Ada sebuah kejadian yang kebetulan saya lihat di televisi yang mempertontonkan kesenjangan sosial antara kehidupan si kaya dan si miskin. Ketika rakyat miskin sibuk mengantri BLT, rakyat yang memiliki kemampuan lebih justru sibuk mengantri untuk membeli sepatu impor. Namun, bukan hanya karena berita itu saja yang menyebabkan saya ingin menulis. Hari ini, seorang teman dengan sangat senangnya bercerita pada saya tentang kegiatan perburuannya
A : ”Rukia, tadi aku beli ini” (seraya menunjukkan sepasang sepatu Rotelli dan kacamata Oakley)
Saya : ”Lah buat apa kamu beli sepatu dan kacamata lagi? Bukannya kamu sudah punya selemari barang-barang kayak gitu”
A : ”Tapi ini model baru trus lucu lagi”
Saya : ”Habis berapa?”
A : ”Murah kok, tadi lagi ada diskon, cuma 1,7 aja” (menjawab dengan wajah polos)
Saya : …..
Entah kenapa banyak orang yang senang menghambur-hamburkan uangnya hanya untuk membeli barang-barang seperti ini, yang menurut saya bukanlah termasuk barang penting dan mendesak. Konsumtif bukan sifat terpuji yang harus dibudidayakan, justru harus diberantas. Sifat ini membuat semakin dalamnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, membuat individu semakin tidak peduli dengan sekitarnya.
Sebenarnya tidak ada larangan untuk berbelanja dan bersenang-senang, tapi, janganlah melakukan semua itu secara berlebihan. Setiap kegiatan sebaiknya menggunakan skala prioritas, memilih mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa ditunda atau bahkan tidak diperlukan. Mungkin bagi sebagian orang mengeluarkan uang 1,7 juta untuk membeli sepatu adalah perkara mudah, tapi ingatlah, di luar sana masih banyak orang yang jauh lebih membutuhkan yang bahkan untuk makan saja mereka harus bersusah payah dan sambil berpikir ”besok masih bisa makan atau nggak”. Seandainya seluruh orang kaya di negeri ini sadar dan peduli dengan keberadaan orang-orang yang keadaannya tidak seberuntung mereka, mungkin kemiskinan di negeri ini bisa diatasi. Dan pemerintah akan sedikit terbantu dalam upayanya mengatasi kemiskinan.
Sedih itulah yang saya rasakan, ketika melihat anak-anak yang seharusnya sekolah malah berkeliaran di jalan, entah itu berjualan, mengamen, atau mengemis, melihat orang-orang yang sibuk mengais-ngais sampah demi memperoleh sesuap nasi untuk dirinya dan keluarganya. Di sisi lain, saya juga menyaksikan segerombolan manusia yang sibuk mengerumi gedung-gedung penjual berbagai jenis barang yang harganya bisa dikatakan ”wah”, mereka seperti semut yang mengerumi gula dan seolah lupa dengan segala hal yang terjadi di luar gedung itu. Sikap tangan di atas tidak akan membuat kita jatuh miskin, justru akan menyempitkan jurang pemisah antara dua komunitas itu.
Semoga tulisan nggak penting ini bisa membuat kita sedikit berpikir untuk lebih peduli pada orang-orang di sekitar kita.



iya, aq liat koran JAWAPOS hari ini ada perbedaan yang mencolok di Headline nya.
Di Jakarta orang antri untuk beli berlian yang lagi DISKON, sedangkan di PURBALINGGA orang ANTREE untuk pencairan dana BLT
Semoga kelak.. rakyat indonesia sejahtera… jadi bisa pada belanja buat nyukupi kebutuhannya masing-masing
Semoga kita tidak termasuk orang orang yang Tabdzir.
padhal dunia ini lagi krisis… tpi mereka yang berduit tetap aja cuek,tidak peduli dan menylamatkan diri mereka sendiri..
mereka gk tau,,pada harta yg mreka miliki ada hak orang lain..
Yups… bener, diriku setuju
kepentingan lebih dari keinginan harusnya
tapi harus dilihat dulu tujuan nya mungkin
ada loh orang yang emang kerjaan nya ya beli2 kayak gitu
prestise dan review
Konsumsi meningkatkan produksi bukan?
Konsumsi itu mendorong ekonomi berputar.
needs atau wants? kadang kita masih tak bisa membedakannya, kan? apa yang sudah menjadi kebutuhan, apa yang menjadi keinginan.
keinginan itu ga ada batasnya, jadilah konsumtif merajalela.
cobalah ke bandung grace…tak ada duanya gaya hidup konsumtif disini. biar dikata sedang krisis global, kerjaan susah, pengangguran bertambah, kemiskinan bertambah, tapi pusat2 perbelanjaan tetep sesak hanya utk memuaskan dahaga belanja fashion yang up to date..
@ LuXsmaN
ya itulah sebagian potret kehidupan di Indonesia, yang kaya makin kaya, yang miskin tetap (makin ?) miskin
@ ceznez
Amin
@ Fahmi
tau atau tidak, seharusnya ada sedikit rasa peduli dengan sesama
@ geulist133
semoga^^
@ aNGga Labyrinth™
prestise? haruskah?
