Kemarin, Ibu dan adik saya diajak ngobrol oleh seorang polisi ketika mereka sedang berada di salah satu tempat pengobatan alternatif, berikut ini sedikit isi perbincangan mereka (cuma bagian inti aja)
Polisi : “Loh bu, kok anaknya dibawa kesini? Aneh, harusnya itu ke dokter.”
Ibu : ”Oh, iya pak. Ke dokter juga sudah pak, cuma mencari alternatif lain saja.”
Polisi : “Bukan penyakit parah harusnya ya cuma ke dokter saja, tidak perlu sampai kemari.”
Adik : “Terserah gw lah mo kemana.” (bergumam nggak jelas)
Polisi : “Saya ini polisi lho.”
Ibu dan adik : “…..”
”Saya ini polisi lho.” Saya rasa statement ini keluar setelah si Polisi mendengar gumaman tidak jelas dari adik saya. Tapi, tetap saja lucu. Sayangnya saya tidak di sana, kalau di sana saya sudah ngakak sampai sakit perut kayaknya. Saya jadi ingat 2 kejadian beberapa tahun lalu yang serupa dengan ini. Waktu saya masih esempe, saya selalu diantar jemput ayah saya. Tentu saja. Selain karena jarak rumah – sekolah yang tidak bisa dikatakan dekat, saya juga kan diprotek banget oleh orang tua, terutama ayah saya. Dan mana mungkin ayah berani membiarkan saya pulang sendiri, apalagi setelah peristiwa saya lompat dari angkutan kota yang berjalan dengan kecepatan cukup tinggi. Tapi, itu cerita lain untuk saat ini
Oke, balik lagi. ini dia kejadian yang mirip dengan kejadian di atas.
Ayah : “Pak, tolong pasirnya dipinggirkan, karena menghalangi orang lewat.” (ayah menegur tetangga yang lagi bangun rumah, karena pasirnya menutupi jalan, jadi mobil ayah nggak bisa lewat)
Tetangga : *Datang mendekati kaca mobil ayah dengan wajah rada tersinggung* “Saya ini dulu Kolonel lho.”
Saya : “Emang gw pikirin, mau kolonel kek, presiden kek. Peduli amat.” (refleks menjawab)
Ayah : “Oh, kalau saya sih masih aktif sampai sekarang.” (tetap tenang, tapi sambil nahan ketawa kayaknya)
Tetangga : “….” (tapi akhirnya menyuruh para tukangnya menyingkirkan pasir dari jalan dan mobil ayah saya pun melaju kembali menuju rumah yang hanya berjarak 10 meter dari TKP sambil ketawa)
Atau kejadian satu ini yang dialami teman saya yang kebetulan bukan orang Bali dan baru saja tinggal di Bali. Waktu itu 2 orang teman saya, anggaplah si A dan si B (A yang baru tinggal di Bali, B sudah lama di Bali. Tapi, mereka berdua bukan orang Bali). Saat itu mereka sedang bingung arah mana yang menuju Jalan Pulau Enggano.
Si A : *turun dari motor* “Permisi Pak, saya mau nanya, Jalan Pulau Enggano sebelah mana ya?” (bertanya kepada salah satu pejalan kaki)
Si Bapak : *memangdang dari ujung rambut ke ujung kaki* “Melahang ngeraos, Titiang nak Gusti.”
