Bunda Sayang, Ibu Profesional, IIP, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 10)

Masih dari kisah Abu Nawas…

CARA ABU NAWAS MENGAJARI KELEDAI MEMBACA

Pada suatu hari seorang menteri tiba-tiba punya niat jelek kepada Abu Nawas. Dia iri pada perhatian Raja yang dia anggap berlebih pada Abu Nawas. Tak ada sebab, menteri itu berikan seekor keledai pada Abu Nawas.

“Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minguu, datanglah kembali kemari, kita lihat akhirnya,” ujar menteri itu.

Abu Nawas menerimanya, kemudian berlalu tanpa banyak kata. Tapi, dalam hati dia merasa cemas, bertanya apakah bisa menuruti kemauan sang menteri.

“Apakah ini satu di antara tipu dayanya buat menghancurkan nama baikku?” tanya Abu Nawas dalam hati.

Meski demikian, dia tetap berusaha tenang. Dan dua minggu kemudian, dia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, menteri mengajaknya menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid.

“Baginda, saya akan perlihatkan siapa sesungguhnya diriku ini,” kata menteri itu.

“Hai menteri, ada apa dengan dirimu?” bentak Raja Harun al Rasyid.

“Tenang Baginda, hari ini Baginda bakal tahu kecerdasan akalku sesungguhnya, mengungguli kecerdasan Abu Nawas,” ucap menteri itu dengan pongah.

“Apa yang bakal dibuat oleh menteri ini,” kata Abu Nawas dalam hati.

“Baiklah, bila satu di antara kalian menang, maka ia memiliki hak memperoleh sekantung dinar ini, namun untuk yang kalah bakal dihukum tiga bulan di penjara,” tutur Harun al Rasyid.

Tak bisa mengelak, Abu Nawas terpaksa menyanggupi permainan aneh ini. Tiba-tiba menteri itu menunjuk ke satu buku besar.

“Coba tunjukkan bila keledai itu dapat membaca, tidakkah engkau cerdas dalam semua hal?” pinta menteri pada Abu Nawas.

Abu Nawas lalu menggiring keledainya ke buku itu. Sampul dibuka. Kemudian si keledai memandang buku itu. Selang beberapa saat, mulai membalik halaman demi halaman dengan lidahnya.

Buku itu terus-terusan dibalik, lembar demi lembar, hingga halaman paling akhir. Setelah tak ada lagi lembaran yang harus dibuka, keledai tersebut memandang Abu Nawas.

“Demikian, keledaiku dapat membaca,” kata Abu Nawas. Mendengar kata-kata Abu Nawas, sang menteri kembali angkat bicara.

“Bagaimana caramu mengajari dia membaca?” tanya sang menteri.

“Sesampainya di rumah, saya siapkan lembaran-lembaran besar serupa buku serta saya sisipkan biji-biji gandum di dalamnya,” jawab Abu Nawas.

“Keledai itu harus belajar membalik-balik halaman agar bisa memakan biji-biji gandum itu, hingga ia terlatih benar buat membalik-balik halaman buku dengan benar,” Abu Nawas melanjutkan.

“Namun bukankah dia tak tahu apa yang dibacanya?” bantah sang menteri.

“Memang demikian cara keledai membaca, dia cuma membalik-balik halaman tanpa tahu isinya,” jawab Abu Nawas dengan enteng.

“Bila kita membuka-buka buku tanpa tahu isinya, kita disebut setolol keledai bukan?” kata Abu Nawas lagi.

Dan jawaban Abu Nawas ini memperoleh anggukan dari Baginda Raja Harun al Rasyid. Raja tahu, sepintar-pintarnya hewan, tak lagi mampu jadi sesempurna manusia. Cuma manusia bodoh saja yg tidak mau memakai akalnya buat berpikir.

Pada akhirnya Abu Nawas memperoleh hadiah sekantung dinar, sedang menteri masuk penjara.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Advertisements
Bunda Sayang, Ibu Profesional, IIP, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 9)

Masih dari Kisah Abu Nawas

ABU NAWAS MERAYU TUHAN

Tak selamanya Abu Nawas bersikap konyol. Kadang-kadang timbul kedalaman hatinya yang merupakan bukti kesufian dirinya. Bila sedang dalam kesempatan mengajar, ia akan memberikan jawaban-jawaban yang berbobot sekalipun ia tetap menyampaikannya dengan ringan.

