Winner… adakah yang tidak suka jadi pemenang? Saya rasa semua orang senang jika jadi pemenang. Dan saat ini, kita semua sedang menanti hasil pasti, siapakah yang akan jadi pemenang perebutan kursi presiden dan wakil presiden. Sedikit berpolitik, walaupun saya tidak tahu banyak soal politik. Saya dan mungkin seluruh rakyat Indonesia ingin kompetisi ini berjalan damai dan tenang. Hanya saja, saya memiliki ketakutan tersendiri dengan kompetisi ini, apalagi setelah kemarin menonton berita di salah satu stasiun tv yang memberitakan bahwa salah satu pendukung dari ketiga pasangan capres memukuli pendukung pasangan lain, ia melakukan itu karena calon yang didukungnya tidak mendapat suara yang memuaskan. Dan masalahnya adalah, kota tempat saya tinggal juga merupakan basis, markas, kandang suara salah satu pasangan capres yang menurut beberapa lembaga survei, jumlah suaranya kalah, walaupun belum hasil pasti, tapi tetap saja membuat cemas. Beberapa tahun lalu, Bali yang selama saya hidup nggak pernah ada demostrasi anarkis, untuk pertama kalinya kacau balau, hancur-hancuran, rusuh, hanya gara-gara perebutan kursi panas yang tidak dimenangkan oleh calon yang basis suaranya ada di Bali. Itu membuat saya stress, apalagi ketika harus berada di tengah kerusuhan itu.
Yang ingin saya bahas bukan kejadian beberapa tahun lalu, tapi apa sih menang itu. Baik Pileg maupun Pilpres sebenarnya adalah sebuah sarana untuk kita belajar dan memperbaiki diri, ketika kita melibatkan diri dalam kompetisi, lomba, ataupun bermain game, hasil akhir yang mungkin muncul adalah menang atau kalah (hasil imbang tidak saya hitung). Tidak mungkin dalam suatu game itu semua menang atau semua kalah, pasti ada satu yang mendominasi yang lain. Tapi, sepertinya kita tidak pernah belajar untuk menerima itu, siap menang tapi tidak siap kalah (kalau begini sebaiknya nggak usah ikutan main). Mental, itu mungkin yang melandasi pemikiran kita akan sesuatu termasuk sikap kita ketika berada di tengah sebuah kompetisi. Apakah kita benar-benar bermental juara atau bermental tempe (ini yang lebih halus apa ya?
).
Orang-orang yang ber mental juara tentunya mempunyai sikap sportif dalam dirinya, siap menang tapi juga harus siap kalah. Bagi mereka, kekalahan bukan akhir segalanya. Hal itu berarti dalam dirinya memang ada sesuatu yang kurang dan harus diperbaiki sehingga mereka mengalami kekalahan. Mereka akan berpikir, bagaimana menjadi lebih baik ke depannya sehingga selanjutnya mereka tidak lagi mengalami kekalahan. Tapi, orang-orang yang bermental tempe, hanya akan memaksakan kemauannya untuk menang, tidak peduli apapun caranya. Tidak berkompetisi secara sehat bahkan sampai melakukan tindakan-tindakan anarki untuk memuluskan tujuannya.
Saya berharap semoga semua pasangan capres yang sedang tidak tenang hatinya itu mempunyai mental juara, tidak hanya mereka tapi juga para pendukungnya. Jangan pernah lupakan sejarah itu kata guru sejarah SMA saya, tapi beliau benar, karena sejarah mengajarkan kita banyak hal. Memperbaiki kesalahan agar tidak terjatuh di lubang yang sama, tidak terlena dengan keberhasilan masa lalu, namun justru berusaha untuk lebih baik lagi dari keberhasilan yang lalu, dan jangan cepat merasa puas (untuk hal-hal positif tentunya). Kita, Indonesia khususnya harus belajar bagaimana berdemokrasi yang baik, menerima kemenangan dan kekalahan sebagai sesuatu yang wajar dan biasa, bukan hal yang harus diributkan hingga menimbulkan konflik. Pemenang sejati adalah dia yang bisa dengan lapang dada dan tersenyum menerima kekalahannya.
Sedikit tulisan tidak penting yang dibuat oleh seseorang yang tidak punya ilmu politik untuk melepas kekesalannya dan menghidupkan lagi blog yang sudah cukup lama ditinggalkan karena satu dan lain hal. Semoga saja kejadian di Bali beberapa tahun lalu itu tidak terulang lagi, itu salah satu hal yang membuat saya muak dengan perpolitikan di Indonesia
Sudah lama juga nggak nengok rumah ini, jadi sedikit berdebu juga (-_-)



Ah Apalagi Nih………..
Saya baru baca di liputan6.com head beritanya Bentrokan di Hari Sumpah Pemuda. Yang tidak hanya terjadi di Jakarta, tapi juga Surabaya, dan Medan, atau mungkin di daerah lain juga?
Heran deh, bener-bener heran, hobi banget bentrok, sebenernya dapet apa…
Aminn… tapi kesadaran untuk benar-benar berjabat tangan antara yg menang dan kalah memang kurang ya?
Ya itu sudah biasa toh, ga perlu kaget :-”
Bagi saya prinsipnya sederhana. Ga siap kalah jangan ikut kompetisi.
Saya kasihan sama tempe. Bergizi tinggi, kalau dipatenkan negara lain orang Indonesia marah-marah, tapi sekalinya dipakai dalam kalimat diasosiasikan dengan yang bermental rendah.
Simpelnya, yang berharap maka siap-siaplah kecewa.
buat yang mental tempe mungkin pedomannya ’saya siap menang dan siap kalah, asal yang kalah bukan saya’ :hammer:
@ Takodok!
Ya begitulah, padahal apa susahnya ya bermusuhan di arena tapi berteman di luar arena
*ah tapi mungkin memang susah buat mereka*
@ lambrtz
Makanya kan saya tanya ada istilah yang lebih halus atau lebih cocok gitu, karena pada dasarnya saya juga suka tempe
@ rozenesia
Yup^^
@ Tamago
Bener juga
hmm…Ndutz gak puas karena kemaren KTP Ndutz ditolak
(
hmmm…. bener tuh… setelah pemilu berakhir malamnya uda pada berita dr salah satu partai kalo ada kecurangan… wew.. cape dehh. ya kalo da kalah ya kalah, gak usah sampe bilang gitu, menurut saya sih sikap kek gitu malah bakal jadi boomerang buat mereka, karena orang2 yg liat bakal berpikir kalo mereka itu gak bisa nerima kekalahan
Aku setuju sama Takodok, di sini kayaknya masih susah lihat orang seneng alias menang dan cenderung seneng liat orang susah
Mudah-mudahan ga ada masalah deh. Kalaupun ada, diselesaikan dengan cara yang baik, ga dengan rusuh atau cara kekerasan lainnya. Amiinn.
Pokoknya, harus bisa menerima kekalahan dan memberi selamat kepada pihak pemenang! ^_^
jadi pemenang? ah, tidak juga, saya tak selalu berambisi menjadi pemenang, saya hanya tidak mau kalah. itu saja
/saduran bebas quote Bezita kepada Kakarot di Dragon Ball Z vol.42/
kalah jadi abu
menang jadi arang
salam kenal…