Ada kejadian lucu hari sabtu kemarin, sehabis kajian, kami memutuskan untuk tidak langsung pulang tetapi mampir sebentar ke lapangan Niti Mandala Renon. Berniat untuk makan jagung bakar, tapi apa daya karena masih siang jadi dagang jagung bakarnya belum mulai jualan, terpaksalah akhirnya kami hanya duduk-duduk di pinggir lapangan sambil melihat anak-anak kecil yang berlarian asyik dengan permainan mereka. Lucunya, seorang anak menghampiri kami dan berkata, “Kak, mau main bersama kami?”, yang kami lakukan hanyalah saling berpandangan satu sama lain, kemudian saya menjawab, “Main apa?”, dan dengan polosnya si anak menjawab, “ ini”, seraya meunjukkan sebuah bola tenis dan beberapa pecahan genteng. Otak saya langsung mengalami “flash back” melihat barang yang dibawa si anak, walaupun sedikit tak yakin permainan apa yang ditawarkan si anak, apakah sama dengan yang ada di kepala saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk bertanya, “Ini buat main apa?”, dan si anak tadi pun mejawab, “Bola gebok”, tetap dengan wajah polosnya. Ternyata jawabannya sama dengan apa yang saya pikirkan dan akhirnya saya pun tersenyum.
Percakapan dengan anak itu saya potong sampai di sini aja ya, yang mau saya sampaikan adalah tentang permainan tradisional di tempat saya ini, yaitu “Bola Gebok”. Itu adalah nama yang saya tahu, entah apakah di belahan Indonesia yang lain apa namanya, dan apakah terdapat permainan seperti ini. “Bola Gebok” adalah salah satu permainan tradisional anak-anak yang terdapat di Indonesia, peralatan yang dipakai adalah sebuah bola tenis lapangan dan beberapa pecahan genteng atau batu (biasanya berjumlah 5-10 pecahan genteng/batu). Permainan ini terbilang kasar dan kurang beradab serta nggak cocok banget untuk mahluk manja yang bernama wanita™ . Mengapa saya katakan begitu? Ayo kita lihat cara mainnya :
1. Cari teman yang 5-8 orang.
2. Siapkan alatnya, yaitu bola tenis dan pecahan genteng atau batu (cari batu yang bisa ditumpuk tanpa jatuh).
3. Lakukan permainan “Hom pim pa” hingga ada satu pemain yang berbeda sendiri.
4. Pemain yang berbeda sendiri ini saya sebut dengan si A yang akan bertugas menyusun dan menjaga genteng dari teman-teman lainnya. Sedangkan anak-anak lain bertugas merobohkan susunan genteng yang sudah susah payah disusun oleh A.
5. Awalnya A akan menyusun genteng layaknya menara, kemudian anak-anak lainnya akan menghancurkan susunan genteng itu menggunakan bola tenis dari jarak 3-4 meter dari susunan genteng, setelah berhasil roboh, maka permainan resmi dimulai.
6. A akan menyusun kembali genteng dan menjaganya agar tidak dirobohkan oleh anak-anak yang lain. Caranya, dengan menggunakan “bola tenis” tadi. A akan melempar (meng-gebok) anak-anak yang berusaha mendekati susunan genteng. Mau lempar ke bagian badan sebelah manapun terserah asalkan bukan kepala.
7. Anak yang terkena lempar (gebok) akan menggantikan posisi A untuk menyusun dan menjaga genteng, sedang jika susunan genteng yang dijaga oleh A berhasil diruntuhkan, maka A akan tetap dalam posisinya sebagai penjaga. Dan begitu seterusnnya.