Seorang murid Abu Nawas ada yang sering mengajukan macam-macam pertanyaan. Tak jarang ia juga mengomentari ucapan-ucapan Abu Nawas jika sedang memperbincangkan sesuatu. Ini terjadi saat Abu Nawas menerima tiga orang tamu yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Nawas.

“Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” ujar orang yang pertama.

“Orang yang mengerjakan dosa kecil,” jawab Abu Nawas.

“Mengapa begitu,” kata orang pertama mengejar.

“Sebab dosa kecil lebih mudah diampuni oleh Allah,” ujar Abu Nawas. Orang pertama itupun manggut-manggut sangat puas dengan jawaban Abu Nawas.

Giliran orang kedua maju. Ia ternyata mengajukan pertanyaan yang sama, “Manakah yang lebih utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Yang utama adalah orang yang tidak mengerjakan keduanya,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa demikian?” tanya orang kedua lagi.

“Dengan tidak mengerjakan keduanya, tentu pengampunan Allah sudah tidak diperlukan lagi,” ujar Abu Nawas santai. Orang kedua itupun manggut-manggut menerima jawaban Abu Nawas dalam hatinya.

Orang ketiga pun maju, pertanyaannya pun juga seratus persen sama. “Manakah yang lebin utama, orang yang mengerjakan dosa-dosa besar atau orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil?” tanyanya.

“Orang yang mengerjakan dosa besar lebih utama,” ujar Abu Nawas.

“Mengapa bisa begitu?” tanya orang ktiga itu lagi.

“Sebab pengampunan Allah kepada hamba-Nya sebanding dengan besarnya dosa hamba-Nya,” ujar Abu Nawas kalem. Orang ketiga itupun merasa puas argumen tersebut. Ketiga orang itupun lalu beranjak pergi.

***

Si murid yang suka bertanya kontan berujar mendengar kejadian itu. “Mengapa pertanyaan yang sama bisa menghasilkan tiga jawaban yang berbeda,” katanya tidak mengerti.

Abu Nawas tersenyum. “Manusia itu terbagi atas tiga tingkatan, tingkatan mata, tingkatan otak dan tingkatan hati,” jawab Abu Nawas.

“Apakah tingkatan mata itu?” tanya si murid.

“Seorang anak kecil yang melihat bintang di langit, ia akan menyebut bintang itu kecil karena itulah yang tampak dimatanya,” jawab Abu Nawas memberi perumpamaan.

“Lalu apakah tingkatan otak itu?” tanya si murid lagi.

“Orang pandai yang melihat bintang di langit, ia akan mengatakan bahwa bintang itu besar karena ia memiliki pengetahuan,” jawab Abu Nawas.

“Dan apakah tingkatan hati itu?” Tanya si murid lagi.

“Orang pandai dan paham yang melihat bintang di langit, ia akan tetap mengatakan bahwa bintang itu kecil sekalipun ia tahu yang sebenarnya bintang itu besar, sebab baginya tak ada satupun di dunia ini yang lebih besar dari Allah SWT,” jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

Si murid pun mafhum. Ia lalu mengerti mengapa satu pertanyaan bisa mendatangkan jawaban yang berbeda-beda. Tapi si murid itu bertanya lagi.

“Wahai guruku, mungkinkah manusia itu menipu Tuhan?” tanyanya.

“Mungkin,” jawab Abu Nawas santai menerima pertanyaan aneh itu.

“Bagaimana caranya?” tanya si murid lagi.

“Manusia bisa menipu Tuhan dengan merayu-Nya melalui pujian dan doa,” ujar Abu Nawas.

“Kalau begitu, ajarilah aku doa itu, wahai guru,” ujar si murid antusias.

“Doa itu adalah, “Ialahi lastu lil firdausi ahla, Wala Aqwa alannaril Jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghafiruz dzambil adzimi.” (Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga, tapi aku tidak kuat menahan panasnya api neraka. Sebab itulah terimalah tobatku dan ampunilah segala dosa-dosaku, sesungguhnya Kau lah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar).

