Feeds:
Posts
Comments

Hari ini adalah hari ketiga proyek sangkar Ara untuk melatih kefokusannya. Ara lebih bertipe kinestetik sehingga susah sekali diam maupun fokus. Dalam mengerjakan sesuatu sering kali Ara tiba-tiba beralih ke hal lain. Harapan saya proyek ini dapat melatih untuk bisa telaten dan sabar dalam melakukan kegiatan maupub pekerjaan. Fokus menjadi hal penting untuk bidang keahlian yang dipilihnya kelak. Karena seseorang yang fokus pada 1 jenis keahlian lebih baik daripada sekedar “bisa” dibanyak bidang keahlian.

Proyek sangkar masih tersisa 1,5 sisi sangkar. Yang setengah sisi adalah bagian depan sangkar (pintu) yang memang lebih sulit (saya aja kesulitan mengerjakannya). Seperti biasa sepulang sekolah Ara dan ayah pergi ke toko kecil kami yang berada di bagian depan rumah mertua saya. Sebelum mulai membantu ayahnya Ara minta makan. Ara terkadang masih disuapi kalau manjanya keluar. Kami sendiri tidak keberatan, karena kami sadar kehadiran adiknya membuatnya merasa disisihkan walaupun kami selalu berusaha tetap mengutamakan Ara dan tidak menyisihkannya.

Setelah ayah dan Ara makan. Ayah mulai merakit sangkar, sambil menawari Ara untuk melanjutkan proyeknya. Ara mulai memainkan jeruji yang akan dipasang dengan menghitungnya. Namun mentok sampai di hitungan 15 dan diulang lagi, karena memang Ara baru bisa sampai 15 😁. Sambil ayah bertanya tentang kegiatannya di sekolah, Ara mulai memasang jeruji pada sangkarnya. Ara bercerita kalau di sekolahnya hari ini ada latihan menari Bali. Dan ketika ayah memintanya untuk menunjukkan tarian yang dipelajarinya, Ara mengatakan kalau nanti tunggu bunda datang biar bunda lihat juga katanya 😀 (tetap ya harus nunggu bunda). Mengerjakan proyek sambil mengajaknya bercerita tentang kegiatanya di sekolah juga membantu Ara untuk tetap duduk di tempatnya, walaupu kadang-kadang Ara mengeluh kesulitan memasukkan jeruji pada lubang yang terlalu kecil dan meminta ayah untuk membantunya. Oh iya, Ara kami sekolahkan bukan karena kami berambisi, tapi karena tidak ada yang menemani Ara di rumah. Ibu saya (uti) menjaga anak kedua kami yang masih berusia 4 bulan, ibu tidak bisa menjaga 2 anak sekaligus. Akhirnya kami memutuskan untuk memasukkan Ara paud. Tapi Ara tidak mau bersekolah di semua sekolah yang kami tawarkan. Ara memilih untuk sekolah di tempat Yangtinya (ibu mertua saya) mengajar.

Dan tara setelah dari setengaj 11 pagi hingga setengah 4 sore, proyek sangkar Ara berhasil selesai, walaupun disambi main sepeda, main boneka, makan es krim, dan aktivitas lainnya. Setelah jadi, Ara minta sangkarnya nggak boleh dijual karena nanti kalau Ara sudah besar se-bunda atau se-tante dia akan membeli burung untuk dipeliharanya.

#Tantangan_Hari_Ke3

#KuliahBunsayIIP3

#Game_Level_3

#Kami_Bisa

Advertisements

Kegiatan hari ini masih merupakan sambungan kegiatan kemarin. Proyek membuat sangkar burung antara Ayah dan anak. Sebelumnya kami ingin mengatakan bahwa kami bukanlah pasangan yang “saklek” (apa ya bahasa Indonesianya?) Kaku mungkin ya kalau di-Indonesia-kan, bahwa istri/ibu harus selalu membersamai anak. Karena kami sama-sama bekerja, jadi kami sebisa mungkin berbagi dalam urusan domestik termasuk dalam membersamai anak-anak. Maka yang melakukan misi kali ini adalah ayah dan Ara, karena memang ayah yang bisa merakit sangkar 😅. Saya bagian menulis laporannya 😁.

