Indonesia, Just for Fun, My Diary, Travel

Kabur Sejenak dari Rutinitas

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya punya waktu untuk kabur sejenak dari rutinitas yang sedikit membosankan. Kali ini, saya kabur menuju Semarang. Rencananya sih nggak cuma Semarang, tapi juga Yogyakarta dan Solo. Tapi, apa daya pria hujan dan tuan angin membuat semua rencana jadi kacau balau, juga nii-chan yang hanya punya sedikit kesempatan untuk mengantar saya berkeliling. Jadi yang bisa dikunjungi hanya Semarang dan sedikit Yogyakarta. Ah tidak apalah kan yang penting saya tetap bisa liburan dan bertemu nii-chan juga keponakan saya yang lucu :mrgreen:

Melihat cuaca yang agak tidak mendukung, akhirnya diputuskan bahwa saya berangkat melalui jalur darat, sekalianlah saya tahu daerah apa saja yang akan dilewati menuju Semarang berhubung saya sedikit buta jalan :mrgreen: Saya berangkat pukul 15.00 wita, perjalanan Denpasar-Semarang membutuhkan waktu sekitar 17-18 jam dan saya tiba di terminal Banyumanik Semarang sekitar pukul 07.30 wib dan tentu saja dijemput oleh kakak saya 😀

Yonif 400/Raider

Yonif 400/raider, Kompi Senapan C adalah tempat saya terdampar. Di sini area tertutup, jarang sekali ada orang di luar yonif yang berkeliaran, paling-paling hanya pedagang sayuran di pagi hari yang masuk ke batalyon ini. Sebelumnya, maaf kalau tidak sedikitpun terlintas di kepala saya untuk mendokumentasikan tempat ini :mrgreen: Saya berada di tempat ini sekitar seminggu alias dari awal datang sampai pulang lagi ke Denpasar. Di sini setiap hari yang dilihat tentara semua *ya iyalah* dan suara terompet tanda apel pagi setiap pukul 6 pagi serta apel malam pukul 9 malam. Tapi, saya dapat kesempatan langka nih, main ke gudang senjata. Wow banyak banget senjatanya mulai dari jenis snipper sampai pistol dengan berbagai macam ukuran kaliber peluru. Sayangnya tidak boleh mengambil foto di tempat ini 😦

Klenteng Sam Poo Kong

Pintu Masuk Klenteng Sam Poo Kong

Klenteng Sam Poo Kong atau sering juga disebut sebagai Gedong Batu oleh masyarakat lokal merupaka salah satu peninggalan sejarah. Konon dulunya tempat ini adalah tempat persinggahan laksamana Cheng Ho, seorang panglima perang tiongkok kelahiran Persia yang beragama Islam. Komunitas Cina yang datang ke Semarang dipimpin oleh Sam Poo Tay Djien atau dikenal dengan Zheng He (a.k.a. CHENG HO), seorang taykam Kaisar Cheng Zu ( dari Dinasti Ming) penganut agama Isalam yang diutus untuk mencari mustika di daerah utara. Armada Zheng He adalah armada Cina pertama yang mendarat di Semarang pada tahun 1401 AD.

Klenteng Sam Poo Kong
Klenteng Sam Poo Kong

Kita bisa masuk ke sini dengan membayar tiket masuk, tapi tenang nggak mahal kok 😉 selain itu di sini juga tersedia guide, kita bisa membayar jasa sebesar 20.000 untuk turis lokal dan 30.000 untuk turis mancanegara, tapi kalau tidak ingin memakai guide juga tidak apa-apa, kita bisa menolak dan mencari infonya di mbah google. Tak hanya melihat keindahan arsitektur klenteng serta kemegahannya, kita juga bisa menyewa kostum tiongkok kemudian berfoto di dalam area klenteng hanya dengan 75.000 saja.

Lawang Sewu dan Tugu Muda

lawang sewu
Lawang Sewu

Pemerintah Kota Semarang telah memasukkan Lawang Sewu sebagai salah satu dari 102 bangunan kuno atau bersejarah yang wajib dilindungi. Sesuai kaidah arsitektur morfologi bangunan sudut, Lawang Sewu yang cantik memiliki menara kembar model ghotic yang terletak di sisi kanan dan kiri pintu gerbang utama. Model bangunan gedung yang memanjang ke belakang makin mengesankan kekokohan, kebesaran, dan keindahan. Sayangnya, halaman Lawang Sewu kurang tertata sehingga tampak kotor, diharapkan pemerintah kota Semarang dan para pengunjung dapat lebih memperhatikan kebersihan wilayah ini.