@ dnial
Yup memang benar. Tapi, haruskah melakukannya dengan berlebihan?
@ Emina
Sebenarnya tak terlalu sulit untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, itulah mengapa perlunya skala prioritas untuk mendaftar apa-apa saja barang/sesuatu yang benar-benar kita butuhkan karena skala prioritas bisa membuat kita tau mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan. Ada hal2 yang penting namun tidak mendesak, mendesak, tidak penting, dll. Dan biasanya keinginan hanya didasarkan pada penyakit “Lapar mata”
btw mbak, saya Rukia bukan Grace
*dilupakan
*
*nangis dipojokan*
Ah ga cuma di Bandung aja kok mbak, di sini pun begitu, nggak ada sejarahnya pusat perbelanjaan di sini sepi kecuali kalo lagi nyepi aja
Mungkin karena tidak merasakan susahnya mencari uang.
@ mbak mina :
Nganu,ini punya nya mbak rukia..bukan sayah..apa gaya penulisan nya mirip ya?:p
@mbak rukiyah :
Jangan nangis di pojokan..ntar ada yang liat malu lho..
sah-sah saja membelanjakan duit buat apapun, wong hasil nyari sendiri kok, mosok ndak boleh menikmati. hanya saja harus inget kalo sebagian hartanya itu merupakan hak orang laen, jangan lupa dikasih, plus ditimbang rasa, pantes ato ndak dilakukan dengan berbagai macem pertimbangan.
kalo menurut sampeyan belanja belanji seperti itu sudah pantas sampeyan lakukan ya sudah, monggo…
^setuju ama komen di atas
IMHO, dia mau belanja apa aja ya terserah mereka, duit duit mereka juga *asal halal lho*
yg kurang pantas mungkin ya menunjukkan (ato pamer)nya itu, sementara orang yg dipamerin belom tentu senang
*jadi inget tumpukan koleksi komik
*
Menurut Mbak Rukia, gimana caranya?
.
Kecerdasan Finansial.
ironis ya…
masih banyak yang belum paham, yang mana ‘keinginan’ dan mana ‘kebutuhan’.
setuju sekali mbak,,
berlebih2an itu gak boleh,,
walaupun kaya,mustinya b’gaya hidup sederhana saja dan musti banyak sedekah..
*duwh,nisa salah ngomong gak ya,duwh*
wiikikik, salam kenal yak !
klo saya termasuk konsumtif sama yang namanya komik, buku, warnet
apa rakyat Indonesia semua harus ikut reality show “Tukar NAsib ” yah?
*baca judul*
Susah buat komen. Saya agak skeptis. Abis hampir semua orang kaya kayak gitu. Tergantung pribadi masing-masing. Tapi, mungkin temannya bisa sedikit diberi masukan dan pengertian kalau kegiatannya itu kurang bijaksana….
*baca komen lagi*
astagfirulloh..ternyata salah manggil XD
aduuuh~~maap rukia sayang..bukan bermaksud melupakan dirimu, sama skli bukan..
maap ya sayang…*hugs*
udah ya jgn nangis..cup cup..sini sini…mau coklat? jangan nangis lagi ya… *kasih coklat*
@ Dana Telco
Entahlah….
@ grace
Mana…mana…. *celingak-celinguk*
Ah, ga ada orang kok grace, ruangan saya lagi sepi
@ mas stein | Arm
Ya memang sah-sah saja dan saya pun tidak melarang lho, hanya saja yang saya kurang setuju, jika aktivitas membelanjakan uang itu dilakukan secara berlebihan
@ lambrtz
Uang mereka bisa digunakan untuk hal lain yang lebih berguna (IMO)
Misal untuk membantu pendidikan, masyarakat kurang mampu nggak perlu teriak-teriak ke pemerintah untuk perbaikan gedung sekolah yang nyaris runtuh (atau sudah runtuh?), orang-orang yang berduit lebih saya rasa bisa menyalurkan kelebihan uangnya untuk membantu masyarakat memperbaiki sekolah bahkan mungkin juga untuk memberikan fasilitas sekolah gratis. Yang kedua ini tentunya nggak bisa dilakukan perorangan
Kelebihan uang juga bisa digunakan untuk membuka tempat paltihan-pelatihan kerja (pelatihan wirausaha mungkin) sehingga dapat mengurangi jumlah gelandangan dan pengemis yang berkeliaran di jalan-jalan, dan masih banyak lagi yang dapat dilakukan
@ mbelGedez™
THAT
@ just ‘azzam
Ironis memang, tapi masih bisa dirubah
don’t be hopeless, friend
@ Nisa
Pada dasarnya, apapun yang dilakukan secara berlebihan itu nggak baik. Makan berlebihan sakit perut, ngerokok berlebihan bisa mati gara-gara kena kanker paru-paru, dll.
