Indonesia, Just for Fun, My Diary, Travel

Kabur Sejenak dari Rutinitas

Beberapa hari yang lalu, akhirnya saya punya waktu untuk kabur sejenak dari rutinitas yang sedikit membosankan. Kali ini, saya kabur menuju Semarang. Rencananya sih nggak cuma Semarang, tapi juga Yogyakarta dan Solo. Tapi, apa daya pria hujan dan tuan angin membuat semua rencana jadi kacau balau, juga nii-chan yang hanya punya sedikit kesempatan untuk mengantar saya berkeliling. Jadi yang bisa dikunjungi hanya Semarang dan sedikit Yogyakarta. Ah tidak apalah kan yang penting saya tetap bisa liburan dan bertemu nii-chan juga keponakan saya yang lucu :mrgreen:

Lanjutin Bacanya….

Advertisements
Catatan Hidup, Just for Fun, Life, My Diary, Travel

Life in The Real World

Beberapa hari ini, saya benar-benar hidup di dunia nyata, kembali berinteraksi dengan mahluk Tuhan yang bernama Manusia, tanpa menyentuh komputer sekalipun apalagi internet. Dan sekarang, saya ingin berbagi cerita tentang hidup saya beberapa hari terakhir ini di dunia nyata :mrgreen:

06 Maret 2009

Seharusnya hari jumat menjadi hari pendek untuk menyambut weekend esok hari, tapi, jumat ini justru menjadi hari yang super sibuk, karena ada pengajian 40 hari untuk almarhum nenek saya. kerja kerja dan kerja, dari pagi sampai malam. Rencana mau ngenet malam hari gagal total, karena badan rasanya dah mo hancur, lagian sudah terlalu malam juga, karena besok kegiatan baru telah menanti.

Lanjut yukzzz

Indonesia, Just for Fun, Life, My Diary

Selalu Ada yang Baik

UAS telah selesai, senang? tentu saja. Tapi, tak berapa lama juga kesenangan itu bertahan, karena sebuah telpon dari saudara saya yang mengabarkan bahwa nenek saya meninggal. What, meninggal? 😯 reaksi standar plus ucapan “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Sedih? sedikit, hanya kaget saja, karena saya janji bakal pulang setelah sidang skripsi selesai, ternyata nenek saya duluan dipanggil Allah. Mungkin tingkat kesedihan saya yang tergolong kecil ini karena saya sangat super jarang ketemu nenek saya yang satu ini, tapi ini masalah lain. Akhirnya, saya dapet tiket untuk berangkat menuju Malang besok sorenya.
Lanjutin Bacanya

Bali, Just for Fun, My Diary, Travel

Jalan-jalan yukzzzzzzzz

Akhirnya liburan usai sudah, saatnya kembali berkutat dengan segala aktivitas yang monoton. Tapi saya punya sedikit oleh-oleh dari liburan yang singkat ini, walaupun sedikit namun cukuplah untuk mengistirahatkan otak saya dari berpikir serius. Ya udah tak usah banyak basa-basilah, langsung lihat laporanku tentang liburan hari ini. Let’s start it…..
Lanjutin bacanya

Bali, Just for Fun, My Diary

Libuuurrrrrr…….

Senengnya sudah libur…. :mrgreen: eh salah masih libur maksudnya 😆 . Saatnya mengisi ulang daya hidup tubuh setelah melakukan semua aktivitas yang memberatkan badan dan otak saya. Awalnya berencana untuk nggak bakal online sampai liburan selesai, tapi apa daya tangan ini gregetan kalau tidak mengkoneksikan komputer ke internet  :mrgreen: . Akhirnya yang terjadi malah bikin postingan nggak penting macam ini 🙂  halah biarin ajah dech….

Sudah ah capek, saya mo liburan lagi….. :mrgreen:
*mo diajakin ke trunyan ma temen-temen*
*berani ga ya…?*
😕 😕 😕

Oya lupa sekalian mo ngucapin
Selamat Tahun Baru 2009
buat semua manusia di dunia blogsepere :mrgreen:

Bali

Brahmavihara – Arama

Objek wisata Brahmavihara – Arama termasuk ke dalam wisata budaya. Brahmavihara – Arama lebih dikenal dengan nama Wihara Buddha Banjar yang merupakan Vihara Buddha terbesar di Bali. Brahmavihara – Arama terletak di desa Banjar Tegehan Kecamatan Banjar, 22 Km sebelah Barat Singaraja dan 11 Km dari kawasan wisata Lovina. Jalan menuju Vihara ini teraspal baik, bisa dilalui kendaraan kecil maupun besar. Dengan suasana sepi dan tenang serta dapat memandang langsung ke pantai Lovina sebagai kawasan wisata di Buleleng, membuat Vihara Buddha ini sebagai daya tarik yang kuat bagi wisatawan mancanegara maupun domestik. Gaya bangunan dan ornamennya yang mencerminkan arsitektur dan wajah Bali dengan tetap menonjolkan fungsi bangunan sebagai Vihara Buddha seperti bangunan stupa dan patung-patung Buddha pada umumnya dan arti tiap-tiap sudut pada khususnya.

