan kesalahan seseorang?
Mungkin dia sudah sadar tentang hal ini.
Bukankah positif thinking adalah hal yang bisa mempengaruhi ketenangan hati?
^
Wah
Ustadmas Ghani dateng tohgimana da selesai tugas kampusnya
@ Gentole
Mana2 orangnya…..
*clingak-clinguk*
Sengaja untuk menebarkan kesejukan musim hujan tahun ini yang mungkin bisa membuat hati kita melupakan segala hal yang membuat ketenangan hati terusik…
Ah, hampir tiap malam di Surabaya hujan… indah sekali rasanya melihat embun-embun menempel di dedaunan di pagi yang dingin, saat berjalan pulang dari masjid menjelang pagi.
Membuat saya agak terlena dalam pengerjaan tugas PBPAM & PBPAB saat diketahui bahwa dikumpulkan tiga minggu lagi
mo kasi hadiah bwt mas arman.. cermin ama softener
Aku setuju sama mbak rukia…… Dulu aku juga sekolah di SD 11 pedungan……… Justru di saat sekarang ini kita harus tunjukkan pada dunia kalo islam cinta damai……… Betul tidak….???
Hmmm, ada postingan ttg Agnostik toh di sini rupanya.
* jantung selalu merasa seperti di hujam panah setiap kali mengetahui ada muslim yang di tuduh agostik atau orang yang mengakui dirinya agnostik*
Btw, yang penting kamu bukan seperti itu kan Rukia?
Kalo saya di gituin, yakin deh orang itu habis saya kata-katain. Hufff…
Tp, kalo saya boleh tahu, kenapa kamu gak sekolah di sekolah negri atau umum?
@ Ghani Arasyid
Saya nggak suka hujan mas, tapi suka wangi saat mau hujan dan setelah hujan, serta pelangi
@ Indista
Betul^^;;
btw, angkatan tahun berapa?
@ Snowie
ngg… kenapa ya…
Saya memutuskan masuk SMP ke SLTPK Santo Yoseph karena ngikutin kakak
*anak manja*
ah… agnostik..
dari artikel dan komen2 di atas, menurut saya tante rukia bukan agnostik kok *dijitak*
buat om arman, mungkin ada sedikit kesalahan sudut pandang ya, setau saya sih, Islam menyuruh supaya bergaul dengan baik kan, termasuk kepada orang lain yang bukan Islam.
lalu mengenai istilah “kafir”, itu kan berarti “orang yang tidak beragama Islam” arti sebenarnya menurut saya sih standar, tapi entah kenapa jadi cenderung diartikan negatif ya?
saya sih nggak suka men-judge orang secara langsung *cuman mbatin* soalnya saya takut kalo ternyata saya malah lebih buruk dari yang saya ‘judge’ itu *terbukti beberapa kali dan malah kena malu saia
*
eniwei, persahabatan itu indah, persahabatan itu sejuk, dan persahabatan itu hangat
CMIIW
Hehe…. Aq kira2 tahun 2003/2004, aq sekarang masih kelas 3 SMA kok…..
Kalau saya sih enggak pernah masuk sekolah kristen atau katolik. Saya selalu masuk sekolah negeri, tapi kalau seandainya tidak ada sekolah negeri yang mau nerima saya mungkin masuk sekolah kristen atau katolik.
wew,
kalo gue agnostik……(tipe sementara/BUKAN permanent)