Sudah menemukan sisi kasar dan kurang beradabnya? Yup, bagian melempar bola ke teman. Dilempar bola tenis dengan semangat45™ sungguh sangat sakit dan anak yang kena lempar nggak boleh nangis, sehingga yang bisa dilakukan hanyalah merintih pelan
. Dan yang mau ikutan permainan ini juga nggak boleh takut kotor, kenapa? Karena biasanya bola yang digunakan untuk melempar akan mengalami tragedi “nyemplung got”, jadi alhasil bola tadi terbalur air got *yakzzz*
dan bola nggak akan diganti dengan yang baru, dan tentu saja tetap digunakan untuk ngelempar temen. Jadi saran saya kalau mau memainkan permainan ini, jangan pernah pakai baju baru atau baju yang baru keluar dari lemari, karena sudah bisa dipastikan pulangnya baju anda tersebut sudah nggak akan berbentuk lagi
. Permainan ini sudah kasar, kurang beradab, jorok pula
tapi sungguh menyenagkan
Saya sering main “Bola Gebok” bareng teman-teman dulu, sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar. Biasanya kami bermain sehabis pulang sekolah atau menjelang sore hari. Kalau teman-teman mengajak saya main menjelang sore (biasanya jam 15.00 wib), saya pasti kabur dari acara tidur siang yang sudah diatur ibu saya, dan pastinya ibu kelimpungan karena anaknya yang paling cantik manis pinter baik hati dan rajin menabung ini *narsis gila-gilaan* menghilang dari tempat tidur
dan bakalan ngamuk-ngamuk ketika melihat anaknya pulang dalam keadaan kotor, berantakan, dan bau pula
biasanya yang jadi sasaran amuk ibu saya ini adalah kakak saya
karena ngajakin saya main permainan kasar macam itu, padahal sih saya sendiri yang minta ikut (senangnya punya kakak laki-laki)
Karena kebiasaan sejak kecil main sama kakak dan teman-temannya yang notabene cowok, saya jadi dikira cowok ya sampai-sampai dikirimin email cinta sama cewek
Sebenarnya masih banyak permainan tradisional lain, tapi ini salah satu permainan yang paling seru dan kejam
apalagi kalau punya niat balas dendam. Selain memiliki sisi kasar, permainan “Bola Gebok” memiliki sisi baik pula, yaitu meningkatkan solidaritas ke sesama, mengajarkan anak-anak untuk tidak “apatis” terhadap lingkungan sekitarnya, dan tentu saja melatih kemampuan tangan untuk melempar secara tepat, siapa tahu aja ada yang punya cita-cita jadi pemain kasti atau sejenisnya
Setidaknya permainan “Bola Gebok” (permainan tradisional) lebih baik daripada permainan modern yang ada sekarang dalam hal membentuk karakter anak terhadap lingkungan. Anak-anak saat ini lebih suka duduk di depan tv untuk bermain PS, Nitendo, dll, atau di depan computer main game yang bersifat online maupun offline, bahkan memainkan permainan portable seperti GBA atau PSP. Anak-anak seperti ini menjadi lebih “apatis” terhadap lingkungannya, bahkan hingga tak mengenal tetangganya sendiri dan terkadang punya kebiasaan sedikit aneh, serta berkacamata dengan jumlah minus yang cukup besar
Padahal dengan memainkan permainan tradisional anak-anak bisa “down to earth” ke lingkungannya dan tentu saja mengurangi jumlah pengguna kacamata usia dini. Namun, terkadang orang tualah yang tidak mengijinkan anak-anaknya bermain permainan tradisional, kotorlah, nanti sakitlah dan banyak lagi alasan yang menurut saya tidak masuk akal. Padahal semua alasan itu, hanyalah efek kecil yang nyaris tak terlalu berpengaruh, karena permainan tradisional mengajarkan anak-anak untuk tidak takut kotor, tidak takut jijik, tidak cengeng, mengajarkan untuk bangkit lagi setelah jatuh, tetap berdiri tegak menghadapi tantangan alias nggak gampang nyerah, dan yang tak kalah penting adalah mengajarkan anak-anak untuk tidak “manja” dalam hidupnya. Rasanya apa yang didapat dari permainan tradisional baik bagi perkembangan mental anak.
Dan sore itu, kami hanya menyaksikan dari pinggir lapangan anak-anak yang bermain “Bola Gebok” dengan wajah sumringah. Melihat mereka tertawa riang membuat sedikit beban di pundak saya terasa hilang. Mungkin saya harus sering-sering main ke lapangan ini, dan menyaksikan tingkah polah anak-anak yang bermain dengan riangnya, tanpa merasa bahwa hidup ini penuh perjuangan. Tatapan polos anak-anak terhadap hidup yang mereka jalani membuat saya sedikit tenang. Terima kasih ya Allah, karena Engkau melangkahkan kakiku menuju tempat ini, dan menyaksikan anugrahMu yang begitu berarti buatku.



Yang bisa dipelajari sih, permainan tetap permainan. Dan permainan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama.
Jika dulu(sampai sekarang) ada bola gebok, maka sekarang ada online multiplayer. Esensinya sama, bermain bareng.
main bola gebok..!
saya benci banget, soalnya saya phobia bola..gara2 tiap olahraga waktu SD, kemanapun saya pergi, saya selalu kena timpuk bola! ya kasti, ya sepak bola! *sigh*
btw, saya suka maen bola bekel!
fufufu
*ga penting*
Kalo di kampung saya nun jauh di sumatera sana, namanya “pecah piring” . Dan ada pilihan bola segala, yang lembek sampai yang paling keras tersedia.
*ikut nostalgia*
@ dnial
Yup^^
Saya lebih suka Bola Gebok daripada Game Online
gak bisa main soalnya@ grace
Turut berduka cita atas kesialan yang menimpa dirimu wahai saudaraku
Haiyah… sama saya juga suka
Kapan-kapan kita main yuk grace
@ dana
Tapi nggak pake piring beneran kan kang?