Banyak orang yang mengamalkan doa yang merayu Tuhan ini.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Bunda Sayang, Ibu Profesional, IIP, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari, Uncategorized

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 8)

Saya tertatih-tatih mendongeng, karena seperti yang saya katakan di awal bahwa saya bukanlah pendongeng. Jadi tantangan level ini saya rasakan menjadi yang terberat. Tapi memang tak ada yang mudah dalam proses belajar.

Sebenarnya saya sudah nyaria kehabisan ide dongeng untuk anak, selain buku dongeng yang terbatas di rumah (kebanyakan buku dongeng cerita rakyat), saya juga perlu waktu untuk menghafal dongeng yang akan saya bawakan tanpa buku sebagai pengantar tidur. Untuk dongeng hari ke-8 hingga ke-10 saya akan ambil dari buku seri Kisah Abu Nawas. Yang bukunya adalah hasil membongkar rak buku di rumah ibu saya (buku lama koleksi saya jaman belum menikah).

Judul pertama yang saya pilih adalah

ABU NAWAS, DILECEHKAN MALAH TERTAWA
Pada suatu sore ketika Abu Nawas ke warung teh, kawan-kawannya sudah berada di situ. Mereka memang sengaja sedang menunggu Abu Nawas.

“Nah ini Abu Nawas datang.” kata salah seorang dari mereka.

“Ada apa?” Kata Abu Nawas sambil memesan secangkir teh hangat.

“Kami tahu engkau selalu bisa melepaskan diri dari perangkap-perangkap yang dirancang Baginda Raja Harun Al Rasyid. Tetapi kami yakin kali ini engkau pasti dihukum Baginda Raja bila engkau berani melakukannya.” kawan-kawan Abu Nawas membuka percakapan.

“Apa yang harus kutakutkan. Tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakuti kecuali Allah SWT.” kata Abu Nawas menentang.

“Selama ini belum pernah ada seorang pun di negeri ini yang berani memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid. Bukankah begitu hai Abu Nawas?” tanya kawan Abu Nawas.

” Tentu saja tidak ada yang berani melakukan hal itu karena itu adalah pelecehan yang amat berat, hukumannya pasti dipancung.” kata Abu Nawas memberitahu.

Itulah yang ingin kami ketahui darimu. Beranikah engkau melakukannya?”

“Sudah kukatakan bahwa aku hanya takut kepada Allah Swt saja. Sekarang apa taruhannya bila aku bersedia melakukannya?” Abu Nawas ganti bertanya.

“Seratus keping uang emas. Disamping itu Baginda harus tertawa tatkala engkau pantati.” kata mereka.

Abu Nawas pulang setelah menyanggupi tawaran yang amat berbahaya itu.

Kawan-kawan Abu Nawas tidak yakin Abu Nawas sanggup membuat Baginda Raja tertawa apalagi ketika dipantati. Kayaknya kali ini Abu Nawas harus berhadapan dengan algojo pemenggal kepala.

Minggu depan Baginda Raja Harun Al Rasyid akan mengadakan jamuan kenegaraan. Para menteri, pegawai istana dan orang-orang dekat Baginda diundang, termasuk Abu Nawas. Abu Nawas merasa hari-hari berlalu dengan cepat karena ia harus menciptakan jalan keluar yang paling aman bagi keselamatan lehernya dari pedang algojo. Tetapi, bagi kawan-kawan Abu Nawas, hari-hari amat panjang karena mereka tak sabar menunggu pertaruhan yang amat mendebarkan itu.

Persiapan-persiapan di halaman istana sudah dimulai. Baginda Raja menginginkan perjamuan nanti meriah karena Baginda juga mengundang raja-raja dari negeri sahabat.

Ketika hari yang dijanjikan tiba, semua tamu sudah datang kecuali Abu Nawas. Kawan-kawan Abu Nawas yang menyaksikan dari jauh merasa kecewa karena Abu Nawas tidak hadir. Namun ternyata mereka keliru. Abu Nawas bukannya tidak datang, tetapi terlambat sehingga Abu Nawas duduk di tempat yang paling belakang.

Ceramah-ceramah yang mengesankan mulai disampaikan oleh para ahli pidato. Dan tibalah giliran Baginda Raja Harun Al Rasyid menyampaikan pidatonya. Seusai menyampaikan pidato, Baginda melihat Abu Nawas duduk sendirian di tempat yang tidak ada karpetnya. Karena merasa heran. Baginda bertanya,” Mengapa engkau tidak duduk di atas karpet?”