Setelah makan siang, ayah kembali mengajak Ara untuk melanjutkan proyek merakit sangkar kecilnya. Ara bersedia namun dengan satu permintaan kalau nanti sangkarnya harus diisi burung. Ara mau peliharaan katanya. Ayah bercerita kepada saya soal keinginan Ara untuk memelihara binatang. Saya kemudian bertanya kepada Ara tentang keinginannya “Bunda dengar Ara ingin pelihara burung ya?”. “Iya, Cha mau pelihala bulung yang kecil aja, kan Cha masih kecil” jawabnya. “Boleh, kalau Cha mau pelihara. Bunda mau tanya, kalau Cha pelihara burung, Cha mau apain burungnya?” Tanya saya. “Cha mau ajak main, bial bunyi-bunyi bulungnya, bial adik Dhila nggak nangis kalo mimik susu”. “Wah Cha sayang banget ya sama adik” tanyaku. “Iya dong bunda” jawabnya. “Tapi Cha tau nggak, kalau Cha mau pelihara binatang, burung, kucing, kelinci, apapun itu bunda ijinkan asal Cha bisa rawat, kasih makan, bersihin kandangnya, mandiin, dan diperiksa kesehatan binatangnya teratur. Kita nggak boleh pelihara cuma karena lucu dan suka lihat aja” Saya menjelaskan panjang lebar, entah Ara paham seluruhnya atau tidak. Harapan saya, Ara nantinya paham dan mengerti ada kewajiban yang harus dikerjakan jika ingin memelihara binatang. Bukan hanya sekedar karena lucu atau ikut-ikutan teman-temannya punya peliharaan.

Ayah dengan telaten menemani Ara merakit sangkarnya. Ternyata kegiatan ini mampu membantu fokus Ara dalam mengerjakan sesuatu. Ini juga membantu Ara untuk melupakan kesenangannya bermain game di hape. Dan hari ini Ara mampu menyelesaikan 1 sisi sangkar. Ayah pun tak memaksanya untuk menyelesaikan seluruh sisi sangkar, Ara bilang ia capek dan akan melanjutkan merakit sangkar besok. Selain merakit sangkar, Ara pun sering ikut ayahnya berjualan sangkar burung dan menyuplai ke beberapa toko sangkar burung.

#Tantangan_Hari_Ke2

#KelasBunsayIIP3

#Game_Level_3

#Kami_Bisa

Sebenarnya tugas kali ini sudah dimulai sejak tanggal 4 Januari kemarin. Tapi apa daya saya terlalu sibuk mondar-mandir seperti setrikaan sampai tidak sempat memulai mengerjakan tugas. Akhirnya karena aktivitas saya yang sedang meningkat, saya cukup kesulitan untuk menulis laporan game level 3 di hari yang sama. Saya memutuskan untuk menulis laporannya sehari setelahnya.

Hari pertama game level 3 ini, suami saya dan Ara mencoba melatih fokus Ara. Selama ini Ara tidak bisa fokus mengerjakan sesuatu, perhatiannya cepat teralihkan ke hal-hal lain. Permainan kali ini adalah membuat sangkar burung. Kebetulan suami sedang memulai usahanya di bidang persangkaran dan segala pernak-perniknya.

Selepas menjemput Ara sekolah, Ayah mulai membuka toko sangkar kami. Sembari menunggui toko, ayah merakit sangkar burung. Biasanya ayah merakit tiang-tiang penyangga sangkar burung agar nantinya tinggal merakit jeruji sangkar. Kali ini ayah meminta Ara membantu merakit sangkar. Sebagai percobaan pertama, sangkar kecil lah yang diberikan kepada Ara, selain lebih sedikit jeruji yang harus dipasang juga karena ukurannya pas untuk Ara kerjakan sambil duduk.

Ayah memberi contoh memasang beberapa jeruji pada sangkar kecil Ara. Selanjutnya Ara diminta mencoba mengikuti langkah-langkah ayah dalam memasang jeruji. Awalnya Ara cukup kesulitan untuk memasang karena lubang-lubang untuk memasukkan jeruji cukup kecil. Namun perlahan tapi pasti Ara dapat memasanh jeruji sangkar dengan cukup baik.