Dari catatan sejarah, Lawang Sewu yang selalu dipadati wisatawan pada musim liburan, dibangun pertama kali pada tahun 1903 dan diresmikan pengunaannya pada 1 Juli 1907. Kekunoan Lawang Sewu kini tak kalah menarik dari Gereja Belenduk yang begitu fenomenal dan berdiri kokoh di kawasan Kota Lama Semarang. Tapi, sayangnya saya tidak mampir ke gereja tersebut 😦 Sebenarnya saya ingin masuk ke gedung ini, tapi apa daya kakak saya melarang keras saya masuk tanpa alasan jelas. Jadi deh saya hanya berkeliling di sekitar Lawang Sewu.

Tugu Muda
Tugu Muda

Maaf ya kalo fotonya jauh, karena saya memotret ini dari pintu masuk area Lawang Sewu jadi lumayan jauh dan bodohnya saya tidak menggunakan fasilitas zoom pada kamera :mrgreen: Awal Tugu Muda didirikan adalah dari ide untuk mendirikan monumen yang memperingati peristiwa Pertempuran Lima hari di Semarang. Pada tanggal 28 Oktober 1945, Gubbernur Jawa Twngah, Mr. WWongsonegoro meletakkaan batu pertama pada lokasi yang direncanakan semula yaitu didekat Alun-alun. Namun karena pada bulan Nopember 1945 meletus perang melawan Sekutu dan Jepang, proyek ini menjadi terbengkalai. Kemudian tahun 1949, oleh Badan Koordinasi Pemuda Indonesia (BKPI), diprakarsai ide pembangunan tugu kembali, namun karena kesulitan dana, ide ini jugaa belum terlaksana. Tahun 1951, Walikota Semarang, Hadi Soebeno Sosro Wedoyo, membentuk Panitia Tugu Muda, dengan rencana pembangunan tidak lagi pada lokasi alun-alun, tetapi pada lokasi sekarang ini. Desain tugu dikerjakan oleh Salim, sedangkan relief pada tugu dikerjakan oleh seniman Hendro. Batu yang digunakan antara lain didatangkan dari kaliuang dan Paker. Tanggal 10 Nopember 1951, diletakkan batu pertama oleh Gubernur Jateng Boediono dan pada tanggal 20 Mei 1953, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Tugu Muda diresmikaan oleh Soekarno, Presiden Republik Indonesia. Hingga sekarang, cukup banyak perubahan yang telah dilakukan terhadap arca di sekitar tugu muda, antara lain pembuatan taman dan kolam.

Kota Lama

Salah satu sudut Kota Lama
Salah satu sudut Kota Lama

Berdasarkan sejarahnya, kota Semarang memiliki suatu kawasan yang ada pada sekitar abad 18 menjadi pusat perdagangan. Kawasan tersebut pada masa sekarang disebut Kawasan Kota Lama. Kawasan Kota Lama Semarang disebut juga OUTSTADT. Luas kawasan ini sekitar 31 Hektar. Dilihat dari kondisi geografi, nampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga nampak seperti kota tersendiri, sehingga mendapat julukan “LITTLE NETHERLAND”. Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi. Ditempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Kota Lama Semarang ini adalah daerah yang bersejarah dengan banyaknya bangunan kuno yang dinilai sangat berpotensi untuk dikembangkan dibidang kebudayaan ekonomi serta wilayah konservasi.
Sebagai kawasan konservasi, seharusnya Kota Lama terawat dengan lebih baik. Maaf kalau saya katakan bahwa wilayah ini cukup kotor sehingga terkesan kumuh. Saya harap wilayah Kota Lama bisa lebih terawat dan lebih dipelihara, mengingat wilayah ini merupakan salah satu saksi sejarah Indonesia juga sebagai tempat tujuan wisata. Saya tidak mengelilingi seluruh bagian Kota Lama karena saat itu di beberapa tempat di Kota Lama tergenang banjir.