“Paduka yang mulia, hamba haturkan terima kasih atas perhatian Baginda. Hamba sudah merasa cukup bahagia duduk di sini.” kata Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, majulah dan duduklah di atas karpet nanti pakaianmu kotor karena duduk diatas tanah.” Baginda Raja menyarankan.

“Ampun Tuanku yang mulia, sebenarnya hamba ini sudah duduk di atas karpet.”

Baginda bingung mendengar pengakuan Abu Nawas, karena Baginda melihat sendiri Abu Nawas duduk diatas tanah.
“Karpet yang mana yang engkau maksudkan wahai Abu Nawas?” tanya Baginda masih bingung.

“Karpet hamba sendiri Tuanku yang mulia. Sekarang hamba selalu membawa karpet ke manapun hamba pergi.” Kata Abu Nawas seolah-olah menyimpan misteri.

“Tetapi sejak tadi aku belum melihat karpet yang engkau bawa.” kata Baginda Raja bertambah bingung.

“Baiklah Baginda yang mulia, kalau memang ingin tahu, maka dengan senang hati hamba akan menunjukkan kepada Paduka yang mulia.” kata Abu Nawas sambil beringsut-ingsut ke depan. Setelah cukup dekat dengan Baginda, Abu Nawas berdiri kemudian menungging menunjukkan potongan karpet yang ditempelkan di bagian pantatnya. Abu Nawas kini seolah-olah memantati Baginda Raja Harun Al Rasyid.

Melihat ada sepotong karpet menempel di pantat Abu Nawas, Baginda Raja tak bisa membendung tawa sehingga beliau terpingkal-pingkal diikuti oleh para undangan.

Menyaksikan kejadian yang menggelikan itu, kawan-kawan Abu Nawas merasa kagum. Mereka harus rela melepas seratus keping uang emas untuk Abu Nawas.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Bunda Sayang, Ibu Profesional, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari, Uncategorized

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 7)

Dongeng ketujuh ini merupakan dongeng yang cukup terkenal di dunia. Telah diceritakan ratusan kali sebagai dongeng pengantar tidur

KISAH TIGA BABI KECIL

Pada suatu hari, ada tiga babi kecil.

Masing-masing ingin membangun sebuah rumah.

Saat berjalan-jalan mereka bertemu dengan sesorang yang membawa jerami

Babi kecil pertama bertanya: “Bolehkah aku minta sedikit jerami?”

“Tentu saja, silahkan” ujar sang pembawa jerami

Babi kecil pertama mengambil jerami dan membangun sebuah rumah darinya.

Babi kecil kedua dan ketiga berjalan-jalan.

Mereka bertemu dengan sesorang yang membawa tongkat.

Babi kecil kedua bertanya: “Bolehkah aku minta sedikit tongkat?”

“Tentu saja, silahkan”, ujar pembawa tongkat

Babi kecil kedua mengambil tongkat dan membangun sebuh rumah darinya.

Babi ketiga berjalan-jalan

Ia bertemu dengan seseorang yang membawa batu bata

Babi kecil ketiga bertanya: “Bolehkah aku minta sedikit batu bata?”

Sang lelaki menjawab, “Tentu saja, aku punya banyak batu bata. Silahkan”

Babi kecil ketiga membangun sebuah rumah dari batu bata

Hari berikutnya, seekor serigala berjalan-jalan

Ia melihat rumah yang terbuat dari jerami dan mengetuk pintu: “babi kecil, babi kecil, biarkan aku masuk!”

“Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu aku akan huff…dan puff…dan aku akan menghembuskan rumah hingga runtuh!”

Ia-pun menghembuskan dan menerbangkan rumahnya!

Babi kecil pertama berlari menuju rumah saudaranya.

Keesokan harinya, serigala berjalan lebih jauh

Ia melihat rumah yang terbuat dari tongkat dan mengetuk pintu

Serigala berkata, “Babi kecil, babi kecil, biarkan aku masuk!”

“Tentu saja tidak!”

Both little pigs answered.

Kedua babi kecil menjawab

“Kalau begitu aku akan huff…dan puff…dan aku akan menghembuskan rumah hingga runtuh!”

