Malam ini, hujan turun dan bunyi air yang menghantam jendela membuat malam semakin bertambah sepi. Dan entah kenapa, waktu seolah menarikku mundur ke masa lalu, untuk melihat apa yang telah aku lakukan selama ini dalam hidupku. Meniti kembali arti hidup yang diberi Allah padaku hingga saat ini. Namun tampaknya, aku belum melakukan sesuatu yang berarti dalam hidupku, mungkin karena itulah Allah masih memberiku kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti.
Jadi ingat pertanyaan temanku tentang nikmat terbesar apa yang pernah diberi Allah padaku. Bagiku nikmat terbesar yang diberi Allah padaku adalah hidup, karena dengan hidup aku sempat melihat lika-liku dunia, melihat indahnya seluruh lukisan tangan Allah, dengan hidup aku bisa menyayangi dan mencintai orang-orang di sekitarku, dengan hidup aku belajar untuk mencintai Allah, dengan hidup aku belajar menjadi sesuatu yang lebih baik, tapi itu bukan berarti aku takut akan kematian, karena bagiku kematian bukanlah suatu akhir, tapi awal dari kehidupan lain. Namun, temanku bilang anugrah terbesar baginya adalah iman yang diberi Allah untuknya. Mungkin itu juga benar, setidaknya bagi orang-orang beruntung yang diberi petunjuk dan tunduk dengan seluruh ketentuan Allah. Tapi bagiku, iman belum merupakan nikmat terbesar, karena aku masih saja mempertanyakan perintah-Nya, masih saja bingung dan terkadang tidak menerima seluruh keputusan-Nya yang tidak sesuai dengan keinginanku, dan masih sering marah pada-Nya ketika ujian yang diberikan-Nya tidak bisa kulewati dengan cepat dan mudah.
Aku yang selama ini selalu tidak nyaman dengan hujan, entah kenapa merasa nyaman dengan hujan malam ini. Hujan kali ini menebar aroma syahdu dan memberiku sedikit ketenangan jiwa, walau pikiranku sedang terlempar kembali ke masa lalu. Semoga iman akan bisa menjadi nikmat terbesar yang Allah beri kepadaku tahun ini, untuk melewati setiap episode hidupku selanjutnya, sehingga aku tidak lagi mempertanyakan semua perintah-Nya, bisa menerima semua keputusan-Nya dengan keikhlasan walau tidak sesuai dengan keinginanku, dan lebih bersabar dalam menghadapi setiap ujian yang Dia berikan padaku. Aku ingin tak lagi terduduk, tapi bangkit dan mengulurkan tanganku untuk menggapai-Nya, membuka mataku untuk menatap-Nya, menggenggam tangan-Nya agar tak lagi terlepas, dan berjalan bersama-Nya selamanya. Aku ingin benar-benar mampu mencintai-Nya dengan jiwa dan ragaku, namun, pembelajaranku akan butuh waktu lama, semoga aku bisa selalu istiqomah di jalan yang sedang aku tapaki, dan semoga waktu pun masih berpihak padaku untuk menambal retakan-retakan dan mencari puing-puing yang hilang dari hidupku.
Ketika langit menangis malam ini, entah kenapa aku merasa banyak kearifan yang kudapat, banyak pembelajaran tentang kebijaksanaan yang aku peroleh. Aku menyukai tangisan langit malam ini, yang memberiku pelajaran tentang arti penting hidup yang tidak hanya sekedar hidup, tapi benar-benar hidup. Yang mengingatkan aku bahwa ada tujuan aku dilahirkan ke dunia, yang mengingatkan aku untuk menyempurnakan keimananku pada-Nya. Terima kasih Allah, atas kesempatan hidup yang Kau beri agar aku bisa memperbaiki diriku. Engkau memberiku pelajaran dan peringatan dengan cara yang tak pernah kuduga, dengan sesuatu yang kuanggap remeh, namun ternyata dapat begitu penting, terima kasih karena telah memanjangkan usiaku, walau aku tahu itupun berarti kesempatan hidupku berkurang. Terima kasih untuk semuanya.
Aku kembali menatap langit yang masih menangis, yang tetap gelap tanpa sinar satu bintang pun, namun, hatiku cukup terang walau langit tampak gelap. Karena aku siap untuk mewarnai hidupku dengan tinta baru kehidupan dan berusaha menjadi berguna tidak hanya untuk diriku, tapi juga untuk agama dan keimananku, untuk orang-orang yang aku cintai dan sayangi, dan tentu saja untuk Allah.
Banyak yang harus aku pelajari terus-menerus dalam hidup ini, menjadi wanita sekaligus pribadi yang tidak sebagai cacat di mata Allah dan orang lain.
Hujan Bulan Juni
Sapardi Djoko Damonotak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itutak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itutak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
NB :
~ link gambar lupa, coz sudah lama lumutan di HDD
~ Well, hujan belum berhenti, tampaknya Teru Teru Bozu tak sanggup mengatasinya^^




apapun yg terjadi, met dies natalis

otanjoubi omedetou
many happy returns
hmm… jadi, sedang belajar mencintai Tuhan nih…
Woalah ulang tahun aja postingannya panjang gini
Ya selamat deh. Makan-makan ya
Lady raiiiin…I hear you at my window~~~~
@};-
Hopefully full blessing of you for Allah
Like you’ve afraid with the beat up of your heart to **** coz Allah
Id like to pray for you…
May you are afraid too with your maid coz Allah
hujan memang membawa sejuta makna…
Barakallahu laka ya amah, semoga sisa umurnya berkah dan lbh dekat dgn Allah serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat yg tlah diberikan-Nya..amin.
Hanya doa yg ummi dan keluarga bisa hadiahkan untuk amah.
Selamat hari lahir ya. Love u coz Allah
Met Milad….
Tambah bahagia, Panjang umur dan cepet nikah, tambah di sayang Allah….
BTW, I love Rain, and I called my self as Miss Rain
hm…
ah
hujan memang selalu menyenangkan
*menikmati hujan dan apapun yg dibawanya -termasuk petir kilat dan badai-*
Saya ga suka hujan..
Keadaan yang becek, basah, sangat merugikan saya yang pake motor ini.
Tapi…
Saat saya di rumah, yang paling nikmat memang saat hujan.
Dingin… Suara air hujan mengenai atap…
Sambil ditemani air hangat….
^_^
Bener banget…. dan kalau imannya lagi anjlok untuk membangkitkannya lagi itu agak berat (ngaca diri sendiri)
mbak Rukia pinter banget merangkai kata-katanya…keren dh
Hujan….saya suka menatap hujan di balik jendela …percikan air hujan itu nampah indah di depan mata….
Indah sekali…
akhir-akhir ini postingannya agak sedih kenapa, Ukht?
hy pa kbr neh ..
kaos couple murah RP 90rb sepasang di http://www.aghi182.wordpress.com