Nggak salah kok, kan pendapat, jadi tenang saja
Salam kenal juga^^;;
@ liroesdy
hmm…
Komik, seringan donlot scanlation-nya
Buku, nggak bisa dibilang banyak sih
Warnet, sekarang nyaris nggak pernah, seringan gratisan di kantor sih
@ belajaragamaislam
Tukar Nasib ya… (thinking)
oo acara yang di SCTV itu kan, pernah nonton sih cuma nggak ngikutin. Tapi perlu juga tuh sekali-sekali orang-orang kaya bertukar tempat dengan orang-orang yang kurang mampu
@ Snowie
Sudah mbak, tapi ya begitu itu, kumat-kumatan =_=’
Kalo pas keluar bareng, saya sudah selalu jadi pengendali “lapar mata-nya” itu, tapi kalo keluar sama orang lain, ya… nggak tahu =_=
@ Emina
Kali ini saya maafkan (nottalking) (cozy)
btw mbak, coklatnya nggak nyampe
semua yang berlebihan emang ga bagus.
mudahan yang komen dan yang punya blog “sepakat buat sederhana!”
sepakat!?
1,7 juta habis dalam 1hari cuma buat beli sepatu ma kacamata duank?? Busyet.. Saya saja belanja lebih dari 50 ribu seminggu gak berani.. Soalnya dapetin 50 ribu itu buat saya masih susah banget… Hiks, gak kebayang ternyata saya orang paling miskin disini..
@ Irfan
Sepakat
@ kesepian
Ah sama, setidaknya saya harus bekerja untuk memperolehnya
Jangan begitu, syukuri saja apa yang telah diberikan Allah, selalu merasa cukup dan bersyukur itu dapat membantu meredam keinginan yang kadang tak terkontrol
itulah manusia
banyak yang tidak bisa membedakan “kebutuhan” dan “keinginan”
bahkan ada yang bisa membedakan, tapi tetap tidak mau tahu
yang jelas, asal kebutuhan sudah terpenuhi, keinginan sebisa mungkin ditekan, karena seperti kita ketahui, tidak ada ungkapan “kebutuhan manusia tak ada batas”, yang ada adalah “keinginan manusia tak ada batas” jika diberi segunung emas, dia minta gunung kedua, jika diberi dua, dia minta ketiga, seperti itulah keinginan yang tak terkendali
waks.. *baru nyadar komen-nya agak formal*
turut prihatin juga.
@ andyan
Saya juga baru sadar bang andyan bisa bicara formal begitu
saya malah berpikir, abang ini habis mimpi apa sebelum nulis komen di sini (thinking)
*disambit*
@ Rian Xavier
Rasa prihatin diterima
Tapi, apa nggak sebaiknya juga berusaha merubah perilaku seperti ini (baca : konsumtif) setidaknya mulai dari diri sendiri
Sayang saya kolektor, jadi sifat konsumtif otomatis sudah tertempel dalam diri saya.
Tapi justru karena itu saya jadi mengerti kehidupan orang susah. Karena duit bulanan sudah habis, 7-10 hari menjelang dapet uang bulanan terpaksa makan nasi+telor, nasi+abon, atau hanya sekedar nasi+kecap.
rata-rata di kota besar memang susah menghilangkan kebiasaan ini, memang jadi budaya
btw salam kenal ya ^^
Duh, berbahaya emang budaya ini…. bukannya budaya produktif malah konsumtif… >.<
Kalo dibiarin terus gini, bangsa ini cuman bakal jadi tambang uang buat negara2 maju…
Btw, Rukia, dapet award lagi…. ^^ Saya ga tau Rukia udah dapet award ini apa belom.. kalo belom monggo diambil..
hho, hemat itu susah…
lam kenal..
link: http://agel.keren.la
Hm.. membaca ketikan tangan mbak rukia, saya jd ingat salah satu doá Rasulullah SAW yg diriwayatkan oleh Ibnu Majah “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin dan bangkitkanlah aku bersama orang2 yang miskin”
kira2 skrg masih ada g ya orang yg berdoa spt itu..??
Oiy.. salam kenal dari saya boeat mbak Rukia
maap mbak.. itoe kommen yg satunya mbak rukia happus sajja..
soale saya salah puencet, makkanya masuk dua kali dgn kommen yg samma.. please, be forgiving
Hi SaLaM KeNaL
itulah ironisnya dinegara kita, yg miskin ttp miskin yang kaya ttp kaya, dan parahnya lagi GA banyak dari si kaya yang peduli dengan yang miskin
jadi sadar, saya mungkin juga salah satu di antaranya.
terutama dalam beli DVD game
Untung gw termasuk hemat. Bayangin aja untuk pelampiasan hobi musik dan nonton filmku bisa ngabisin berapa puluh juta perbulan tuh.
Cara berhemat tp puas, donlot bajakan dgn kualitas sempurna, hehehe….
Rukia: Ketika Konsumtif Sebuah Budaya…
Ketika rakyat miskin sibuk mengantri BLT, rakyat yang memiliki kemampuan lebih justru sibuk mengantri untuk membeli sepatu impor.
Namun, bukan hanya karena berita itu saja yang menyebabkan saya ingin menulis. Hari ini, seorang teman dengan sangat sen…