Ia-pun menghembuskan dan menerbangkan rumahnya!

Kedua babi kecil berlari menuju rumah saudaranya

Keesokan harinya, serigala berjalan lebih jauh lagi

Ia melihat rumah yang terbuat dari batu bara dan mengetuk pintu

“Babi kecil, babi kecil biarkan aku masuk!”

“Tentu saja tidak!”

Ketiga babi kecil menjawab bersamaan

“Kalau begitu aku akan huff…dan puff…dan aku akan menghembuskan rumah hingga runtuh!”

Ia-pun menghembuskan…tapi rumah ini tidak hancur

Serigala menjadi marah dan berkata:

“Babi kecil, aku akan memmanjat lubang asapmu dan memakanmu.”

Mendengar ini, ketiga babi kecil menaruh panci besar diatas api dengan air didalamnya

Serigla memanjat ke atas atap

Kemudian mulai menuruni lubang asap

Tapi “splash” – ia terjatuh ke dalam panci

Dan itulah akhir dari serigala yang kelaparan.

Pesan Moral yang ingin disampaikan adalah Jadilah anak yang Rajin, Bekerja Keras dan Pantang Menyerah

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Bunda Sayang, Ibu Profesional, IIP, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 6)

Hari ke-6 saya mengambil dari seri dongeng sepanjang masa. Karena buku yang saya miliki buku lama dan bukan seri cergam (cerita bergambar) jadi saya kolaborasikan dengan video yang saya cari di youtube untuk dongeng ini. Alasan memilih judul ini selain karena hampir semua orang mengetahui ceritanya juga karena ini salah satu dongeng yang saya hafal alur ceritanya 😁. Ya sudah yuk mendongeng..

PINOKIO SI BONEKA KAYU

Di suatu kota, ada sebuah toko milik kakek Gepeto pembuat boneka. “Alangkah senangnya kalau boneka manis ini menjadi seorang anak.”

Setelah kakek berbisik demikian, terjadi satu keajaiban. “Selamat siang, Papa.” Boneka itu berbicara dan mulai berjalan. Dengan amat gembira, kakek berkata, “Mulai hari ini, engkau anakku. Kau kuberi nama Pinokio.” “Agar kau menjadi anak pintar, besok kau mulai sekolah , ya!”

Keesokan paginya, Kakek Gepeto menjual pakaiannya dan dengan uang itu ia membelikan Pinokio sebuah buku ABC. “Belajarlah baik-baik dengan buku ini!” “Terima kasih, Papa. Aku pergi sekolah, dan akan belajar dengan giat.” “Hati-hati ya!” pesan kakek.

Tetapi dari arah yang berlawanan dengan sekolahnya terdengar suara, “Drum, dum, dum, dum.” Ketika Pinokio mendekat ternyata itu adalah tenda sandiwara boneka. Pinokio lalu menjual buku ABC-nya, membeli karcis dengan uang itu dan masuk ke dalam. Di dalam tenda sandiwara, sebuah boneka anak perempuan akan telah dikepung prajurit berpedang. “Lihat! Jahat sekali prajurit itu…” Pinokio naik ke panggung, dan menerjang boneka prajurit. Tali boneka itu putus dan jatuhlah boneka itu. Pemilik sandiwara yang marah segera menangkap Pinokio dan akan melemparnya ke api. “Maafkan aku. Kalau aku dibakar, kasihan papa yang sudah tua,” kata Pinokio. “Aku berjanji pada papa untuk belajar di sekolah dengan rajin. Karena iba, pemilik sandiwara melepaskan Pinokio dan memberinya beberapa keping uang. “Gunakan uang ini untuk membeli buku-buku pelajaranmu,” kata pemilik sandiwara tersebut.

Kemudian Pinokio pergi untuk membeli buku. Tetapi di tengah jalan, Rubah dan Kucing melihat keadaan itu. Mereka menyapa Pinokio dengan ramah. “Selamat siang, Pinokio yang baik. Kalau uang emas itu bertambah banyak, pasti papamu lebih senang, ya!”