Stasiun Tawang

Stasiun Tawang
Stasiun Tawang

Stasiun Tawang merupakan pengganti Stasiun Tambak Sari milik N.I.S yang pertama. Adapun pembangunan stasiun pertama tersebut ditandai dengan upacara pencangkulan tanah oleh Gubernur Jenderal Mr. Baron Sloet van de Beele, bersamaan dengan pembentukan sistem perangkutan kereta api milik N.I.S pad atanggal 16 Juni 1864. N.I.S melayani jalur Semarang – Yogya – Solo. Setelah mengalami proses pembangunan yang tersendat-sendat akhirnya jalur pelayanan kereta api ini terselesaikan pada 10 Pebruari 1870. Berkembangnya kegiatan perdagangan menyebabkan stasiun Tambak Sari tidak memenuhi syarat lagi. Maka direncanakanlah stasiun yang baru dengan arsitek J.P de Bordes. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, stasiun ini diambil alih oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Semarang dan diganti dengan nama Perusahaan Jawatan Kereta Api Tawang ( PJKA).
Tidak banyak perubahan yang dilakukan pada stasiun ini terutama pada bagian facade dan sampai sekarang masih terawat dengan baik. Lapangan di depan Stasiun Tawang ( sekarang menjadi Folder ) juga mempunyai nilai historis yang tinggi yaitu sebagai ruang terbuka dari kota lama yang difungsikan sebagai tempat upacara, olah raga, pertandingan dan sebagainya.

Taman Depan Stasiun Tawang
Taman Depan Stasiun Tawang

Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Jawa Tengah
Masjid Agung Jawa Tengah

Menara Masjid Agung Jawa Tengah
Menara Masjid Agung Jawa Tengah

Masjid Agung Semarang atau Masjid Agung Jawa Tengah adalah masjid yang terletak di kota Semarang, provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Masjid ini dibangun pada tahun 2001 sampai dengan 2006. Masjid ini berdiri di atas lahan 10 hektar. Masjid Agung diresmikan oleh Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 14 November 2006. Masjid ini memiliki menara yang terdiri dari 19 lantai. Jika ingin masuk ke menara ini kita bisa membayar karcis masuk sebesar 5000 rupiah. Dari lantai 19 kita bisa melihat seluruh kota Semarang, apabila ingin lebih jelas kita bisa menggunakan teropong yang tersedia dengan memasukkan uang koin 500 rupiah/7 menit. Di lantai 18 menara terdapat beberapa resto dan pada lantai 2 dan 3 menara terdapat museum perkembangan Islam di Jawa Tengah.

Artefak di Museum Masjid Agung Jawa Tengah
Artefak di Museum Masjid Agung Jawa Tengah

Simpang Lima

Pusat kota Semarang ini adalah wilayah yang selalu ramai, di sini banyak sekali pedagang kaki lima, dan akan sangat ramai pada malam minggu, karena sepertinya seluruh anak muda Semarang berkumpul di tempat ini. Tapi seperti biasa, masalah yang sama pun dialami wilayah Simpang Lima ini, apalagi kalau bukan sampah. Kurangnya kesadaran akan kebersihan membuat pusat kota Semarang ini tampak kotor, padahal wilayah ini merupakan wilayah yang pasti akan dikunjungi pada wisatawan untuk berburu oleh-oleh khas Semarang.

Candi Prambanan

Candi Prambanan
Candi Prambanan

Walaupun terhalang hujan dan angin keras, perjalanan tetap berlanjut. Kali ini saya dengan diantar kakak tentunya akan menuju Klaten, daerah asal mantan pacar kakak saya a.k.a kakak ipar saya :p
Tentunya kalau ke Klaten tak lengkap bagi saya tanpa meluncur ke Yogyakarta, karena memang jaraknya yang tak terlalu jauh hanya sekitar 1 jam perjalanan dengan mobil. Namun, letak Candi Prambanan dari rumah kakak ipar saya lebih dekat lagi hanya 30 menit perjalanan. Jadilah kami mampir sejenak ke sana. Siapa yang tak tahu cerita Loro Jonggrang dan Bandung Bandawasa. Cerita rakyat yang sudah sangat tenar di Indonesia ini konon adalah latar berdirinya candi ini.

Candi Ratu Boko

Candi Ratu Boko
Candi Ratu Boko

Rasanya ada yang kurang kalau sudah sampai di Yogjakarta tapi belum mampir ke Candi Ratu Boko. Hanya 3 km dari pertigaan ke Perambanan. Candi Ratu Boko yang juga dikenal dengan nama Istana Ratu Boko ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari candi-candi yang lain. Nama Kraton Boko berasal dari kata Kraton dan Ratu Boko. Kraton berasal dari kata Ka-da-tu-an yang berarti tempat raja. Ratu Boko berasal dari Ratu yang berarti Raja dan Boko adalah nama seekor burung. Candi ini terletak di sebuah bukit yang sepi sehingga terkesan damai dan nyaman dengan berlatar kota Yogyakarta dan Candi Prambanan disertai dengan semilir angin membuat tempat ini semakin nyaman.

