Life, Masakan, My Diary

Wanita dan Dapur

Karena beberapa waktu terakhir ini saya mainan di dapur terus *lagi getol-getolnya nyoba resep* walaupun saya nggak jago masak, tapi yang penting apa yang saya buat selalu ludes kalo udah ditaruh di meja makan. Jadi postingan kali ini berhubungan dengan dapur. Dan kebetulan juga, saya sedang sedikit berdebat dengan seorang teman yang nggak hobi ke dapur. Dulu sekali *lupa kapan tepatnya* neneknya ibu saya *itu buyut kan namanya* pernah berkata “buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan berakhir di dapur juga”. Saya rasa ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan ucapan nenek buyut saya ini. Teman saya termasuk yang tidak setuju, alasannya karena terkesan mendiskriminasikan perempuan. Sedangkan saya? Saya 50-50 lah untuk soal ini, alasannya?

50% Tidak Setuju

Memang terdengar agak diskriminatif sih pernyataan nenek buyut saya itu *untung pernyataan itu tidak menjadi prinsip yang turun-menurun*. Karena, perempuan juga berhak mengenyam pendidikan yang sama tingginya dengan laki-laki. Perempuan juga boleh bekerja seperti halnya yang dilakukan laki-laki. Toh tidak dapat dipungkiri kalau saat ini bidang-bidang yang dulu hanya dikerjakan para pria telah banyak dilakoni para wanita. Ada banyak contohnya, seperti polisi, tentara, bahkan kuli bangunan. Selain itu, perempuan kelak akan menjadi seorang ibu dan itu artinya menjadi seorang guru pertama bagi anak-anaknya, bagaimana bisa menjadi guru dalam keluarga kalau seorang ibu tidak bisa memberi jawaban atas pertanyaan anak-anaknya. Dan untuk itu, seorang perempuan pun membutuhkan pendidikan yang baik. Jadi, saya tidak setuju dengan pernyataan nenek buyut saya itu bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi 😉

50% Setuju

Tidak bisa dipungkiri perempuan akan menjadi seorang “ibu generasi” yang tidak hanya harus cerdas dalam pendidikan tapi juga harus bisa menjamin pemenuhan gizi keluarganya. Saat ini banyak sekali perempuan-perempuan yang tidak suka memasak, entah memang karena tidak suka atau karena malas, atau takut kotor jika masuk dapur. Walhasil memegang pisau pun tidak lulus atau memasak air masih gosong. Tugas utama perempuan nantinya adalah untuk keluarganya dan itu juga berarti harus mampu bekerja di dapur untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Ibu saya selalu bilang kalau “perempuan itu harus bisa bekerja di dapur, setinggi apapun tingkat pendidikannya maupun sesibuk apapun pekerjaannya di luar rumah, perempuan harus tetap menyempatkan diri masuk dapur dan menyiapkan makanan bagi keluarganya. Karena jika tidak, maka si suami bisa “jajan” di luar dan itu bisa jadi masalah runyam dalam keluarga”. Jadi ibu selalu berpesan kepada saya “kamu boleh lanjut sekolah S2, S3, bahkan sampe eS teler sekalipun asal bisa memasak nasi dengan benar (gak pake rice cooker), motong dengan benar, masak, dan menggoreng dengan benar” . Jadi, tentu saja saya setuju kalau perempuan itu harus mau dan bisa masuk dapur.

Jadi, para wanita-wanita atau perempuan-perempuan atau apapun sebutannya yang berada di luar sana, yang sibuk dengan pekerjaan dan karir,yang mengklaim diri tidak bisa memasak atau membuat kue, ayolah coba masuk dapur dan belajar. Memasak maupun membuat kue itu tidak sulit kok, hanya butuh kemauan untuk belajar dan tahu ilmunya. Lagipula bekerja di dapur itu bukan pekerjaan rendahan, karena tetap saja harus belajar, buktinya ada sekolah khusus untuk tukang masak alias chef. Jadi, nggak perlu malu kan masuk ke dapur untuk memasak atau membuat kue. Dan lagi pendidikan yang tinggi bagi wanita juga tidak akan mubazir jika menjadi ibu rumah tangga karena ia bisa menerapkannya kepada anak-anaknya atau bisa bekerja dari rumah (home office). Tetapi jika memilih bekerja di luar rumah juga tidak ada salahnya selama tidak mengabaikan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga 😉 .