Bagaimana cara menambah uang emas ini?” Tanya pinokio. “Gampang. Kau bisa menanamnya di bawah pohon ajaib. Lalu tidurlah, maka pada saat kau bangun nanti, pohon itu akan berbuah banyak sekali uang emas.” Kemudian Pinokio diantar oleh Rubah dan Kucing, menanam uang emasnya di bawah pohon ajaib. Ketika Pinokio mulai tidur siang. Rubah dan Kucing menggali uang emas itu dan menggantung Pinokio di pohon, setelah itu mereka pergi.

Tolong…..” teriak Pinokio ketika sudah bangun dari tidurnya dan mengetahui dirinya tergantung di sebuah pohon. Seorang Dewi yang melihat keadaan Pinokio, mengutus burung elang untuk menolongnya. Burung elang membawa Pinokio dengan paruhnya, dan membawanya ke ruangan di mana Dewi telah menunggu. Dewi menidurkan Pinokio di tempat tidur dan memberinya obat.

Nah, minumlah obat ini maka kau akan cepat sembuh. Setelah itu pulang, ya!” kata Dewi. “Lebih baik mati daripada minum obat yang pahit.” Pinokio terus menolak. Akhirnya Dewi menjadi marah, “Plak plak!” Ia menampar. Lalu datanglah empat ekor kelinci yang menggotong peti mati. Pinokio terkejut sekali, cepat-cepat ia meminum obat yang pahit itu. “Pinokio, mengapa kau tidak pergi ke seolah?” Tanya Dewi. “Hmm.. di jalan, aku menjual buku-ku untuk anak miskin yang kelaparan dan membelikannya roti. Karena itu aku tidak bisa pergi ke sekolah….” Tiba-tiba saja “syuut” hidung Pinokio mulai memanjang. “Pinokio!” Kalau kau berbohong, hidungmu akan memanjang sampai ke langit.” “Maafkan aku. Aku tak akan berbohong lagi.” Pinokio meminta maaf. Dewi tersenyum, dan memerintahkan burung pelatuk mematuki hidung Pinokio, mengembalikannya ke bentuk semula. “Ayo cepat kembali ke rumah, dan belajar ke sekolah!”

Di tengah perjalanan pulang, Pinokio bertemu dengan kereta dunia bermain. Pinokio tidak bisa menahan diri untuk tidak naik. Pinokio telah lupa akan janjinya pada Dewi, setiap hari ia hanya bermain-main saja.

ada suatu hari, Pinokio terkejut melihat wajahnya yang terpantuk di permukaan air. “Ah! Telingaku jadi telinga keledai! Aku pun berbuntut!” teriaknya. Ternyata anak-anak lain pun telah menjadi keledai. Akhirnya Pinokio pun menjadi seekor keledai dan dijual ke sirkus. Pinokio telah melanggar janjinya kepada Dewi, maka ia mendapat hukuman.

Setiap hari ia dipecut, dan harus melompati lingkaran api yang panas. Walaupun takut, Pinokio tetap meloncat. Akhirnya ia terjatuh sampai kakinya patah. Pemilik sirkus menjadi marah. “Keledai dungu! Lebih baik dibuang ke laut.” Kemudian Pinokio dilempar ke laut. “Blup blup blup” Pinokio tenggelam ke dasar laut, ikan-ikan datang menggigitnya. Lalu kulit keledai terlepas, dan dari dalamnya muncul si Pinokio. “Terima kasih ikan-ikan.” Sebenarnya Dewi melihat bahwa Pinokio telah menyadari kesalahannya dan memerintahkan ikan-ikan untuk menolongnya.

Sambil berenang, Pinokio berjanji dalam hati “Kali ini setelah aku pulang ke rumah aku akan ke sekolah dan belajar dengan giat. Aku juga akan membantu pekerjaan di rumah dan menjaga papa.” Pada saat itu “Hrrr…., seekor ikan hiu besar datang mendekat dengan suara yang menyeramkan. “Haaa…. Tolong.” Pinokio ditelan oleh ikan hiu yang besar itu. “Hap” Di dalam perut hiu benar-benar gelap gulita. Tetapi di kejauhan terlihat seberkas sinar. Ternyata itu adalah kakek Gepeto.

Papa!” “Pinokio!” Mereka berdua saling berpelukan. “Aku pergi ke laut untuk mencarimu, dan aku ditelan hiu ini. Tapi ternyata di sini aku bertemu denganmu. Untung kita selamat!”