Brahmavihara – Arama didirikan tahun 1969 dan selesai dalam tahun 1970, diresmikan sekitar tahun 1973. Sebelumnya telah berdiri vihara yang berlokasi di Air Panas Banjar yang pada saat itu “upcaka” (pengikut) nya sangat terbatas yaitu sekitar 25 orang. Vihara ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 1 Ha, dan sedang diadakan perluasan untuk pembangunan Borobudur dalam bentuk miniatur di sebelah Selatan vihara. Vihara ini terdiri dari 5 komponen penting, yaitu :

a. Uposatha Gara

Terletak di puncak sebelah Barat, sebuah ruangan yang nyaman dan tenang, pada dinding-dindingnya terpahat panel kelahiran Sang Buddha, dan di tengah-tengah terdapat patung Sabg Buddha dalam keadaaan mencapai “Sama Sang Buddha” (Nirwana). Rungan ini fungsinya untuk penasbihan para bhiku samanera (calon bhiku) yang merupakan tahap awal untuk mengikuti latihan tahap berikutnya. Di tempat ini pula para bhiku mengucapkan sumpah dan janji.

b. Dharmasala

Semacam ruang kuliah yang terletak di sebalah Timur. Di tempat ini para bhiku melakukan kebaktian, memberi khotbah-khotbah, dan tempat ini uga dimanfaatkan sebagai tempat untuk melakukan segala aktivitas spiritual.

c. Stupa

Sebuah bangunan yang bentuknya menyerupai lonceng raksasa yang terletak di sudut Barat Laut, yang seluruh sisi-sisinya berisi relief yang sangat mengaumkan. Konon di dalam stupa ini tersimpan benda-benda sakral milik Sang Buddha, antara lain “Relik” yaitu sebuah benda yang berkilauan dan tahan api.

d. Pohon Bodi

Di sudut Barat Daya bangunan terdapatpohon besar yang disebut pohon bodi, yang di sekitar pohon tersebut dihias dengan relief. Tempat ini merupakan simbul kemenangan Sang Buddha pada waktu beliau mencapai Sammia Sang Buddha (kesempurnaan abadi). Di tempat ini umumnya para pengunjung melakukan meditasi, terutama pada hari Waisak atau Asada.

e. Kuti

Di komplek vihara terdapat beberapa ruangan yang disebut kuti. Kuti merupakan tempat tinggal para bhiku maupun para siswa yang sedang menuntut ilmu dan kadang kala tempat ini juga dipergunakan sebagai tempat latihan para bhiku

Di komplek vihara terdapat beberapa patung Buddha yang menghiasi setiap sudut taman maupun ruangan. Diantaranya terdapat dua buah patung Buddha yang sangat menarik yaitu patung Parinirwana dan patung Buddha sebagai Sang Buddha. Kedua patung ini dibuat dari perunggu berlapis emas yang merupakan sumbangan dari Thailand dan Sri Langka sekitar 1977. Masing-masing patung ini ditempatkan di dalam ruangan yang berbeda. Patung Parinirwana menggambarkan Sang Buddha dalam keadaan meditasi mengosongkan raganya. Patung Buddha sebagai Sang Buddha menggambarkan Sang Buddha sedang mencapai sama atau moksa dalam istilah agama Hindu. Sedangkan patung-patung lainnya yang tersebar di taman menunjukkan adanya 31 alam kedudukan di luar Nirwana, semuanya terbuat dari batu pedas dan beton.

Upacara di vihara ini biasanya dilakukan dalambulan Mei yang pada hari yang sama dilakukan 3 upacara, yaitu :

a. Kelahiran Sang Buddha pada saat bulan purnama siti waicaka puja.

b. Pencapaian sama Sang Buddha mencapai Nirwana dan kebebasan yang sempurna.

c. Parinirwana yaitu Sang Buddha mencapai keabadian.