Jadi, apakah kalian sudah masuk dapur hari ini? Dan apa yang sudah kalian masak? 😀

Advertisements

25 thoughts on “Wanita dan Dapur”

  1. luar biasa…
    kayaknya ini nantinya jadi syarat saya untuk mencari calon istri.
    sungguh di kota besar keahlian memasak bagi seorang perempuan seakan menjadi hal yang remeh 😦

  2. @ ghani arasyid

    sungguh di kota besar keahlian memasak bagi seorang perempuan seakan menjadi hal yang remeh

    Yup, karena saat ini memasak (bekerja di dapur) telah dianggap pekerjaan pembantu. Sangat disayangkan. Padahal memasak itu menyenangkan 😉

  3. jadi inget ini 😀

    Jadi, apakah kalian sudah masuk dapur hari ini? Dan apa yang sudah kalian masak? 😀

    kemaren sih bikin sandwich…bisa diitung masak juga kan ya…hehehe…

  4. @ Felicia

    kemaren sih bikin sandwich…bisa diitung masak juga kan ya…hehehe…

    hmm…bisa ngkali… :mrgreen:
    Tapi setau saya memasak itu harus ada proses “memanaskan” :p

  5. Tidak bisa dipungkiri perempuan akan menjadi seorang “ibu generasi” yang tidak hanya harus cerdas dalam pendidikan tapi juga harus bisa menjamin pemenuhan gizi keluarganya

    Setujuuu….!!!!

    …memasak air masih gosong…

    air koq gosong sist….sat(b.jawa)…kali….. :mrgreen:

    Padahal memasak itu menyenangkan 😉

    Setuju….lagi….
    1.terutama bagian nge-taste :mrgreen: tapi klo ma rukia chan nge-taste nya g boleh banyak2 😦
    (Yai iya lah wajarnya nge-taste kan sakjuput klo banyak namanya muluk *dipentung)
    2.selain menyenangkan,ada kepuasan tersendiri kalo bisa desain bekal lucu2 spt disini 🙂

  6. saya suka masak tapi engga pede ngasi ke orang laen apalagi kalo pas masak di rumah camer… 😆

    hari ini saya uda masuk dapur… bikin mie kuah hihihi

  7. Ini bisa jadi motivasi buat saya untuk belajar masak 😛 meskipun ibu saya jarang mengajarkan saya memasak. bahkan mau membantu memotong tempe saja malah disuruh kerja yang lain 😐

    Oh ya, mau tanya gimana dengan pendapat mbak Rukia soal perempuan yang telah menikah tapi merasa kalau pekerjaan rumah tangga sama seperti pekerjaan asisten rumah tangga (pake istilah sopan 🙂 ). Soalnya waktu ia masih lajang, ia melihat ibunya yang selalu bekerja tanpa henti sedangkan bapaknya jarang membantu ibu dalam pekerjaan rumah ?

    Thanks, sorry kalo jadi curhat :mrgreen:

  8. Hari ini saya sudah masuk dapur, tapi ga masak apapun 🙂

    sebagai seorang pecinta alam saya bisa masak beberapa jenis masakan yang sederhana, bahkan kadang kalau sudah di gunung/hutan, mencampur bahan apa saja untuk di masak, karena kalau sudah menyatu dengan alam, dan makan bareng teman-teman, apapun masakan/makanannya semuanya akan terasa sangat lezat dan nikmat 🙂

  9. @ Amd

    Selama bahan dasarnya mie instan, saya pede aja masuk dapur… sudah teruji, sudah terbukti…

    Syukur kalo sukses bikin mie instan 😆
    *pernah liat orang bikin mie instan gagal total*

    @ Kazumi

    1.terutama bagian nge-taste tapi klo ma rukia chan nge-taste nya g boleh banyak2

    ya iyalah, yang ada kalo nge-taste aja banyak2 tu makanan udah habis duluan sebelum dihidangkan 😕

    2.selain menyenangkan,ada kepuasan tersendiri kalo bisa desain bekal lucu2 spt disini

    mari kita buat 😈

    @ eMina

    Masak di rumah saya aja yukzz….

