Bali, Catatan Hidup, Life, My Diary, Perdamaian, Religi, Travel

Nganyarin Ring Pura Mandhara Giri

persembahyangan Umat Hindu

20 Juli 2011, pukul 08.30 Wita, bus yang akan membawa saya dan teman-teman kantor menuju Lumajang akhirnya berangkat juga. Awalnya saya tidak ingin ikut menuju Lumajang, selain karena tidak ada hubungannya dengan diri saya sendiri juga beberapa pasang mata yang menatap heran dan di sana di mata mereka terlihat pertanyaan “Buat apa Rukia ikut ke Lumajang?”. Tapi apa daya mereka, atasan langsung memaksa saya untuk tetap ikut, “Ngapain kamu sendirian di kantor?” itu komentarnya, jadi saya memutuskan untuk ikut. Apa serunya perjalanan ini? Tentu saja, keseruan yang paling mencolok adalah jadi pusat perhatian, bayangkan saja dari seluruh armada yang berangkat (entah berapa bus) hanya saya yang berjilbab :mrgreen: Keseruan yang lain adalah saya jadi tahu setidaknya sedikit cerita sejarah dari masing-masing tempat yang saya kunjungi dan melihat Umat Hindu Non Bali dengan tata cara yang sedikit berbeda.

Perjalanan dimulai menuju ke arah Negara atau Jembrana, yaitu menuju Desa Yehembang, Kecamata Mendoyo. Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Pura Luhur Rambut Siwi. Selain nuur tirta atau memohon air suci, di Pura Luhur Rambut Siwi, seluruh rombongan kecuali saya dan seorang teman muslim saya, turun untuk melakukan persembahyangan memohon keselamatan selama melakukan perjalanan menuju Lumajang.

Pura Luhur Rambut Siwi

Asal mula Rambut Siwi tertuang dalam Dwijendra Tatwa. Secara singkat, Pura Luhur Rambut Siwi bermula dari Sanghyang Dwijendra yang menyusuri pantai di daerah Jembrana dan bertemu seorang tukang sapu di depan sebuah Parahyangan. Tukang sapu tersebut meminta kepada Sanghyang Dwijendra untuk melakukan semedi di Parahyangan tersebut dengan mengatakan bahwa Parahyangan itu angker dan keramat. Sanghyang Dwijendra memenuhi permintaan si tukang sapu dan beliau pun melakukan semedi seraya mengalunkan pujian kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Namun, ditengah semedinya, gedong pelinggih (tempat memuja) roboh secara tiba-tiba yang menyebabkan kerusakan pada Parahyangan. Tukang sapu merasa sangat sedih melihat gedong pelinggih tersebut roboh dan memohon kepada Sanghyang Dwijendra untuk memperbaikinya. Melihat keteguhan dan ketulusan hati si tukang sapu, Sanghyang Dwijendra pun akhirnya mengabulkan permintaan si tukang sapu untuk memperbaiki Parahyangan. Selanjutnya Sanghyang Dwijendra melepas gelung hingga rambutnya terurai dan mencabut sehelai rambutnya dan diberikan kepada si tukang sapu serta berpesan agar rambut tersebut diletakkan di pelinggih dan disiwi (dijunjung/disembahyangi) agar semua mendapat keselamatan dan kesejahteraan.

Pura Luhur Rambut Siwi terdiri dari 8 Pura dan setiap Umat Hindu yang melakukan persembahyangan diharapkan mengikuti urutan tersebut. Pertama, persembahyangan dilakukan di Pura Pesanggrahan yang letaknya di pinggir jalan Denpasar-Gilimanuk. Selanjutnya persembahyangan dilanjutkan ke Pura Taman yang berada di sebelah timur jalan masuk ke lokasi Pura Rambut Siwi. Selesai di Pura Taman, Umat Hindu menuju ke Pura Penataran. Lokasinya berada di timur Pura Luhur dan turun ke bawah. Selanjutnya persembahyangan dilanjutkan ke Pura Goa Tirta, Pura Melanting, Pura Gading Wani dan Pura Ratu Gede Dalem Ped. Setiap persembahyangan di Pura Ratu Gede Dalem Ped ini, Umat Hindu mendapatkan gelang tridatu (hitam, merah, putih). Setelah itu, persembahyangan diakhiri di Pura Luhur Rambut Siwi.

Setelah persembahyangan selesai, bus kami kembali melaju untuk melompati Selat Bali atau bersiap menuju Ketapang. Angin dan gelombang Selat Bali saat itu bisa dikatakan cukup keras, karena kapal yang kami tumpangi cukup keras bergoyang, dan ada yang mabuk. Penyebrangan tidak menyenangkan selama kurang lebih 45 menit itu akhirnya berakhir dan kami tiba di Banyuwangi. Di sini kami melakukan santap siang dan beristirahat sejenak sebelum melakukan perjalanan menuju Pura Agung Blambangan. Perjalanan kembali berlanjut menuju Blambangan dan sedikit nasib sial menimpa kami, sopir busnya lupa jalan ke Blambangan 😐 . Namun, setelah sempat berbalik arah dan kami sedikit tertolong karena rombongan bus dari salah satu dinas di Pemerintah Kota Denpasar tepat berada di depan kami, jadilah bus kami menguntit bus di depannya :mrgreen: 😆 Dan kami tiba di Pura Agung Blambangan sekitar pukul 1-2 siang waktu Banyuwangi. Kesan pertama saya tiba disana adalah penuh banget dan semua bus yang nangkring di sana dari Pemerintah Kota Denpasar. Saya juga dapat kabar bahwa ketika rombongan kami tiba di Pura Agung Blambangan, Bapak Walikota Denpasar, Mr. Rai Dharma Wijaya Mantra sedang berada di tengah Selat Bali, awalnya saya kira beliau ke Blambangan menggunakan pesawat (via Surabaya) ternyata lewat darat juga.