Si A : “…..” (nggak ngerti apa yang dikatakan sama si bapak)
Si B : “Bapaknya bilang, Hati-hati kalau bicara, saya ini orang Gusti” (mengartikan karena melihat temannya bengong karena nggak ngerti)
Si A : “Oalah Pak, saya nggak ngerti. Lain kali kalungan papan nama yang besar gitu, tulisin “SAYA INI ORANG GUSTI” jadi saya tahu, saya bicara dengan siapa.” (dengan nada rada kesal)
Si A : “Ya sudah Pak, terima kasih. Anda sama sekali tidak membantu.” (naik lagi ke motor dan langsung tancap gas)
Waktu adik saya menceritakan apa yang dialaminya, saya langsung ketawa, karena otak saya otomatis flasback ke kedua kejadian yang saya dan teman saya alami. Saya heran, sampai jaman handphone sudah bisa 3G begini, orang-orang gila hormat tetap saja ada. Mereka berpikir dengan bertindak seperti itu, orang lain akan makin respek pada mereka. Mungkin, kalau itu orang-orang yang dapat dengan mudahnya ditakut-takuti dengan posisi mereka. Tapi maaf, itu bukan saya. Mereka justru kehilangan rasa hormat dari saya. Bagi saya, menghormati orang lain, bukanlah karena “siapa dia” atau “apa kedudukannya” tapi lebih ke bagaimana dia bersikap kepada orang lain dan kepada dirinya sendiri. Memandang orang lain dengan cara “duduk sama rendah, berdiri sama tinggi” dan tidak memandang sebelah mata kepada orang lain serta tidak memasang pandangan menghina. Ouw yang terakhir ini pernah tidak saya lakukan, cukup sering mungkin. Kalau ada yang saya pandang seperti itu, maaf-maaf saja, karena itu berarti Anda telah kehilangan rasa hormat dari saya.
Saya jauh lebih hormat kepada pengemis atau pemulung atau apapunlah sebutannya untuk mereka yang dikatakan masyarakat kelas bawah, yang memiliki sikap egaliter terhadap sesama. Daripada kepada orang-orang sekelas kolonel atau presiden atau masyarakat kelas atas, yang tidak memiliki sikap egaliter tersebut. Uang dan kedudukan itu mungkin memang diperlukan dalam hidup, tapi itu semua bukan segala-galanya. Semua itu nggak akan dibawa ke liang lahat. Semua orang masuk liang lahat tanpa membawa uang/harta benda sepeserpun (setidaknya itu dalam pemahaman agama saya) apalagi kedudukan, semua gelar dan jabatan yang disandang akan lenyap, dan diganti oleh satu gelar baru yaitu “Almarhum” atau “Almarhumah”. Itu saja. Tidak ada embel-embel gelar lainnya.
Tidak bisa dipungkiri, sifat bangga akan diri sendiri pasti akan selalu muncul dalam diri kita, itu normal dan sangat manusiawi. Tapi, sebaiknya sifat itu tidak kita gunakan untuk merendahkan atau menakuti orang lain atau malah untuk mendapat keuntungan pribadi. Seharusnya sifat itu bisa kita alihkan ke hal-hal yang lebih berguna, tidak hanya bagi diri kita tapi juga bagi orang lain. Misalnya, kalau kita dokter, jangan hanya bangga karena kita seorang dokter, tapi tunjukkan kontribusi apa yang bisa kita berikan sebagai seorang dokter. Saya rasa penghormatan yang diberikan terhadap seseorang lebih karena apa yang telah dilakukannya untuk orang lain, entah itu keluarga, masyarakat, atau bahkan bangsa dan negaranya, seperti kata hadist berikut :
Manusia terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. (HR al-Qadha‘i – hadits hasan)
Mungkin, dengan pernyataan seperti cerita di atas, seseorang akan mendapatkan rasa hormat dari orang lain, tapi itu lebih karena “orang lain itu” terpaksa memberi penghormatan. Kalau saya sih lebih suka mendapatkan rasa hormat yang tulus dari dalam hati daripada rasa hormat karena terpaksa.
Walaupun sama-sama tidak bagus, saya lebih heran lagi dengan orang-orang yang bangga akan gelar yang didapat dalam keluarga. Kalau berbangga atas kedudukan (presiden, jendral, direktur, dll), masih saya maklumi, karena itu berlaku sama hampir di semua tempat, Indonesia khususnya. Tapi kalau yang berbangga diri karena gelar keluarga (kasta)? Sangat mengherankan
Seperti cerita ketiga, cerita itu membuat saya geleng-geleng kepala saat mendengarnya, walaupun saya juga tertawa. Gelar “Gusti”? Hei, gelar itu tidak berarti apapun kalau dibawa ke Jawa. Sama halnya dengan gelar “Raden” di Jawa tidak akan ada artinya di Bali, atau gelar “Teuku” yang tidak berguna di NTT, dan gelar-gelar kebangsawanan lainnya yang tidak akan berarti apapun di daerah lain. Lalu apa gunanya menyombongkan hal itu?