    @ Asop

    Ya belajarlah, ga da yang ngelarang cowok bisa masak kok 😉

    @ christin

    saya suka masak tapi engga pede ngasi ke orang laen apalagi kalo pas masak di rumah camer…

    lah kenapa ga pede? kan disuruh nyobain supaya tahu kurangnya di mana kan ya. Saya pertama kali belajar masak, dengan PeDenya nyuruh orang nyobain, walaupun rasanya ancur *parah banget* tapi setelah itu bisa memperbaiki jadi lebih baik walaupun dengan segala macam kritik keras 😛

    hari ini saya uda masuk dapur… bikin mie kuah hihihi

    ga papa yang penting dah masak :mrgreen:

  10. @ Liroesdy

    Ini bisa jadi motivasi buat saya untuk belajar masak meskipun ibu saya jarang mengajarkan saya memasak.

    Nggak apa-apa kalo ga diajarin masak ma ibu, belajar sendiri aja, berbagai resep masakan yang mudah dan praktis bertebaran di internet 🙂
    *ibu saya juga ga pernah ngajarin masak, jadi belajar masak sendiri*

    Oh ya, mau tanya gimana dengan pendapat mbak Rukia soal perempuan yang telah menikah tapi merasa kalau pekerjaan rumah tangga sama seperti pekerjaan asisten rumah tangga (pake istilah sopan ). Soalnya waktu ia masih lajang, ia melihat ibunya yang selalu bekerja tanpa henti sedangkan bapaknya jarang membantu ibu dalam pekerjaan rumah ?

    Seperti yang saya bilang, kodrat utama perempuan yang telah menikah adalah untuk keluarganya itu mengapa ada julukan “ibu rumah tangga” tapi bukan berarti dia tidak boleh bekerja di luar rumah. Tapi, yang harus dia ingat bekerja di luar rumah bukan berarti melupakan kodratnya sebagai perempuan. Karena perempuan tidak berkewajiban mencari nafkah, melainkan sebagai pendukung suaminya dalam menjalankan rumah tangga. Dan si suami, memang tugas utamanyalah mencari nafkah bagi keluarganya di luar rumah dan dia pun tidak berkewajiban mengerjakan pekerjaan rumah (masak,nyuci, bersih2,dll). masalah si suami ini mau membantu atau tidak itu lebih ke niat dia untuk bersedekah dengan membantu istrinya, sama saja kalau si istri bekerja di luar rumah, itu juga lebih ke niat dia bersedekah kepada suami.
    Pernah baca kisahnya Fatimah Azzahra, ra dan Ali Bin Abu Thalib, ra? Fatimah bekerja seperti asisten rumah tangga tanpa bantuan Ali dan tanpa mengeluh, hingga tangannya luka-luka. Tetapi ketika Ali tahu kalau Fatimah bekerja hingga melukai dirinya sendiri, Ali menyarankan Fatimah untuk mencari seorang pelayan, bukannya serta merta menggantikan Fatimah bekerja di rumah, karena tugas utama dia adalah mencari nafkah di luar rumah. Jadi, jangan jadikan apa yang terjadi pada orang tua kita itu untuk melanggar kodrat kita sebagai perempuan *karena papa saya pun begitu* semua itu bisa dikompromikan. Seperti kata iklan “mari ngeteh, mari bicara”. Semoga bisa membantu 😉

    Thanks, sorry kalo jadi curhat

    Ah tidak apa-apa, karena berbagi itu bisa mengurangi sedikit beban. Jadi, take in easy sajalah 🙂