Setelah memasang 5 jeruji, Ara bilang bahwa dia lelah. “Ayah, Cha capek bikin sangkar, Cha mau main”. Dan si bocah hanya mampu mempertahankan fokusnya di 5 jeruji. Ara sudah sibuk mondar-mandir naik sepeda. Tidak berapa lama, Ara balik lagi dan bilang mau bantu ayah bikin sangkar lagi. Ara duduk manis dan melanjutkan memasang jeruji pada sangkar kecilnya yang sengaja dibiarkan ayahnya untuk diselesaikan Ara.

Dapat 5 jeruji Ara kembali bosan dan kembali main dengan sepedanya. Begitu terus hingga beberapa kali. Namun akhirnya Ara mampu memasang jeruji pada setengah sisi sangkar tanpa berkata bosan. Jadi hari ini Ara dapat memasang jeruji pada 1,5 sisi sangkar. Pencapaian yang cukup baik bagi Ara yang biasanya tidak mau fokus pada 1 kegiatan. Insya Allah besok Ara dapat menyelesaikan pemasangan jeruji di keempat sisi sangkar.

NB :

Akhirnya laporan hari pertama terkirim. Padahal sudah sejak pagi tadi draft-nya ditulis.

#Tantangan_Hari_Ke1

#KelasBunsayIIP3

#Game_Level_3

#Kami_Bisa

Negosiasi

Setelah beberapa hari Ara bangun pagi nggak pake nangis, eh pagi ini bangun tidur langsung nangis. Ayahnya sudah bilang kalau saya lagi masak, tapi Ara tetap nangis minta sama saya. Akhirnya ayah menggantikan saya masak dengan petunjuk dari saya. Setelah proses negosiasi yang alot dengan Ara, akhirnya Ara setuju untuk ikut saya ke dapur kalau nggak mau saya tinggal masak. Jadilah pagi ini Ara ikutan masak, saya beri dia sedikit sayuran dan bawang untuk dia potong-potong dan ulek-ulek dengan ulekan kecilnya (aslinya ulekan kecil ini buat bundanya bikin bumbu rujak 😁).

Saat adzan subuh berkumandang tepat saya juga telah selesai masak. Saya bertanya pada Ara, apakah dia mau mandi duluan atau adiknya duluan. Ara menjawab bahwa adiknya yang mandi duluan. Jadi setelah melaksanakan Sholat Subuh saya langsung memandikan Dhira terlebih dahulu. Ara yang melihat adiknya saya pijat otomatis minta dipijat juga seperti adiknya. Setelah saya memijat Ara, Ara kemudian mandi sendiri sambil saya perhatikan dan sedikit koreksi bagian mana yang belum dia bersihkan. Kalau untuk sikat gigi, saya masih membantunya. Setelah saya selesai menyilat giginya, Ara langsung meminta untuk menyikat giginya sendiri. Hari ini Ara minta sarapan roti dengan selai cokelat, nggak mau sarapan nasi katanya. Okelah saya siapkan yang dia inginkan, sambil memperhatikannya merapikan tas sekolahnya. Memasukkan bekal makan dan minumannya serta semua mainan yang bisa dimasukkan ke dalam tas 😂. Saya mengatakan kalau Ara boleh bawa 1 jenis mainan saya, tidak boleh bawa banyak-banyak. Ara minta 3, saya tetap bilang 1. Akhirnya Ara minta 2 saja, dan setelah saya pikir bolehlah toh Ara sudah mengalah dengan mengurangi mainan yang ingin dia bawa. Dan disetujui Ara boleh bawa 2 jenis mainan yang kecil ke sekolah. Saat akan berangkat, saya meminta Ara menggunaka sandal karena hari ini hujan deras. Ara bertanya “nggak pake sepatu bunda? Cha kan mau sekolah”. Saya jawab “Hari ini Cha boleh pakai sandal, hujannya deras sekali”. Di sekolahnya semua sandal dan sepatu wajib dilepas, jadi murid-murid tidak ada yang menggunakan alas kaki di kelas.

