Hari ini gelaaappp…tapi langitnya lagi cantik-cantiknya, semua bintangnya keluar, jarang-jarang langit malam di Bali secerah ini
Saya suka sih Nyepi, tapi jadi nggak bisa keluar, nggak ada siaran TV, semua jadi gelap, dan saya jadi nggak bisa tidur. Tapi, semua itu bisa diakalin dan bukan masalah besar, dan ini adalah cerita lain
Sekarang saya mau cerita sehari sebelum perayaan Nyepi, biasanya disebut “Hari Pengerupukan” atau “Hari Tawur Kesanga”. Pada hari pengerupukan ini, ada aktivitas yang selalu dinanti oleh seluruh warga Hindu Bali *nggak cuma warga Hindu sih, soalnya saya juga selalu nungguin
* apalagi kalau bukan perhelatan yang mempertontonkan kreativitas Sekaa Teruna Teruni (organisasi pemuda) di Bali, yaitu “Pawai Ogoh-ogoh”
Ogoh-ogoh itu telah lama ada, dan selalu menjadi rutinitas setiap kali menjelang Nyepi, entah kapan tepatnya ogoh-ogoh ini selalu mengawali perayaan Nyepi. Menurut informasi yang pernah ada, diperkirakan ogoh-ogoh mulai dikenal sejak jaman Dalem Balingkang yang pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara Pitra Yadnya (upacara penghormatan pada arwah/ngaben). Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Ada juga yang menyebutkan kalau ogoh-ogoh adalah barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) cikal-bakal dari ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Namun, ada juga anggapan bahwa ogoh-ogoh mulai diperkenalkan pada sekitar tahun 70′an sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang.
Ogoh-ogoh biasanya dipertunjukkan dalam rentetan perayaan nyepi yaitu pada hari tawur kesanga. Prosesi pengarakan ogoh-ogoh pada malam sebelum hari raya Nyepi melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dahsyat. Ogoh-ogoh berperan sebagai simbol prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta. Ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualisasikan dalam wujud yang menyeramkan. Sebagai simbol kekuatan alam yang berlebihan dan dapat menimbulkan kerusakan. Kekuatan itu meliputi Bhuana Agung (Alam Raya) dan Bhuana Alit (Diri Manusia).
Namun ternyata, Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.
Walaupun tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan Nyepi, ogoh-ogoh sudah menjadi sebuah budaya dan rutinitas menjelang Nyepi. Setiap Banjar (setara RT kalau di daerah lain) pasti akan membuat ogoh-ogoh dan biasanya ogoh-ogoh ini dilombakan, dengan adanya lomba ogoh-ogoh Sekaa Teruna Teruni jadi lebih terpacu untuk menajamkan kreativitas serta mengingat kembali cerita-cerita rakyat Bali yang biasanya menjadi dasar dalam pembuatan ogoh-ogoh.
Beberapa ogoh-ogoh yang kemarin sempat saya abadikan saat menyusuri Kota Denpasar









kmrn di denpasar malah liat ada yg bentuknya ipin upin hihi
^
Iya,lucu deh, dapet saya foto juga. Ada yang naik sepeda ma lagi main sepakbola gitu
he? upin ipin?
bagi fotonya juga dong sini2
*masih penasaran dengan bali yang gelap*
^
Oke, done. Upin & Ipinnya udah ditambah
Kalau dilihat dari langit Bali seperti “The Lost Island”
sebaiknya sih datang sendiri aja ke Bali pas Nyepi, ok
Tapi maaf, ga bisa motoin
Lah itu di foto ke-5, megang rokok?
:D:D
wah… nice infoooooooo.. *jadi pengen ke Bali………
)
ya ampun beneran sereeemmm
tapi seru nampaknya
wawasan soal kebudayaan daerah-nya oke juga. jadi sedikit ngerti soal budaya di daerahnya mbakyu ruqyah
saya pikir ogoh-ogoh wajib hadir, dan merupakan bagian vital dari perayaan nyepi (sejenis keberadaan opor dan ketupat pas lebaran)
saya pikir ada bentuk saklek dari ogoh-ogoh, ternyata boleh dimodifikasi ya… si ipin dan upin ikutan main jadinya…:| senasinya jadi lain
btw, saya suka ogoh-ogoh yang diambil dari latar perang akbar bharata yudha. keliatan keren
jadi, ogoh-ogoh itu bentuknya bisa apa aja, gitu? termasuk yang upin ama ipin?
@ Asop
iya emang pegang rokok. Kalau saya sih jujur kurang suka ogoh-ogoh yang model gini
@ iiN
mari-mari sini
@ Takodok!
Iya serem, apalagi kalau pas sudah mulai diarak, tapi seremnya terkalahkan dengan keseruannya
@ Kurotsuchi
Mungkin karena pengaruh saya kelamaan tinggal di Bali kali, jadi ya tahulah sedikit-sedikit
Nggak, seperti yang saya bilang, ogogh-ogoh ajang mempertunjukkan kreativitas. Kalau wajib hadir, Bali mungkin dah kena “tulah” waktu ogoh-ogoh dilarang saat pilpres
Yakin opor+ketupat selalu ada di lebaran? kalau Kurotsuchi ke rumah saya pas lebaran, tidak akan menemukan opor + ketupat lo
Nggak ada sih, tapi kebanyakan ya yang berwajah seram-seram itu, karena merepresentasikan “Bhuta Kala”
Yup, saya juga suka
rata-rata ogoh-ogoh yang ditampilkan selalu memiliki behind story tentang kehidupan dewa-dewi, raksasa, atau hal-hal yang bisa memberi pelajaran tentang dharma
@ greengrinn
Yup, bisa apa aja. Tapi, seperti yang saya bilang ke Kurotsuchi, ada behind story-nya
wah dipasang juga ipin upinnya, malam nyepi jalan jadi rame ada pawai ogoh-ogoh. Jadi susah cari makan, pas mau dinner ke galeria jam 7 ternyata udah tutup
ada ogoh-ogoh yang mewakili karakter anime/manga ga?
bener2 upin ipin, haha
ke bali pas nyepi? hmm… kapan2 ja deh, butuh perencanaan panjang sepertinya
waaaah saya belum pernah liat prosesi nyepi di Bali… tapi ya itu ogoh-ogoh nya serem banget
gosipnya ogoh-ogoh iotu ada “isi”-nya juga?
@ Tamago
Jam 7 ke Galeria? ya jelas tutuplah… bukannya jam 5 aja jalan-jalan udah pada ditutup
@ Zephyrus
Anime/manga? ga nemu saya, kalo yang bentuk kamen rider ada, tapi sayangnya saya nggak moto
@ Andyan
Ya direncanakan dong, masukin ke list “harus dikunjungi” gitu
@ Chic
Kalo dulu ogoh-ogoh emang harus dibakar karena ber-”isi” tapi sekarang banyak yang dijual, jadi masalah ada “isi”nya untuk saat ini saya tidak tahu. Cuma, sebelum diarak ogoh-ogoh lebih ringan *kata yang nggotong* tapi begitu udah di”bantenin” (sembahyangin) jadi lebih berat/sangat berat. Jadi ya…..
tahun depan mungkin ya
sekitar bulan maret kan
pengen ke bali lage…. blum pernah liag ogoh2……
apalagi ogoh2 upin ipin…..
haha. ada U & I segala