Selalu Ada yang Baik

UAS telah selesai, senang? tentu saja. Tapi, tak berapa lama juga kesenangan itu bertahan, karena sebuah telpon dari saudara saya yang mengabarkan bahwa nenek saya meninggal. What, meninggal? 😯 reaksi standar plus ucapan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Sedih? sedikit, hanya kaget saja, karena saya janji bakal pulang setelah sidang skripsi selesai, ternyata nenek saya duluan dipanggil Allah. Mungkin tingkat kesedihan saya yang tergolong kecil ini karena saya sangat super jarang ketemu nenek saya yang satu ini, tapi ini masalah lain. Akhirnya, saya dapet tiket untuk berangkat menuju Malang besok sorenya.

P
Gunung Batok yang nangkring di depan rumah nenek 😛

Berpikir berat pergi ke Malang, karena bakal terputus dengan semua koneksi yang ada, sempet rada kesel juga sih, kenapa rumah nenek jauh banget 😦 . Saya dan Ibu saya dijemput di daerah Gadang oleh kakak sepupu saya, dan perjalanan masih jauh menuju desa sumber soro, naik gununglah pokoknya, karena desa ini termasuk terpencil walau pembangunan telah sampai di sana dan kehidupan masyarakatnya bisa dikatakan cukup baik, dan rumah nenek saya persis di bawah gunung Batok 🙄 .

Sampai di rumah nenek, sudah kuduga semua fasilitas nyaris hilang, sinyal handphone yang terbilang kacau, channel TV yang juga agak-agak, termasuk koneksi internet 😦 dan cara hidup yang jauh berbeda dengan biasanya. Tapi, ternyata tetep ada sisi baik dari itu semua 🙂 cukup membuatku senang, sangat senang malah, karena seluruh keluarga saya ngumpul, yang dari Pekanbaru, Riau, dari Muara Teweh, Kalimantan Tengah, dari Malang tentunya, Surabaya, Bali, tapi ada yang kurang yang di Medan dan Semarang nggak datang 😦 .

hamparan perkebunan mulai dari kelapa, kopi, sampe jati pulak ada semua
hamparan perkebunan mulai dari kelapa, kopi, sampe jati pulak ada semua

Kegiatan saya selama di sana adalah pergi ke kebun, ternyata asik juga. Meliahat hamparan kebun tebu yang tak bisa kutemukan di Bali. Pergi menjelajah perkebunan kopi yang super luas milik pakde, sampai metik coklat yang merah-merah. Asli kehidupan desa banget, duduk mendekam berlama-lama di depan tungku kayu sambil ngusrek-ngusrek kayu bakar, kata bude saya kayak anak kecil. Dipikir-pikir, ya iyalah secara di rumah saya nggak ada tungku kayu dan saya baru nemu di sini.

Masyarakat di desa ini sedang disibukkan dengan budidaya nilam atau dilem, semua warga pasti punya kebun nilam. Pakde bilang nilam harganya lagi mahal banget, awalnya nilam cuma pohon semak liar di pinggir jalan desa, tapi entah bagaimana tiba-tiba ada yang mencari minyak nilam ini. Dan di desa ini banyak sekali pohon nilam, jadi deh seluruh warga membudidayakannya. Awalnya minyak nilam berharga 1 juta rupiah per kilo, tapi sekarang, karena sudah banyak yang membudidayakan harga minyak nilam turun menjadi 340 ribu per kilonya, tetap saja harga yang cukup fantastis untuk sebuah minyak. Pakde tak hanya punya kebun nilam tapi juga alat sulingnya, dia mematok harga 25 ribu per 1 kwintal nilam yang ingin disuling. Harga yang tak terlalu mahal untuk jumlah itu yang dapat menghasilkan minyak nilam hingga 5 liter.

Sumber mata air yang tak pernah berhenti ngalir dan jadi pusat permandian
Sumber mata air yang tak pernah berhenti ngalir dan jadi pusat permandian

Selain kehidupan ekonomi masyarakat yang berasal dari perkebunan (bukan pertanian seperti desa pada umumnya), masyarakat di desa sumber soro ini juga punya kebiasaan lain dalam hal mandi. Mereka semua mandi di sebuah pancuran yang airnya nggak pernah berhenti mengalir dari jaman Belanda hingga sekarang. Banyak juga warga desa yang memasang pipa ke pancuran ini, salah satunya keluargaku, tapi walau begitu banyak warga yang lebih senang mandi ke pancuran tersebut daripada di rumah mereka sendiri. Keponakan saya selalu mengajak saya mandi di sana, tapi saya tidak akan pernah mau 👿 mengerikan.