Sepulang sekolah Ara juga kehujanan dan sampai rumah dalam keadaan basah kuyup (padahal pakai jas hujan). Sampai rumah dan ganti baju, Ara minta ke rumah kakungnya untuk makan. Jadilah dia diantar ayahnya ke rumah kakungnya cuma untuk makan siang. Dan makan sendiri tentunya 😁. Diajak pulang ayahnya nggak mau, minta nunggu saya dan dijemput saya katanya. Saat jam kantor selesai (untung nggak lembur) saya langsung menjemput Ara di rumah kakungnya. Diperjalanan pulang, Ara minta mampir ke alfamart untuk beli jajan katanya. Saya mampirin dan bertanya mau beli apa, Ara cuma bilang beli jajan enak (jajan apa coba). Sampai di dalam Ara minta beli 2 jenis snack, saya bilang boleh belo 1 aja. Dia tetap minta 2, saya bilang Ara beli 1 atau tidak beli sama sekali. Akhirnya Ara mau beli 1 jenis snack, ya mungkin dia berpikir daripada nggak beli sama sekali 😂

#Hari12

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunsayIIP

#MelatihKemandirian

Berani Bicara

Hari minggu adalah hari bangun agak siang buat saya. Yang biasanya saya bangun 03.30 pagi jadi mundur sejam 04.30 pagi. Ya karena Saya, suami dan Ara pada libur jadi tidurnya dipanjangin dikit (tidur saya maksudnya 😁). Pagi ini rencananya mau anter Ara ke Masjid Sudirman karena sekolahnya sedang ada lomba di sana. Eh Aranya kagak mau, Ara nggak mau ikutan lomba mewarnai maupun fashion show. Katanya dia mau ikut lomba lari, nah masalahnya nggak ada lomba lari. Setelah dijelaskan, anaknya memilih nggak mau ke sana (padahal bundanya pengen karena ada bazar dan bisa cuci mata sekalian dong ya).

Pagi ini Ara ikut ayahnya ke rumah kakungnya, ayahnya mau renovasi kios di depan rumah kakung, mau nyemen-nyemen dikit. Ya sudah berangkatlah itu ayah anak tanpa mandi dulu. Katanya entar juga kotor lagi 🙈. Menurut laporan ayahnya, Ara ikut bantuin nyemen, entah bagaimana jadinya dah itu proyek semen-menyemen dan setelah kotor semua kena semen (tapi kalo nggak kotor nggak belajar kan ya) Ara baru mau mandi. Mandi sendiri pake air dingin. Cuma di rumah kakungnya nih Ara mau mandi pake air dingin 😑

Ara dan ayahnya pulang sebelum adzan Dhuhur, karena akan ada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di perumahan kami. Selepas Dhuhur kami berangkat ke tempat acara Maulud Nabi, di sana Ara rajin amat ngerapiin sandal-sandal para jamaah yang berserakan serta nggak lupa negurin orangnya yang asal-asalan naruh sandal. Saya liatnya pengen ketawa karena berani betul itu bocah, dan yang ditegur pun manut aja gitu sama Ara lalu meletakkan sandalnya dengan benar. Sayang saya nggak sempat ngerekam kejadian ini karena rempong gendong bayi dan hapenya di tas 😀. Selain berani negur, Ara juga berani ngomong ke orang lain saat menginginkan sesuatu, biasanya ngekor aja gitu sama bundanya dan selalu bilang kalau bunda aja yang bilangin. Tapi barusan, saat Ara mau kue mendut seperti yang teman-temannya makan, dia bilang “Bunda, Cha mau kue itu”. Saya jawab aja “Nah tuh di depan ada kakak sama bude yang jaga kue, Cha bilang ke budenya kalau Cha mau minta kue. Tadi Cha dikasih sama kakaknya nggak mau kan”. Ara menjawab iya dan langsung jalan ke tempat yang saya tunjukan, tapi sambil belok dulu ngerapiin sandal 😂. Saya perhatikan dari tempat saya duduk, kalau Ara bicara dan berhasil mendapat kue yang dia inginkan. Sama halnya saat anak-anak pada rebutan telur maulud, Ara yang lihat anak-anak rame langsung ikutan ngumpul. Ternyata anak-anak itu pada ngambilin permen lolipop di pohon telur. Ara nggak bisa ngambil karena permennya terlalu tinggi, lalu dia melihat ke arah saya dan bilang “bunda, pelmennya tinggi, Cha nggak sampe”. Saya hanya menjawab “minta tolong sama kakak di situ untuk ambilin” tanpa saya bangun dari tempat duduk saya. Saya mau lihat apakah Ara akan berani bicara. Ternyata Ara berani. Ara mencolek-colek tangan kakak di sebelahnya dan bilang “tolong ambilin pelmen untuk Cha”. Si kakak yang dicolek pun mengambilkan, dan saya lihat Ara tidak lupa mengucapkan terima kasih lalu dia kembali ke tempat saya. Saya tanya “Kok permen yang diambil, nggak ngambil telurnya?”. Ara menjawab “Telulnya nanti, sekalang pelmen dulu”. Okelah nak 😊