Bali

Purancak

Purancak terletak di bagian Selatan Bali Barat, kira-kira 10 Km Barat Daya Desa Tegalcangkring, termasuk wilayah Kecamatan Negara Kabupaten Jembrana. Dari Kota Denpasar menempuh jarak 96 Km mengikuti jalan raya jurusan Denpasar-Gilimanuk. Sampai di pertigaan jalan Desa Tegalcangkring lalu membelok ke arah kiri (Selatan) dengan menempuh perjalanan 10 Km. Keadaan jalannya baik dan bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor.

Pada ujung Barat Desa Purancak terdapat sebuah pura yang bernama Pura Purancak. Pura menghadap ke arah Barat dengan panorama sungai Purancak yang panjang dan lebar, sehingga menjadi daya tarik yang kuat. Air sungai sangat tenang seperti kolam, dan di seberang sungai tampak perladangan yang ditumbuhi pohon-pohon pantai yang berjajar. Di dalam sungai dahulu terdapat banyak buaya sehingga Jembrana terkenal dengan buayanya. Namun buaya-buaya yang dahulu ada itu kini sudah punah. Kurang lebih 250 meter di sebelah Selatan Pura Purancak terbentang lautan yang membiru, dan di kejauhan seberang lautan tampak gugusan pulau Jawa bagian Timur. Sementara di sebelah kanan muara sungai terlihat rumah-rumah tradisional yang menjorok ke laut disertai dengan deretan pohon-pohon kelapa melambai-lambai karena tiupan angin laut. Jika pengunjung ingin menikmati keindahan alam sekitarnya, di muara sungai Purancak ada yang menyewakan jukung untuk lalu lintas sungai. Kurang lebih 1 Km ke arah Timur laut pura mengikuti jalan raya, pengunjung akan menjumpai papan bertuliskan “The road to Buffalo face” dan dari sini kita membelok ke arah Utara untuk sampai di Taman Wisata Tibukleneng Purancak.

Pura Purancak didirikan sekitar abad XVI yang dikaitkan dengan perjalanan Sang Hyang Nirartha di Bali dari Blambangan Jawa Timur. Di tempat inilah beliau dahulu pernah beristirahat dan berteduh di bawah pohon Ancak, ditemani oleh beberapa orang pengembala sapi. Kemudian di tempat ini dibangun sebuah pura bernama Pura Purancak. Di tempat inilah beliau pertama kali mendarat, sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah lainnya di Bali.

<

Seperti pada umumnya pura-pura di Bali, Pura Purancak mempunyai struktur halaman yang terbagi atas tiga bagian, yaitu halaman luar (jabaan), halaman tengah (jaba tengah), dan halaman dalam (jaba jeroan) sebagai halaman tersuci. Pada masing-masing halaman terdapat beberapa buah bangunan, yaitu 5 buah bangunan di halaman luar, 2 buah bangunan di halaman tengah, dan di halaman dalam terdapat 14 buah bangunan suci. Antara halaman luar dengan halaman tengah dihubungkan oleh candi bentar sedangkan yang menghubungkan halaman tengah dengan halaman dalam adalah candi kurung atau Kori Agung.

Diantara semua bangunan suci yang terdapat di halaman dalam pura, pelinggih utamanya adalah sebuah meru tumpang tiga yang terdapat di tengah-tengah pada deretan pelinggih di sebelah Timur. Meru ini adalah bangunan suci untuk menghormati roh suci Sang Hyang Nirartha. Dengan demikian fungsi utama dari Pura Purancak adalah sebagai tempat memuja kebesaran rohaniawan Sang Hyang Nirartha yang lebih dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rauh. Apabila dilaksanakan upacara piodalan Agung (pada Buda Manis Medangsia), selain masyarakat Kabupaten Jembrana, datang pula masyarakat penyiwi dari Kabupaten lainnya. Mereka berduyun-duyun datang untuk menghaturkan sembah dan sujud bakti kehadapan Tuhan Yang Maha Esa khususnya kehadapan Bhatara Sakti Wawu Rauh. Pada saat inilah Pura Purancak amat ramai dipernuhi oleh umat yang ingin menghaturkan bakti demi keselamatan dan ketentraman mereka. Berdasarkan fungsinya tersebut maka status Pura Purancak tergolong sang Khayangan.

Di Pura Purancak tersimpan sebuah pratima (benda yang disakralkan) yang terbuat dari kayu cendana setinggi kurang lebih 21 cm, berbentuk seseorang yang sedang duduk bersila dengan kedua tangannya berada di dada. Pratima ini memakai hiasan emas pada tangan, kaki,dan leher, serta kepalanya memakai mahkota (ketu).