Seharusnya yang kita pikirkan adalah bagaimana kita bisa bermanfaat bagi orang lain, daripada berpikir bagaimana kita dihormati karena “siapa diri kita”. Penghormatan dari orang lain pasti akan kita dapatkan, kalau tidak saat kita hidup mungkin saat kita telah meninggalkan nama. Bukan masalah, saya rasa. Karena yang penting dalam hidup itu adalah manfaat kita bagi orang-orang di sekitar kita, tentunya bermanfaat dalam hal-hal positif.
Dan akhirnya, ketiga kejadian itu mengajak kita untuk meminimalisir sifat sombong dan berbangga diri berlebihan yang ada pada diri kita.
”Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman : 18)
-
ps:
Gusti : salah satu kasta di Bali yang termasuk golongan Ksatria


yoa….Tuhan ga ngelihat kedudukan orang lain..
tapi ngeliat bagaimana hati seseorang
loh ada loh yang malah gila iba atau gila hina…. sering tuh, orang kalo tabrakan menghindarnya alesannya
“saya ini orang kecil mas” …… atau
)
“ya saya kalah lah, situ kan orang kaya, percuma berdebat” (abis itu ngeloyor pergi padahal dah bikin pintu mobil rusak pesok berat
jadi ndak cuman gila hormat aja, yang gila hina ini lebih parah, mending kalo jabatan dipake senjata, ini malah (ngakunya sih) kemiskinan (padahal penghasilan sebulan > 3juta
) yang dipake senjata hehehe
tuhan berjanji demi waktu
sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian,
kecuali mereka,
1. orang2 beriman
2. orang2 yg beramal salih
3. orang2 yg mengajak pada hal kebaikan
4. orang2 yg sabar.
Lha, saya ini…
saya ini…
*mikir*
*masih mikir*
btw, apa ya status yg paling disegani?
yg lebih tinggi dari Tuhan gtu, ada ndak?
Hmm.. pada kasus #2 dan #3, memang ada kesan sombong yang kuat atas dasar superioritas militer > sipil dan feodalisme. Tapi kalo di kasus #1, mungkin saja pernyataan profesi itu tuk nunjukin kalo dia orang yang layak dipertimbangkan nasihatnya. Kalo gak ngomong bgitu kan dia cuma dianggap sesama pasien sok tau.
Saya pernah ngalami hal serupa, mobil kargo yang saya & ayah pake tau2 tau2 dihentikan seseorang berbaju sipil yang ngejar dengan motor dan minta ijin geledah nyari bom. Waktu kutanya “ada urusan apa?” dia malah marah trus ngomong “saya polisi!”. WTF!! Gimana saya tau situ polisi kalo pake T-shirt, ransel dan celana pendek lalu gak nunjukin lencana, KTA atau surat tugas sama sekali, tau2 nyegat?
^
jadi teringat ketika lewat sebelah istana kepresidenan, ada petugas kebersihan lagi nyapu, dia lewat sambil ndorong gerobak dan bilang “permisi mas”
saya cuman mengangguk sambil senyum, orangnya juga senyum ke saya
subhanallah, jakarta yang panasnya minta ampun jadi kerasa sejuk
*membayangkan klo waktu itu ketemu petugas berbaju hitam trus dia bilang – awas, saya paspampres loh -*
hmm….itu memang sebuah ironi yang gak mungkin dirubah dalam masyarakat mbak
ini sama kayak seorang guru di sekolah saya yang ngajar, tapi salah. waktu diprotes, bukannya menjelaskan atau mengakui kalau rumus yg diajarkannya salah, beliau malah bilang,
Langsung pengen ketawa deh, tapi demi “keamanan”, sekelas ya diam aja
Saya mana peduli beliau alumni mana, yg penting kan penjelasan rumusnya
Ternyata nyombong itu ga harus dari profesi, harta, atau gelar, tapi bisa juga dari almamater
@ mardun :
saya sebel sama yg begini
dan ternyata banyak juga yang model begini
haghaghag.. ngakak gw..
