Bali, Indonesia, Just for Fun, Religi, Travel

Si Seram yang Dinanti

ogoh-ogoh vs ogoh-ogoh

Hari ini gelaaappp…tapi langitnya lagi cantik-cantiknya, semua bintangnya keluar, jarang-jarang langit malam di Bali secerah ini πŸ™‚ Saya suka sih Nyepi, tapi jadi nggak bisa keluar, nggak ada siaran TV, semua jadi gelap, dan saya jadi nggak bisa tidur. Tapi, semua itu bisa diakalin dan bukan masalah besar, dan ini adalah cerita lain πŸ˜›

Sekarang saya mau cerita sehari sebelum perayaan Nyepi, biasanya disebut “Hari Pengerupukan” atau “Hari Tawur Kesanga”. Pada hari pengerupukan ini, ada aktivitas yang selalu dinanti oleh seluruh warga Hindu Bali *nggak cuma warga Hindu sih, soalnya saya juga selalu nungguin πŸ˜› * apalagi kalau bukan perhelatan yang mempertontonkan kreativitas Sekaa Teruna Teruni (organisasi pemuda) di Bali, yaitu “Pawai Ogoh-ogoh” πŸ˜€

Ogoh-ogoh itu telah lama ada, dan selalu menjadi rutinitas setiap kali menjelang Nyepi, entah kapan tepatnya ogoh-ogoh ini selalu mengawali perayaan Nyepi. Menurut informasi yang pernah ada, diperkirakan ogoh-ogoh mulai dikenal sejak jaman Dalem Balingkang yang pada saat itu ogoh-ogoh dipakai pada saat upacara Pitra Yadnya (upacara penghormatan pada arwah/ngaben). Pendapat lain menyebutkan ogoh-ogoh tersebut terinspirasi dari tradisi Ngusaba Ndong-Nding di desa Selat Karangasem. Ada juga yang menyebutkan kalau ogoh-ogoh adalah barong landung yang merupakan perwujudan dari Raden Datonta dan Sri Dewi Baduga (pasangan suami istri yang berwajah buruk dan menyeramkan yang pernah berkuasa di Bali) cikal-bakal dari ogoh-ogoh yang kita kenal saat ini. Namun, ada juga anggapan bahwa ogoh-ogoh mulai diperkenalkan pada sekitar tahun 70’an sebagai kegiatan untuk mengisi waktu luang.

Ogoh-ogoh biasanya dipertunjukkan dalam rentetan perayaan nyepi yaitu pada hari tawur kesanga. Prosesi pengarakan ogoh-ogoh pada malam sebelum hari raya Nyepi melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dahsyat. Ogoh-ogoh berperan sebagai simbol prosesi penetralisiran kekuatan-kekuatan negatif atau kekuatan Bhuta. Ogoh-ogoh yang dibuat pada perayaan Nyepi ini merupakan perwujudan Bhuta Kala yakni unsur alam yang terdiri dari air, api, cahaya, tanah, dan udara yang divisualisasikan dalam wujud yang menyeramkan. Sebagai simbol kekuatan alam yang berlebihan dan dapat menimbulkan kerusakan. Kekuatan itu meliputi Bhuana Agung (Alam Raya) dan Bhuana Alit (Diri Manusia).

Namun ternyata, Ogoh-ogoh sebetulnya tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi. Patung yang dibuat dengan bam-bu, kertas, kain dan benda-benda yang sederhana itu merupakan kreativitas dan spontanitas masyrakat yang murni sebagai cetusan rasa semarak untuk memeriahkan upacara ngrupuk. Karena tidak ada hubungannya dengan Hari Raya Nyepi, maka jelaslah ogoh-ogoh itu tidak mutlak ada dalam upacara tersebut. Namun benda itu tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan upacara dan bentuknya agar disesuaikan, misalnya berupa raksasa yang melambangkan Bhuta Kala.

Walaupun tidak memiliki hubungan langsung dengan perayaan Nyepi, ogoh-ogoh sudah menjadi sebuah budaya dan rutinitas menjelang Nyepi. Setiap Banjar (setara RT kalau di daerah lain) pasti akan membuat ogoh-ogoh dan biasanya ogoh-ogoh ini dilombakan, dengan adanya lomba ogoh-ogoh Sekaa Teruna Teruni jadi lebih terpacu untuk menajamkan kreativitas serta mengingat kembali cerita-cerita rakyat Bali yang biasanya menjadi dasar dalam pembuatan ogoh-ogoh.