Ayo,kita keluar dari sini!” “Badanku sudah lemah. Kau saja yang pergi.” “Aku tidak mau kalau tidak bersama-sama Papa.” Ketika ikan hiu sedang tidur, Pinokio melarikan diri dari mulut hiu dengan menggendong kakek Gepeto di punggungnya.

Dengan sekuat tenaga ia berenang sampai akhirnya tiba di pantai. Mereka menyewa sebuah pondok petani terdekat. Sambil merawat kakek, Pinokio bekerja setiap hari. Akhirnya kakek menjadi sehat kembali. “Pinokio, karena kaulah aku jadi sehat seperti ini. Terima kasih ya!”

Papa, mulai sekarang aku akan lebih menurut lagi.” Tiba-tiba saja sekeliling mereka menjadi bersinar terang,” Pinokio, kau telah menjadi seorang anak yang baik.” Dewi muncul, dan merubah Pinokio si boneka menjadi seorang anak manusia.

Pesan moral yang ingin disampaikan dari cerita ini adalah Taat dan patuhlah kepada kedua orang tua.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Bunda Sayang, Ibu Profesional, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 5)

Dongeng kelima diambil dari kisah dongeng nusantara. Entah mengapa dongeng-dongeng nusantar itu panjang-panjang dan kebanyakan legenda, saya jadi pusing ambil pesan moralnya. Tapi justru buku dongeng nusantara ini yang paling banyak saya miliki. Selain saya suka juga karena saya ingin anak-anak saya mengenal cerita dan legenda negerinya sendiri. Eh tapi saya sendiri kurang yakin kalau ini cerita asli nusantara karena dongeng ini sudah banyak didongengkan di seluruh dunia 😁

ANGSA YANG BERTELUR EMAS

Suatu hari, terjadi kehebohan di sebuah pasar kampung. Orang orang berkerumun di depan sebuah toko penjual telur. Yang berada di luar ingin maju masuk ke dalam, sedangkan yang di dalam ingin lebih dekat lagi ke depan meja. Mereka datang dari seluruh penjuru negeri karena mendengar ada seekor angsa yang bisa bertelur emas, mereka ingin melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan akhirnya, di depan mereka semua, hal ajaib itu terjadi persis seperti yang mereka dengar. Di atas meja, berkilauan sebuah telur angsa emas!

Mereka berebutan ingin membeli telur itu. Namun si Pedagang hanya bisa menjual satu butir telur emas sehari. Yang lain terpaksa menunggu karena si Angsa hanya bisa bertelur satu butir sehari. Si Pedagang benar-benar tidak puas dengan hal itu, dia ingin segera punya banyak uang. Lalu terlintas ide di pikirannya. Pedagang yang rakus itu akan memotong si Angsa ajaib. Dia berfikiran kakau angsa tersebut di bunug dan perutnya dibelah pasti di dalamnya terdapat banyak telur emas. Ia akan mengambil semua telur yang ada di dalam tubuhnya sekaligus. Dia sudah tidak sabar ingin segera cepat kaya.
Para pembeli bersorak gembira ketika si Pedagang mengumumkan ide hebatnya itu pada mereka. Kemudian dengan hati-hati ia mengeluarkan sebuah pisau tajam dan membelah dada angsa ajaib itu. Orang-orang menahan nafasnya. Darah si Angsa menetes merah membasahi bulu bulunya yang putih bersih. “Dia membunuh angsa peliharaanya” orang-orang riuh bersorak sorai.
Lalu tiba-tiba datang seorang kakek tua dan berkata dengan bijak,”Ya, dan dia telah melakukan kesalahan yang amat besar! Kamu semua akan lihat, angsa itu sekarang hanya seekor burung biasa. Tentu saja karena ia sudah mati. Kamu terlalu serakah ! sehingga tidak bisa berfikir dengan jernih !”