    @ rose

    saya suka memasak, jadi saya akrab dengan dapur… ^^

    Selamat, teruskan perjuanganmu nak… 😆
    *apasih*

  11. Saya mikirnya, wanita karir yang hobi ke dapur mah, kereeenn!

    Saya terinspirasi dari komik yg pernah dibaca, memasak itu bisa bentuk penyaluran perasaan cinta. That’s why mother cooking is favorite to their childreen. 😀

  12. aku bisanya masak air sama masak indomie *sweatdropped*

    haha, aku ga ada perasaan cewek bisa masak lebih keren atau gimana, tapi kalo aku dimasakin langsung sama seseorang, aku suka juga (haha kontradiktif, atau malah plin plan?)

    haha maafkan orang yang penuh dosa ini, mbak rukia

  13. hmm.. jadi keinget sedikit diskusi sama temen smk..

    “yan, kamu nanti klo nyari istri yang gimana?”

    “hmm…. klo kamu sendiri gimana ram?”

    “klo aku sih, pokoknya harus pinter masak. bisa sarapan di rumah, masakin buat makan siang, pulang kerja makan malam udah siap”

    -kurang lebih seperti itulah-

    dan saya pikir perkataan dia ada benarnya 🙂

  14. kalo di jakarta mah, kost saya enggak ada dapurnya. jadinya enggak pernah ke dapur

    kalo di jogja, saya rajin ke dapur. soalnya pintu keluar satu-satunya kudu ngelewatin dapur 😐

    btw, ibu masa depan itu enggak cuman pinter masak, tapi berpengetahuan luas. intinya, pengetahuannya bukan cuman di depan talenan di dapur, tapi juga kudu punya wawasan dibelakang meja. susah ya? tapi justru itu yang bikin wanita lebih bernilai

    *nyungsep*

  15. @ Zephyr

    maaf kelewatan… :mrgreen:

    […] karena kalau sudah menyatu dengan alam, dan makan bareng teman-teman […]

    betul betul betul. Jadi inget jaman kemah dulu, padahal masaknya kacau balau, tapi enaknya aja soalnya makannya rame-rame ditambah backsound suara air mengalir deras 🙂

    @ mbak Snowie

    Saya mikirnya, wanita karir yang hobi ke dapur mah, kereeenn!

    kalo hobi ke dapur cuma buat makan doang sih ga keren uni *ikut2 mbak nurma* kalo sekalian masak itu baru keren 😛
    *dipentung*

    @ Fitri

    Ayam goreng itu kesukaan keponakan saya loh 🙂

    @ usahapemuda

    masak sendiri dung ah, belajaarr~~ 😆

    @ reikira

    haha, aku ga ada perasaan cewek bisa masak lebih keren atau gimana, tapi kalo aku dimasakin langsung sama seseorang, aku suka juga (haha kontradiktif, atau malah plin plan?)

    Bukan lebih keren sih tepatnya. Tapi, cewek yang jago cari duit dan selalu sempat ke dapur buat masak itu punya nilai plus aja 😉

    haha maafkan orang yang penuh dosa ini, mbak rukia

    Dimaafkan kok dik reikira *elus-elus jenggot*

    @ andyan

    dan saya pikir perkataan dia ada benarnya

    iya keknya coz temen saya (cowok) yang seorang chef juga bilang kalo istrinya nanti wajib bisa masak 😐

    @ Hey, Jude!

    btw, ibu masa depan itu enggak cuman pinter masak, tapi berpengetahuan luas. intinya, pengetahuannya bukan cuman di depan talenan di dapur, tapi juga kudu punya wawasan dibelakang meja. susah ya? tapi justru itu yang bikin wanita lebih bernilai

    Lah iya, kan saya bilang begitu juga, coba baca lagi 😉

  16. yang lebih ekstrim lagi, teman wanitaku pernah bertutur bahwa wanita harus mampu menjalani tiga profesi sekaligus dalam rumah tangga. menjadi pelayan untuk rumah tangganya, menjadi guru bagi anak-anaknya dan terakhir menjadi pelacur yang selalu menyenangkan saat melayani suaminya..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s