*membayangkan bakal diuber-uber ma nyokap coz piringnya abiz dibuat main*
Silakan^^
*kasih kacang*
haha.. jadi inget masa SD
tapi ngga pake pecahan genteng, lebih ngga beradab karena asal main gebog aja
apalagi dulu pas masih pake baju seragam SD, jadi kalo kena gebok pas main di jam istirahat pasti ngecap sampe pelajaran terakhir
setuju ama komen esensinya dimainkan bersama
jadi ingat masa lalu juga. saya lupa apa nama permainan macam ini di tempat saya, tapi saya paling ingat bahwa yang membuat permainan tradisional ini ‘heboh’ adalah setelah bolanya nyemplung di got rumah teman saya… bolanya tidak dikeringkan, tapi langsung dipakai buat menyambit
maka yang jadi sasaran tembak langsung lari tunggang langgang pulang ke rumah
walah, saya kira ikut main juga. Hehehe, sekali-kali kan gpp maen. Hehehe.
Diriku juga dulu maen akayak gituan…
Lumayan jago lagi *huh.. sombong…..*
tapi banyak tuh temen2 cwe yang ikutan..
Seru loh…
Wadow
Panjang tapi masih lom kenal permainannya
Huehehehehehe
[thinks] masih mending dilempar bola tenis daripada dilempar pecahan gentengnya
oh, saya baru tau ada permainan ini. Taunya malah sepak tekong, mirip dengan bola gebok tapi minus bola tennis. Tidak kasar, tapi sempat ada anak yang “hilang” karena ngumpetnya kejauhan
aduh bu,… panjang amat bu….,
komen dulu ah..
*baca dulu*
*selesai baca*
ooo i know, kalo di medan kata orang tuh main batalion hehehhe, pake batu2 juga di susun cuma bolanya beda….
kalo di sini rata2 bolanya pake batu bulet ukuran sedang gak terlalu gede gak terlalu kecil…, trs tuh batu dibungkus kertas ama palastik berlapis2 sampe sebesar tenis trs diiket karet… baru main deh kalo kena tuh…,,, wooo sedap coi… sakit >.<
tapi mmg enak main begituan…, dulu blm canggih, jadinya main begitu aja, main guli/kelereng lah, main patok lele dll dah…
habis main, pasti keringatan dan sampe rumah dimarahin deh ama mami2 semua wakakakakak
err… d tempatku namanya apa ya… lupa
menaranya dari batu yg disusun dan ngerubuhinnya juga dilempar pakek batu
@ Arm
itulah sebabnya di sekolah saya nggak boleh main bola gebok, selain baju sekolah bakalan kotor, pelarangan juga disebabkan karena permainan ini bisa menghancurkan fasilitas sekolah
@ Lelouch Lamperouge
Yup^^ sama dengan di tempat saya
pulang?
kalo di tempat saya, besoknya nggak bakal diajak main lagi. Kalaupun diajak pasti bakal dikerjain dulu sampai nangis
@ Rian Xavier
Saya nggak ikutan karena sikonnya nggak mendukung buat ikutan main
@ aNGga Labyrinth™
Ah di tempat saya pun banyak cewek yang ikut, saya salah satunya
@ Agung Rahmatullah
silakan berkenalan^^ saya sudah kasih cara mainnya kan
dan rasakan sensasinya
@ TamaGO
saya sih mending dilempar sama pecahan gentengnya, secara pecahan gentengnya nggak besar-besar amat. Kalau bola tenisnya…. sakit euy, sampai ninggalin jejak di kulit
@ Takodok!
Silakan coba kalau begitu^^
Saya juga tahu permainan ini *sering main* dan memang tidak kasar karena seperti “hide and seek”
Sama juga, salah satu temen saya hilang waktu main sepak tekong dan baru ditemukan keesokan harinya di bawah pohon pisang di kebun milik warga. Menurut orang-orang sih dia disembunyiin sama “wewe gombel” tapi untungnya sih ketemu.
@ Novi~Atrix
Yup^^
Sama^^ saya juga selalu dimarahin kalau habis main ini
Alasannya selalu sama “Anak perempuan itu nggak boleh main kayak begitu” padahal kan saya seneng
@ andyan
Kalau yang ini sih di tempat saya namanya sepak tekong
mainan masa laluku juga… sepak tekong
owh, namanya sepak tekong ya
klo permainan yang lempar batu juga, tugasnya ngerubuhin batunya lawan, pemainnya dibagi 2 tim, tiap tim maennya giliran
tu namanya apa?
mainan apa itu? sama mama dan papa saya ndak boleh maen yang kampungan gitu, nanti bisa infeksi!
*ditimpukin genteng*
hmm… lapangan Renon, bagus sekali
waktu kecil saya lebih suka main permainan yang individual, video game…
tapi ada juga sih yang berkelompok, paling sering petak umpet