*tersenyum simpul membaca postingan rukia yg ini
setuju ma pendapat jensen yg paragraf pertama
*salam kenal ya bro
tapi tetep…pada intinya…ditanya/diminta apa jawabnya kemana…..
g nyambung gitu lohjd menurut sy org2 tsb diatas malah tdk mencerminkan intelektualitas yang kmd di banggakannya….
bila memang ingin dihormati seharusnya diri ini bisa mengkondisikan bagaimana menghormati sesama…
jangankan pada sesama,bahkan pd hewan pun mns juga harus bisa tawadhu
*sy mnulis ini bkn berarti sdh bisa…sy juga masih belajar
klo skr terutama blajar tawadhu ama sapi !!!
bagi saya pribadi sah2 aja bangga terhadap diri sendiri…tapi off the record tdk untuk show on public…
mksd sy,dsni bangga thd diri sdr dg 7an untuk memotivasi diri…
kr sy biasa melakukan itu di depan cermin “kazumi,kamu cantik dan smart,pasti bisa!!!”*walopun g da hub nya brain n beautiful…yg penting kan happy then spirit
@ nai
Yup^^
@ mardun
Adek saya juga pernah mengalami hal serupa. Tapi kalau Ibu saya bilang, jadi miskin itu mudah
@ masganteng
Hooo iya
@ Lumiere
apa yaaaa
coba liat kakinya njejek tanah ra?
lebih tinggi dari Tuhan?
diragukan kalo ada
@ jensen99
Tetap saja bikin ketawa
ini sama kek ayah saya waktu diuber sama polisi pakaian preman, ayah saya diloloskan oleh temen polisinya (berseragam) waktu ada razia di jalan
@ andyan
orang-orang seperti ini mulai jarang tampaknya
@ AngelNdutz
hmm….itu memang sebuah ironi yang gak mungkin dirubah dalam masyarakat mbak
Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup. Mungkin memang sulit mengubah kebiasaan tapi bukan berarti tidak mungkin
@ potato
banyak bener orang model begini
yang ini sama kayak guru fisika saya dan alhasil dia jadi super sentimen sama saya, karena saya selalu protes dengan kelakuan si guru kalau sudah mengeluarkan jurus mautnya untuk membuat anak-anak sekelas diam. Tapi pas dia tahu saya lolos PMDK fisika disalah satu universitas, dia bilang begini :
biar rasa tu guru
@ Agel Echizen Karzhavyski
Senang bisa menghibur Anda
@ kazumi
Yup, betul sekali sis
mereka berkeliaran di rumah
Ya ya ya dan anggaplah saya percaya
*Habis ini rumah saya bakal diinvasi kayaknya*
Stanford? MIT? Cambridge? Harvard?
^
Yakin bukan semua yang disebutin lambrtz deh
Post power syndrome?
lha saya ini …
[mm]
pertanyaannya, kenapa bisa diuber?
@ jensen :
ketimbang “dicegat” ama “polisi” berseragam yang ternyata bukan polisi, malah apes kan ya
@ takodok
sepertinya
@ Arm
Karena ayah saya lolos razia tanpa diperiksa gara2 teman polisi ayah yg berpakaian seragam mengijinkan lewat hanya dengan lambaian tangan dan si polisi berpakaian preman akhirnya nguber ayah. Di lampu merah, ayah saya dimarahin sama si polisi itu, dan akhirnya sama-sama ngeluarin KTA deh.
“Saya ini polisi lho”
trz apa hubungannya kLo lo Polisi?
haha
kalo aku pikir karena setiap orang punya kehidupannya masing2 hingga hidup ini tercermin dalam prilaku. dan yang terpenting adalah .Bahwa hidup ada hak dan kewajiban. dan kita harus mengerti akan hal tersebut
biasanya yang kayak gitu post power syndrome…
*terbiasa menghadapi orang yang post power syndrome*
Polisi?
Bilang saja dengan PD, “Saya mertuanya komandan situ!”
hayahh… oknum-oknum yang menganggap bahwa pangkat, derajad dan profesi mereka laik untuk menjadikan mereka dihormati dan disegani…
di tempat kerja saya mah banyak banget yang kayaq gitu. pegawai level kroco macam saya ini sungguh mirip karakter dari alam lain; tak terlihat di mata mereka. maka sia-sia betul saya bikin senyuman melintang di bibir saya; lha wong mereka ndak liat koq… dan salam yang saya ulukkan? tak terdengar di liang pendengaran mereka…
dan kalo nantinya mereka sudah tidak berada di posisi/level yang mereka banggakan sekarang? udah pasti PPS… dan mereka kesiksa sendiri dengan degradasi jabatan itu… for sure!