Pura Agung Blambangan

Pura Agung Blambangan terletak di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Jawa Timur, sekitar 30 km dari Banyuwangi. Pura Agung Blambangan merupakan pura terbesar di Banyuwangi yang merupakan bagian dari Kerajaan Blambangan. di Pura Agung Blambangan terdapat Umpak Songo atau tumpukan sembilan batu yang mirip anak tangga dan setelah digali ternyata lebih mirip candi yang ditemukan pada tahun 1916 oleh Mbah Nadi Gde, warga Bantul, Yogyakarta. Pura Agung Blambangan ramai dikunjungi setelah Hari Raya Kuningan, terutama pada Umpak Songo untuk melakukan persembahyang dan memohon air suci (nuur tirta). Di areal Pura Agung Blambangan ini, saya bertemu dengan beberapa penduduk sekitar yang memeluk Agama Hindu. Pakaian mereka berbeda dengan pakaian Umat Hindu Bali, mereka lebih mirip aliran Kejawen, dan selain menggunakan Bahasa Sansekerta dalam berdoa, mereka juga menggunakan Bahasa Jawa. berbeda dengan Umat Hindu Bali yang seluruhnya menggunakan Bahasa Sansekerta.

Setelah seluruh rangkaian persembahyangan di Pura Agung Blambangan selesai dan Umat Hindu juga telah berganti pakaian,perjalanan dilanjutkan menuju Lumajang. Perjalanan menuju Lumajang memerlukan waktu sekitar 4 jam. Rombongan kami tiba di areal Pura Mandhara Giri Semeru Agung pukul 10 malam. Jalan kecil di areal pura penuh sesak, tidak hanya oleh bus-bus rombongan Pemerintah Kota Denpasar serta beberapa Umat Hindu yang bersembahyang, tapi juga masyarakat sekitar yang sibuk menjajakan dagangannya. Karena kelelahan, kami langsung menuju hotel tempat kami menginap. Para perempuan di dalam rombongan kami tidak ada yang mau kamar di pojok, termasuk saya tentunya. Maaf ya, tapi saya selalu bermasalah dengan kamar di pojok itu, dan itu cerita lain untuk saat ini 😀

21 Juli 2011, pukul 10.00 Wib, Umat Hindu pada rombongan kami sudah bergerak menuju Pura Mandhara Giri Semeru Agung. Saya dan beberapa teman yang tidak ikut bersembahyang (karena haid dan sebel) menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar wilayah pura, apalagi kalau bukan memborong oleh-oleh. Tapi, tidak terlalu istimewa, yang ada di sini lebih banyak keripik dan bunga Edelweiss, bunga yang katanya merupakan lambang cinta sejati itu. Eh, tapi ada wayang kulit dan batu akik juga, tapiiii~ buat apa saya beli wayang kulit atau batu akik? Serem ah.

Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Setelah persembahyangan

Pura Mandhara Giri Semeru Agung

Pura Mandhara Giri Semeru Agung dibangun atas keinginan pemeluk Hindu di Lumajang dan sekitarnya sejak tahun 1969. Keinginan ini tampak bersambut dengan keinginan sejumlah tokoh Hindu di Bali, terutama sejak diadakan nuur tirta (memohon air suci) dari Bali langsung ke Patirtaaan Watu Kelosot, di kaki Gunung Semeru, berkaitan dengan diaturkan upacara agung Karya Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih, di lambung Gunung Agung, Bali, Maret 1963. Kegiatan nuur tirta ke Watu Kelosot itu kembali dilakukan pada tahun 1979 berkaitan dengan digelarnya lagi upacara Ekadasa Rudra di Pura Agung Besakih. Pada akhir rangkaian Ekadasa Rudra tahun 1979 ini bahkan juga dilakukan upacara majauman ke Patirtaan Watu Kelosot. Sejak itu dimulailah tradisi rutin nuur tirta saban kali di Besakih dan pura kahyangan jagat lain di Bali diaturkan upacara berskala besar. Kawasan Gunung Sumeru dengan mata air suci Watu Kelosot pun makin dikenal kalangan umat Hindu di Bali maupun di luar Bali. Sebelumnya manakala diaturkan upacara-upacara besar di tempat-tempat suci atau pura kahyangan jagat di Bali, para pandita atau sulinggih (pendeta) biasanya cukup hanya ngaskara ke Gunung Semeru, memohon ke hadapan Hyang Siwa Pasupati yang diyakini berstana di puncak Gunung Semeru. Seiring dengan kesadaran dan penghayatan umat Hindu terhadap ajaran agama, ditopang pula oleh kemajuan teknologi transportasi, nuur atau mendak tirta ke Gunung Semeru pun dilakukan langsung.