Tujuan utama pergi ke Malang tentu saja “nyekar” atau ziarah ke makam nenek saya. Saya pergi dengan beberapa saudara ke makam nenek, saya pikir nggak bakal terlalu jauh dari rumah, tapi ternyata, jauhnya minta ampun. Untuk mencapai pemakaman itu, kami harus mendaki gunung manual (tanpa bantuan alat), menerobos beberapa kebun kopi dan juga menurobos hutan. Huh, tuh pemakaman bener-bener ditengah hutan 👿 Waktu saya bilang capek, mama saya negur, katanya nggak boleh bilang capek, ra ilok gitu menurut adat *tapi saya beneran capek*. Walaupun akhirnya berakhir dan kita dengan sukses sampai di rumah lagi, tapi perjalanan menuju ke pemakaman itu berhasil dengan sukses pula membuat kaki saya sakit dan susah berjalan 😦

Walaupun dengan semua kesulitan itu, saya banyak mendapat pelajaran yang mungkin nggak akan pernah saya dapatkan di Bali. Masyarakat yang sama sekali tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka, selalu bersyukur dengan segala kekurangan dan kelebihan yang diberi Allah. Pengalaman saya main di tengah-tengah kebun sambil menunduk-nunduk melihat apakah ada jamur di bawah tanaman perkebunan. Sapaan ramah setiap warga yang berpapasan setiap hari dan ingatan mereka yang kuat antar sesama warga, walaupun telah lama tidak bertemu. dan tentu saja udara yang sangat berbeda dengan udara perkotaan, kualitas air yang super berbeda, serta indahnya alam yang membuat saya makin sadar bahwa saya begitu kecil di hadapan Tuhan.

21 thoughts on “Selalu Ada yang Baik

  1. ^

    kenapa emangnya mbak?

    Yah, liat aja gambar tempat pemandiannya, Seberapa tinggi tembok yang membantasi bagian perempuan dengan bagian laki-laki. 🙄

  2. Oh… baru tahu di Malang ada Pemandangan seperti itu… Sip dah. Bisa buat target liburan..!

  3. Rumah ku di majalengka juga di pedesaan
    tapi untungnya ngak seperti itu

    masih bisa cari niternet, sinyal masih kenceng *telkomsel sih*

    tapi teuteupp…. seger….
    masih kerasa desannya…

  4. @ tengkuputeh

    Menyaksikan alam hijau sungguh menyejukkan hati…

    Yup^^ Apalagi setelah mengalami tekanan UAS :mrgreen:

    @ jensen99

    Saya juga anak Malang… Tapi di tengah kota rumahnya…

    Really? kok saya nggak tahu ya, saya kenal semua manusia yang tinggal di Malang :mrgreen:

    *digebuk orang se-Malang*

    *disiram minyak nilam karena gak nyambung*

    *siram…siram…*

    @ Disc-Co

    Yup^^

    @ Arm

    wah, jadi inget kakek saya yg meninggal sebelum saya sempat ujian skripsi juga 😦

    Jangan sedih… Ok. Sudah batas yang ditentukan Tuhan, jadi jangan disesali 🙂

    my deep condolence

    Terima kasih…

    @ Jerry Gogapasha

    Oh… baru tahu di Malang ada Pemandangan seperti itu… Sip dah. Bisa buat target liburan..!

    Datanglah 😆 Dan anda pasti suka 😉

    @ Herly

    wah… terdengar seru juga ya…..

    Yup^^ seru banget 🙂

    Gak ku sangka, Dikau bisa mendaki gunung… he…

    Tentu saja bisa, cuma mendaki gunung ini :mrgreen:
    *digorok*

    @ belajaragamaislam

    seru………….. bikin ngiri aja,Lely dah lama gak pulkam….

    Seru dunkz 😆

    mana oleh2nya mbak?

    Oleh-oleh? 🙄 kenapa lely gak ke rumah, sudah abiz dikeroyok anak-anak 😆

    turut berduka cita jg ya mbak…

    Terima Kasih…

    @ aNGga Labyrinth™

    sinyal masih kenceng *telkomsel sih*

    Sama dengan sayaDilarang nyebut merk 😈

    tapi teuteupp…. seger….
    masih kerasa desannya…

    Itulah kenapa disebut desa, kalau nggak seger bukan desa lagi namanya, tapi kota 😆

    @ andyan

    *Tabur garam…*

    @ itikkecil

    turut berduka cita ya…

    Terima kasih…

    tapi kembali ke kampung buat saya seperti kembali ke akar..

    Kembali ke akar ? 🙄
    Saya kok nggak ya, karena sayangnya saya bukan pohon :mrgreen:
    *ditendang*

  5. @ Novi~Atrix

    Yup^^ benar-benar adem sampe nusuk tulang dinginnya.

    @ danalingga

    Wah, ternyata di tanah jawa masih ada kampung yang pake pancuran. Kirain cuman di sumatera sana yang masih tersisa.

    😯
    di jawa masih banyak kok, saya malah mikir di sumatra sana yang sudah nggak ada pancuran
    *dijitak karena sok tau*

    *terkenang kampung nenek*

    Pulang sana… huss…huss…
    tapi baliknya jangan lupa bawa oleh-oleh ya :mrgreen:

    @ Agung Rahmatullah

    Terima kasih ^^

    @ Lumiere

    Iya nih mbak, om dana kapan-kapan harus diseret ke pelosok jawa 😉

  6. mbak rukia.. (takut sebut nama aslinya) kok mbak lebih sedih waktu ichigo kurosaki yg mati? di banding waktu nenekmu meninggal…. brrrrrrr (kyk iklan cocacola) cape de,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s