Salam kenal dulu ya?
Pengalaman pribadi ya mbak?
Saya juga pernah mengalami, dihina dan dilecehkan hanya karena status saya lebih rendah. Seseorang menyombongkan dirinya karena merasa dirinya Presiden dan saya dianggap hina karena pernah jadi mahasiswi. Sampai sekarang orang itu pun juga masih sok mengatakan bahwa blog saya hanya kan mempermalukan saya.
Saya enggak pernah malu tuh mbak, rekan-rekan yang berkomentar di blog saya tahu mana yang lebih pantas dihormati. Apakah yang mengaku sok pintar atau orang yang seperti saya dengan jujur mengakui masih tahap belajar bahasa inggris dan membuat WP. Buat saya yang namanya belajar tak perlu malu dan sungkan untuk bertanya. Justru teman-teman saya membantu bagaimana cara menyematkan gambar di WP ketika saya bertanya bagaimana caranya.
@ Hanster
apa ya……
@ kawanlama95
Mungkin, tapi nggak perlu “pamer” ke orang kan
@ itikkecil
Iya, post power syndrome
@ frozen
Gw tuwir dong
*pentung-pentung frozen*
@ Kurotsuchi
Untung saya nggak hobi menebar senyum dan sapa pada mereka-mereka yang bertipe kayak begini
Yup^^
@ Fietria
Salam kenal juga^^
Maaf, tapi saya nggak dilecehkan
coba baca pelan-pelan dan pahami, ok
Sekali lagi maaf ya, tolong jangan bawa pertengkaran Anda ke rumah saya ini. Lagipula saya sedang tidak mencari traffic pembaca pertengkaran. Silakan selesaikan di tempat lain saja
Malu itu sebagian dari iman loh…
Ada hal-hal yang harus kita tutupi dengan rasa malu, walau tidak semua. Kalau untuk belajar sih memang tidak boleh malu, karena ada pepatah “Malu bertanya sesat di jalan”.
A: saya polisi loh
N: ya sapa yang tanya pak
pemilik blog lagi onlen, ehehehe
^
Iya ya, harusnya saya jawab kek gitu. Duh nggak kepikiran blas
Iya… hehehe…
oh iya, OOT nggak tau ditaruh mana, link blogmu aku masukin blogroll, biar gampang klo mau maen kesini
arigatou before
Khusus kasus kedua, koq saya lebih merasa ke arah “keinginan untuk ditakuti”.
Terbukti dari perilaku “mantan” orang yang pernah bawa-bawa senjata api ternyata lebih takut kepada orang yang “masih aktif” bawa-bawa senjata api
^
iya bang, emang supaya orang takut ke dia dan hormat juga keknya
karena orang ybs ini memang rada-rada, rata-rata semua tetangga saya takut or segan (krn takut jg sepertinya) ke dianya. Tapi ra mempan blas ke saya
Iya yah, saya turut prihatin…
Malah rasa ingin dihormati itu diikuti oleh arogansi alias kesombongan…
Selamat Idul Fitri 1430 H.
Minal aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin
Salam hangat dari Surabaya
maaf lahir batin dulu
Heumm.. maaf lahir batin dulu deh,
Oiya foto2 kopdarnya uda diresize nih dikirim kemana?
Kalo yang “saya polisi lo”, biasanya sih mo nunjukin kredibilitas,
kecuali ngomong gitu kalo mo dipake untuk
(padahal kita yang bayarin gajinya mereka ya?)
kepentingan dia
kalo “saya lulusan ***”, biasanya saya maklumi saja deh.. maklum biaya dan usaha untuk mencapai pendidikan jaman sekarang ga murah/mudah hihihihi
^
email saya di kuchiki99[at]ymail[dot]com
makasih bang
Saya ini tetangga gubernur lho
*
*kaburr
indonesia memang keple, gak menganut sistim egalitarian.
btw ayah anda gokil! XDDDDDD
kunjungan dari blogger pelajar. .
tidak menolak kunjungan ke http://technosurvivor.com