Perjalanan kami hampir berakhir, selesainya persembahyangan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung menandai berakhirnya waktu kami di bumi Lumajang, saatnya kembali ke Denpasar. Setelah puas berbelanja dan berkemas, bus kami berangkat menuju Denpasar. Kami berhenti untuk beristirahat di Pantai Pasir Putih Situbondo. Pantai yang mungkin dulunya tampak sangat indah, tapi kini yang terlihat hanya sisa-sisa keindahannya. Pasirnya tidak lagi putih seperti namanya, tetapi sudah mencoklat nyaris hitam. Garis pantainya menghilang, karena abrasi yang sangat parah. Tampaknya usaha menghambat abrasi tak berhasil baik, karena airnya bahkan nyaris menghancurkan tembok pembatas jalan. Dengan ombak yang cukup keras, pantai ini kekurangan bakau. Padahal kita semua tahu pohon Bakau adalah salah satu tumbuhan yang dapat mengurangi abrasi dengan cukup baik. Harapan saya pantai ini dapat kembali cantik seperti dulu dan sekiranya Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo mau sedikit menoleh untuk memperbaiki pantai ini, penanaman kembali pohon Bakau dan reklamasi pantai ini mungkin akan memberi sedikit perubahan pada wajah Pantai Pasir Putih yang kini tampak suram ini. Karena seharusnya pariwisata tidak hanya memberi manfaat kepada daerah tapi juga kepada alam, bukankah merawat alam berarti kita memberi kehidupan kepada generasi selanjutnya?

Pantai Pasir Putih Situbondo

Kami kembali berada di tengah Selat Bali yang tidak tenang dan dengan harapan kapal yang kami tumpangi dapat merapat dengan selamat di Gilimanuk. Setelah menjejakkan kaki kembali di tanah Bali dengan penuh rasa syukur mengingat angin dan gelombang yang cukup keras di tengah laut tadi, cacing-cacing akhirnya memutuskan untuk demo di dalam perut kami. Dan terdamparlah rombongan di Warung Bu Adi, salah satu restoran ayam betutu yang tidak direkomendasikan buat yang nggak berani pedas lho 😆 . Kami tiba di Denpasar tengah malam. Sebenarnya saya berani aja langsung pulang, tapi mengingat yang saya takuti bukan hantu/setan benera, tapi setan berwujud manusia, maka telah diputuskan saya pulang ke rumah teman terdekat dari kantor, baru keesokan harinya saya sampai di rumah *senangnya tiba di rumah, kangen banget sama kamarku :mrgreen:* dan langsung kerja hari itu juga *sungguh melelahkan* 😦

Inilah sedikit cerita tentang perjalanan singkat saya ikut napak tilas ke Lumajang. Pelajaran yang di dapat adalah bahwa perbedaan itu indah dan toleransi membuat kita bisa hidup dengan saling berpegangan tangan. Senang bisa hidup diantara perbedaan yang membuat kita mampu untuk mengormati orang lain. 😀
.
.
.
.
PS :
– Gambar Pura Luhur Rambut Siwi dan Pura Agung Blambangan diambil seenaknya dari google.
– Terima kasih kepada Parisadha Hindu Dharma untuk sejarah singkat Pura Mandhara Giri Semeru Agung.
– Terima kasih juga untuk teman-temanku yang mau menceritakan padaku tentang Pura Luhur Rambut Siwi dan Pura Agung Blambangan. 😉 😉 😉

Advertisements

8 thoughts on “Nganyarin Ring Pura Mandhara Giri”

  1. Waaaahhh, keren!
    Eh, tapi yang haid siapa Fit? Apa orang hindu pun kalo haid nggak boleh sembahyang ya?

    Ehem, betewe yang di pundak itu kain bali? #tantetantesukabelanja

  2. @ Uni Akiko

    Eh, tapi yang haid siapa Fit? Apa orang hindu pun kalo haid nggak boleh sembahyang ya?

    Temen. Yup, orang Hindu pun kalo haid nggak boleh masuk pura 😀

    Ehem, betewe yang di pundak itu kain bali? #tantetantesukabelanja

    Sayangnya bukan, itu pasmina. Kemarin rencananya mau pake kamen + kebaya, tapi berhubung ribet, nggak jadi deh 😛

  3. hehehe… iya.. daripada merana sendiri di kantor kan ya 😆
    tapi ada yang harus diluruskan, biaya untuk Persembahyangan di Lumajang itu nggak dianggarkan negara, tetapi diambil dari iuran sukarela pegawai di koperasi dinas yang bersangkutan 😛

  4. Inilah sedikit cerita tentang perjalanan singkat saya ikut napak tilas ke Lumajang. Pelajaran yang di dapat adalah bahwa perbedaan itu indah dan toleransi membuat kita bisa hidup dengan saling berpegangan tangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s