Beberapa ogoh-ogoh yang kemarin sempat saya abadikan saat menyusuri Kota Denpasar

Ogoh-ogoh Banjarku

Ini diambil dari cerita perang bharata yuda

Nggak tau behind story-nya apa :mrgreen:

Ogoh-ogohnya lagi nyawer πŸ˜†

Upin & Ipin lagi mau main sepeda πŸ™‚

Ayo main bola sama Upin & Ipin πŸ˜‰

Advertisements

18 thoughts on “Si Seram yang Dinanti”

  1. ^

    Oke, done. Upin & Ipinnya udah ditambah πŸ™‚

    *masih penasaran dengan bali yang gelap*

    Kalau dilihat dari langit Bali seperti “The Lost Island” πŸ˜›
    Tapi maaf, ga bisa motoin :mrgreen: sebaiknya sih datang sendiri aja ke Bali pas Nyepi, ok πŸ˜‰

  2. wawasan soal kebudayaan daerah-nya oke juga. jadi sedikit ngerti soal budaya di daerahnya mbakyu ruqyah πŸ˜› saya pikir ogoh-ogoh wajib hadir, dan merupakan bagian vital dari perayaan nyepi (sejenis keberadaan opor dan ketupat pas lebaran)

    saya pikir ada bentuk saklek dari ogoh-ogoh, ternyata boleh dimodifikasi ya… si ipin dan upin ikutan main jadinya…:| senasinya jadi lain πŸ˜›

    btw, saya suka ogoh-ogoh yang diambil dari latar perang akbar bharata yudha. keliatan keren πŸ™‚

  3. @ Asop

    Lah itu di foto ke-5, megang rokok?

    iya emang pegang rokok. Kalau saya sih jujur kurang suka ogoh-ogoh yang model gini :mrgreen:

    @ iiN

    *jadi pengen ke Bali…

    mari-mari sini πŸ™‚

    @ Takodok!

    ya ampun beneran sereeemmm
    tapi seru nampaknya

    Iya serem, apalagi kalau pas sudah mulai diarak, tapi seremnya terkalahkan dengan keseruannya :mrgreen:

    @ Kurotsuchi

    wawasan soal kebudayaan daerah-nya oke juga.

    Mungkin karena pengaruh saya kelamaan tinggal di Bali kali, jadi ya tahulah sedikit-sedikit πŸ™‚

    saya pikir ogoh-ogoh wajib hadir, dan merupakan bagian vital dari perayaan nyepi

    Nggak, seperti yang saya bilang, ogogh-ogoh ajang mempertunjukkan kreativitas. Kalau wajib hadir, Bali mungkin dah kena “tulah” waktu ogoh-ogoh dilarang saat pilpres πŸ™‚

    (sejenis keberadaan opor dan ketupat pas lebaran)

    Yakin opor+ketupat selalu ada di lebaran? kalau Kurotsuchi ke rumah saya pas lebaran, tidak akan menemukan opor + ketupat lo πŸ˜‰

    saya pikir ada bentuk saklek dari ogoh-ogoh, ternyata boleh dimodifikasi ya… si ipin dan upin ikutan main jadinya…:| senasinya jadi lain

    Nggak ada sih, tapi kebanyakan ya yang berwajah seram-seram itu, karena merepresentasikan “Bhuta Kala”

    btw, saya suka ogoh-ogoh yang diambil dari latar perang akbar bharata yudha. keliatan keren

    Yup, saya juga suka πŸ™‚ rata-rata ogoh-ogoh yang ditampilkan selalu memiliki behind story tentang kehidupan dewa-dewi, raksasa, atau hal-hal yang bisa memberi pelajaran tentang dharma πŸ™‚

    @ greengrinn

    jadi, ogoh-ogoh itu bentuknya bisa apa aja, gitu? termasuk yang upin ama ipin?

    Yup, bisa apa aja. Tapi, seperti yang saya bilang ke Kurotsuchi, ada behind story-nya πŸ˜‰

  4. wah dipasang juga ipin upinnya, malam nyepi jalan jadi rame ada pawai ogoh-ogoh. Jadi susah cari makan, pas mau dinner ke galeria jam 7 ternyata udah tutup 😦

  5. waaaah saya belum pernah liat prosesi nyepi di Bali… tapi ya itu ogoh-ogoh nya serem banget 😐 gosipnya ogoh-ogoh iotu ada “isi”-nya juga?

  6. @ Tamago

    Jam 7 ke Galeria? ya jelas tutuplah… bukannya jam 5 aja jalan-jalan udah pada ditutup πŸ˜•

    @ Zephyrus

    Anime/manga? ga nemu saya, kalo yang bentuk kamen rider ada, tapi sayangnya saya nggak moto πŸ™‚

    @ Andyan

    Ya direncanakan dong, masukin ke list “harus dikunjungi” gitu πŸ˜€

    @ Chic

    Kalo dulu ogoh-ogoh emang harus dibakar karena ber-“isi” tapi sekarang banyak yang dijual, jadi masalah ada “isi”nya untuk saat ini saya tidak tahu. Cuma, sebelum diarak ogoh-ogoh lebih ringan *kata yang nggotong* tapi begitu udah di”bantenin” (sembahyangin) jadi lebih berat/sangat berat. Jadi ya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s