Apa yang di katakan okeh kakek itu memang benar. Di sana terbaring seekor angsa yang cantik, dadanya terbelah lebar, tapi tak ada sebutir telur pun ada di dalam tubuhnya. Sekarang angsa itu hanya berguna untuk jadi angsa panggang. “Dia sudah membunuh angsa yang memberinya telur emas!” seorang petani tua berkata sedih. Orang-orang pun meninggalkan toko dan berjalan pulang dengan gontai dan kecewa. sementara si pemilik angsa hanya bisa diam menyesali keserakahan dan perbuatan bodohnya

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah Jangan Serakah, Rakus, maupun Tamak. Syukuri apa yang telah kita miliki, karena Allah membenci orang yang serakah

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination

Bunda Sayang, Ibu Profesional, Kuliah Bunsay, Level10, Tantangan 10 hari

Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng (Day 4)

Dongeng hari ke-empat ini dapat ide setelah menonton serial Upin & Ipin trus seraching di youtube dongengnya 😂. Judul dongengnya adalah…

ANAK PENGGEMBALA DAN SRIGALA


Zaman ahulu kala, di sebuah perkampungan hiduplah seorang anak gembala. Dia bekerja pada seorang majikan untuk menggembala domba milik majikanya. Tiap pagi anak itu menggiring dombanya berangkat ke padang rumput di pinggir hutan. Dan tiap sore dia kembali menggiring domba-domba tersebut kembali ke kandang. Sebelumnya sang majikan pernah berpesan, jika suatu saat ada gerombolan serigala yang datang dan ingin memangsa domba miliknya, anak itu di suruh berteriak meminta pertolongan pada orang-orang di kampung. Agar orang-orang tersebut mau membantu mengusir herombolan serigala tersebut.

Pada suatu hari, anak gembala tersebut merasa bosan. Hingga muncul niat usilnya untuk mengerjai orang-orang kampung. Lalu anak gembala itu ingat pada perkataan majikanya. Kemudia anak gembala itu berpura-pura lari ke pinggir kampung sambil berteriak “ serigala..!! serigala..!! tolong ada serigala.!!”. mendengar teriakan anak itu, para penduduk langsung berlarian untuk membantunya. Mereka membawa alat-alat yang ada yang bisa di gunakan untuk menghalau dan mengusir para serigala. Tapi ketika sampai di padang rumput, mereka tak melihat ada serigala seekorpun. Mereka hanya melihat si anak gembala yang tertawa terbahak-bahak menertawakan mereka. “ Hahaha.. Lucu sekali. Kalian tertipu..”. kata anak gembala itu.
Dengan perasaan jengkel, para penduduk kemudian kembali pulang ke rumah masing-masing. Tapi beberapa saat kemudian, mereka mendengar lagi anak gembala itu berteriak tentang serigala yang datang. Mereka pun langsung berlari sebagaimana yang pertama untuuk membantu anak gembala itu. Tapi lagi-lagi mereka tak menemukan adanya serigala kebuali anak gembala yang lagi-lagi tertawa terbahak-bahak kepada mereka. Merekapun kemudian kembali menggerutu dan pulang ke tempat masing-masing. Tak puas dengan itu, si anak gembala mengulangi hal yang sama, berbohong tentang adanya serigala. Dan ketika orang-orang sudah berdatangan dan tak menemukan adanya serigala, lagi-lagi si anak gembala itu tertawa terpingkal-pingkal merasa bahwa semua yang di lakukanya sangat lucu. Tentu saja hal tersebut membuat para orang-orang yang datang merasa di permainkan dan sangat jengkel di buatnya.
Hingga tibalah waktu sore untuk anak gembala kembali membawa domba-dombanya pulang ke kandang. Tapi ketika dia mau menggiring dombanya, tiba-tiba segerobolan serigala datang dan mengejar domba-dombanya untu di mangsa. Tentu saja anak gembala itu ketakutan dan lari terbirit-birit ke perbatasan kampung. “ Tolong..!! ada serigala.. ada serigaka..!!”. teriaknya. Tapi tak ada satu orang pun yang datang membantunya. Karena dia sering berbohong, maka kini tak ada lagi yang percaya padanya. Akhirnya, semua domba yang di gembalakanya habis di mangsa oleh kawanan serigala. Dan anak itu pun hanya dapat menangis menyesali perbuatanya.
Pesan moral yang ingin disampaikan adalah jangan pernah sekalipun berbohong. Karena sekali berbohong, maka tak ada yang akan percaya lagi pada kata-katamu. Meskipun pada waktu itu kamu berkata jujur.

#Tantangan10Hari

#Level10

#KuliahBunsayIIP

#GrabYourImagination