Malioboro

Jalan Malioboro Yogyakarta
Jalan Malioboro Yogyakarta

Jalan Malioboro…. Ini berarti saatnya beli-beli, kawasan yang selalu ramai ini tidak boleh lupa untuk dikunjungi, selain untuk berbelanja oleh-oleh, di sini kita bisa melihat kerajinan warga Jogja yang cukup beragam. Merasa kurang di Malioboro? Bolehlah kita tengok ke depan, di sana ada pasar Beringharjo yang juga menyajikan berbagai kerajinan dan barang-barang yang sangat layak dijadikan buah tangan. Kita harus pintar-pintar menawar untuk dapat barang bagus dengan harga cukup miring ya… dan tentu saja jangan lupa cari yang khas dari Jogja, apalagi kalau bukan batik dan bakpia pathok :mrgreen:

Sekianlah seluruh perjalanan saya selama seminggu di Semarang. Walau tidak sempat ke Solo, tapi itu bukan masalah besar, lain waktu pasti saya akan main ke sana. Lagipula perjalanan menuju Denpasar dari Semarang melewati Solo, jadi tidak terlalu kecewa juga. Senang bisa menghabiskan waktu di Semarang. Terima kasih buat kakakku tersayang yang sudah mau mengantarku berjalan-jalan di sela-sela kesibukannya 😉 juga terima kasih buat kakak iparku dan keponakanku yang nangis dan memaksa ikut pulang ke Denpasar 🙂 juga buat Yonif 400/raider yang jadi tempat saya tinggal selama di Semarang 🙂 juga buat dinas pariwisata kota Semarang atas semua infonya 🙂

Advertisements

13 thoughts on “Kabur Sejenak dari Rutinitas”

  1. Oh Toehan… banjak gambar di sini roepanja!
    Patoetlah djadi keong kompoeter boetoet ini rasa-rasanja 😥

    Tapi, elok djoe dakoe tersasar kemari. Djadi tahoe bagaimana poela soeodoet-soedoet penghidoepan di sana….

    Ah…. Semarang… njaris doeloe dakoe maoe ke sana, tapi tak dikasih mom and dad…

    *hatsaah… botjah kampoeng ber-mom-and-dad!* 😆

    Tinggal menanti wisata koeliner sadja ini tampaknja :mrgreen:

  2. Masjid AGung-nya Jateng bagus banget loh…. 🙂
    Pernah liat di TV meskipun terbuka, tapi bisa muncul “payung”-nya… 😀

    Di Jogja nyobain kopi joss gak? ^_^

  3. @ All
    maap ya kl baru bales komen
    *sedang bertapa di gunung kelud*

    @ Akhy

    oh hai adikku :p

    @ Andyan

    Ayo ta jalan-jalan, merilekskan pikiran sejenak

    @ Dulu Nyaris Ke Semarang™

    Ah…. Semarang… njaris doeloe dakoe maoe ke sana, tapi tak dikasih mom and dad

    Ya mom and dad-nya diajak sekalian to, pasti diijinin dah :mrgreen:

    @ lambrtz

    Kok ndak ada foto makanan?

    sak janne ya wisata kuliner pisan, tapi apa daya lupa e motoi makanannya. lain kali saya foto deh makanannya, maap ya m(_ _)m

    @ TamaGO

    wow, denpasar-semarang lewat jalur darat. saya ke surabaya jalur darat aja rasanya udah melelahkan banget

    rencananya sih ga via darat, tapi melihat sikon ya jd lebih baik via darat aja *cuaca lg buruk*
    lagian via darat asyik juga, saya bisa liat2 sekalian toh ya 🙂

    @ Fitri

    yup lagi asik^^ mumpung punya waktu main ke tempat kakak

    @ AngelNdutz

    kapan-kapan diajak deh 😆
    *gimana caranya coba*

    @ isdiyanto

    enak dong, makanya ayo jalan-jalan 😀

    @ qzink69

    Saya juga dulu sempet ke Semarang dan mampir ke Lawang Sewu itu. Seneng sih, lumayan bikin keri seputar udel..

    lah kenapa?

    @ Asop

    Masjid AGung-nya Jateng bagus banget loh….
    Pernah liat di TV meskipun terbuka, tapi bisa muncul “payung”-nya…

    iya keren, cantik banget masjidnya
    *di bali ga ada masjid sebagus dan sebesar ini*

    Di Jogja nyobain kopi joss gak? ^_^

    dapet nyoba sak sruput punya kakak, lumayan juga rasanya. tapi, saya ndak suka kopi e :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s