#Hari11

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunsayIIP

#MelatihKemandirian

Ara Hari ini

Hari ini Ara terlambat bangun. Tapi itu juga gara-gara bundanya telat bangun. Alarm sudah bunyi tetap aja nggak bangun 😂

Pagi ini Ara tetap konsisten untuk bangun pagi tanpa menangis dan mandi sendiri. Ara pun menyiapkan tasnya sendiri. Setelah selesai mandi, dia sibuk mencari mukenanya. Saat saya tanya sedang apa, Ara menjawab “Cha mau cali lukuh. Nanti sholat belsama di sekolah” . Berangkat sekolah pun Ara nggak rewel dan mau diantarkan oleh ayahnya, walaupun awalnya dia tetap minta saya yang mengantar. Namun setelah saya katakan bahwa adik sendirian di rumah dan uti sedang tidak ada, Ara mau mengerti dan bersedia berangkat bersama ayahnya. Karena saya libur, maka pulang sekolah saya ikut menjemput Ara. Dia terlihat senang. Dan sepanjang hari ini Ara alhamdulillah dapat melakukan semua kegiatannya sendiri seperti merapikan mainan di rumah kakungnya setelah dia bermain. Dia pun dengan senang hati menjaga adiknya saat saya minta bantuannya.

#Hari10

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunsayIIP

#MelatihKemandirian

Menjaga Adik

Kemarin Ara ngambul sama bundanya, hari ini sama ayahnya 😂

Bangun tidur langsung ogah digendong ayahnya, semua serba sama bunda. Tapi Alhamdulillah Ara tetap belajar mandiri. Bangun tidur langsung mandi sendiri tentu masih saya dampingi. Ke sekolah pun nggak rewel sama Yangtinya. Tapi ada laporan lucu dari ayahnya, saat di sekolah ada praktek sholat dhuha. Semua anak sholat di dalam kelas, nah karena Ara nggak mau sholat di belakang akhirnya Ara milih sholat di luar kelas sendirian. Ini anak karena selalu ikut sholat ayahnyake masjid jadi taunya dia kalau sholat di depan 🙈

Pulang sekolah nggak mau ke rumah kakungnya, minta pulang ke rumah katanya mau jagain adiknya. Beberapa hari ini Ara lebih mandiri walaupun masih sering saya atau ayahnya bantu. Makan siang pun selalu makan sendiri. Dan karena ini hari Jumat, tentu saja Ara ikut ayahnya sholat Jumat 😅 dan seperti biasa yang dibaca selama sholat adalah surat Al Fatihah dengan suara keras khas anak-anak 🙈

Sore selepas Ara main bersama teman-teman di sekitar perumahan, Ara juga mau mandi sendiri. Hari ini pun Ara membacakan buku cerita untuk adiknya. Setelah lelah membaca untuk dirinya serta membacakan cerita Ara tertidur (efek nggak mau disuruh tidur siang).

#Hari9

#Tantangan10Hari

#Level2

#KuliahBunsayIIP

#MelatihKemandirian